Menelusuri Wisata Heritage di Malang dan Bantul, Jejak Sejarah yang Masih Hidup
Wisata warisan budaya kini menjadi pilihan menarik bagi pelancong yang ingin merasakan jejak sejarah dan kehidupan tradisional Indonesia secara langsung.
Dua destinasi yang menonjol adalah Kampung Heritage Kayutangan di Kota Malang dan Desa Wisata Wukirsari di Kabupaten Bantul DIY, keduanya mendapat perhatian karena upaya pelestarian budaya yang kuat dan nilai pengalaman yang ditawarkan.
Kayutangan Heritage, Jejak Sejarah di Tengah Kota Malang
Kampung Heritage Kayutangan adalah salah satu kawasan heritage yang tengah berkembang sebagai destinasi budaya di Kota Malang, Jawa Timur.
Kawasan yang dulunya merupakan pusat bisnis era kolonial ini kini menjadi magnet bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah kota.
Di sinilah bangunan-bangunan tua berarsitektur kolonial Belanda berdiri berdampingan dengan suasana urban kontemporer, menciptakan pengalaman wisata yang unik antara masa lalu dan kini.
Dilansir dari Antara News, kawasan ini telah dikunjungi sekitar 773.393 wisatawan pada 2024, menunjukkan tingginya minat publik terhadap heritage budaya.
Selain berjalan-jalan di jalanan bersejarah, pengunjung juga dapat mencicipi kuliner khas, berbelanja suvenir lokal, atau menikmati berbagai event budaya dan festival yang kerap digelar di kawasan ini.
Pendekatan seperti ini menjadikan Kayutangan bukan hanya sebagai tempat foto estetik, tetapi sebagai “museum hidup” yang interaktif dan ekonomis bagi wisatawan.
Desa Wisata Wukirsari, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Minggu (28/5/2023).
Desa Wisata Wukirsari, Warisan Budaya yang Mendunia
Sementara itu, Desa Wisata Wukirsari di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membawa nuansa heritage yang lebih tradisional dan menyeluruh.
Desa ini tidak hanya sekadar menyimpan budaya lokal, tetapi telah diakui secara internasional sebagai salah satu desa wisata terbaik di dunia.
Menurut laporan resmi pemerintah daerah dan dilansir dari ANTARA News, Wukirsari berhasil meraih penghargaan “The Best Tourism Village 2024” dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO).
Penghargaan ini diberikan karena keunikan budaya lokal, keberlanjutan lingkungan, serta inovasi pengembangan wisata yang selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Desa ini dikenal dengan batik tulis tradisional, kerajinan wayang kulit, serta pola hidup masyarakat pedesaan yang masih lestari.
Selain itu, terdapat juga atraksi wisata religi dan alam seperti makam raja Imogiri serta kawasan pesisir Sungai Opak, yang memperkaya ragam pengalaman bagi pengunjung.
Menghubungkan Masa Lalu dan Masa Kini
Kedua destinasi ini menunjukkan bahwa wisata heritage bukan sekadar perjalanan nostalgia, tetapi juga pengalaman interaktif yang menghubungkan masyarakat dengan akar budayanya.
1. Di Kayutangan Heritage, wisatawan bisa merasakan perpaduan sejarah perkotaan dan kehidupan modern serta melihat bagaimana komunitas setempat menghidupkan kembali ruang-ruang bersejarah.
2. Di Wukirsari, pengunjung diajak menyelami cara hidup tradisional yang masih terpelihara, termasuk seni batik dan pertunjukan budaya lainnya yang menjadi bagian dari keseharian warga.
Kedua lokasi ini sejalan dengan tren wisata terkini yang kian banyak meminati destinasi yang “bercerita”—bukan hanya sekadar pemandangan.
Melalui heritage, sejarah dan budaya lokal tidak hanya dipelihara, tetapi juga dibagikan kepada generasi baru wisatawan dengan cara yang segar dan relevan.
Tag: #menelusuri #wisata #heritage #malang #bantul #jejak #sejarah #yang #masih #hidup