BI Kucurkan Rp 427,5 T Insentif Likuiditas, Terbanyak buat Bank BUMN
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat memberikan sambutan di Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 Jumat (28/11/2025). (Dok. Screenshoot Youtube BI)
07:04
20 Februari 2026

BI Kucurkan Rp 427,5 T Insentif Likuiditas, Terbanyak buat Bank BUMN

- Bank Indonesia (BI) mencatat, telah mengucurkan Rp 427,5 triliun ke perbankan untuk insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) pada pekan pertama Februari 2026.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, implementasi insentif likuiditas atau KLM telah diperkuat sejak 16 Desember 2025 untuk turut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Setelah diperkuat, KLM diarahkan untuk mendorong penyaluran kredit atau pembiayaan perbankan kepada sektor tertentu yang ditetapkan BI melalui lending channel.

Selain itu, kebijakan tersebut juga memperkuat transmisi suku bunga kebijakan melalui interest rate channel, yakni dengan mendorong penetapan suku bunga kredit atau imbal hasil pembiayaan agar sejalan dengan arah suku bunga acuan BI.

Baca juga: BI Tambah Insentif Likuiditas Jadi Rp 423 Triliun Mulai Desember 2025, Ini Tujuannya

Dari total insentif KLM yang sudah disalurkan, alokasi terbesar disalurkan melalui lending channel sebesar Rp 357,9 triliun dan melalui interest rate channel sebesar Rp 69,6 triliun.

"Dengan penguatan KLM, insentif yang lebih tinggi diberikan bagi bank yang lebih responsif dalam menurunkan suku bunga kredit baru sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia," ujarnya saat konferensi pers RDG BI, Kamis (19/2/2026).

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan paling banyak kepada perbankan milik negara (BUMN) sebesar Rp 207,1 triliun.

Selanjutnya, bank umum swasta nasional (BUSN) menerima Rp 184,8 triliun, bank pembangunan daerah (BPD) Rp 28,5 triliun, dan kantor cabang bank asing (KCBA) Rp 7,1 triliun.

Sementara secara sektoral, KLM telah disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, mencakup sektor pertanian, industri, dan hilirisasi; sektor jasa termasuk ekonomi kreatif; sektor konstruksi, real estate, dan perumahan; serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan. 

Menurut BI, penguatan efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga perbankan perlu terus ditempuh guna makin mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sejauh ini penurunan BI Rate sebesar 125 basis poin selama 2025 dan ekspansi likuiditas moneter BI telah berdampak terhadap penurunan berbagai jenis suku bunga seperti suku bunga INDONIA dan SRBI serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Namun penurunan BI rate dan ekspansi likuiditas moneter BI belum signifikan menurunkan suku bunga perbankan.

BI mencatat, suku bunga deposito tenor 1 bulan baru turun 68 bps dari 4,81 persen pada Januari 2025 menjadi 4,13 persen pada Januari 2026

Sementara penurunan suku bunga kredit perbankan baru turun 40 bps dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,80 persen pada Januari 2026.

Oleh karenanya, BI menilai upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu terus ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan kredit lebih tinggi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 

Termasuk juga upaya untuk melanjutkan pengurangan pemberian special rate kepada deposan besar yang saat ini masih mencapai 26,42 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

Baca juga: BI Kucurkan Insentif Likuiditas Rp 23 Triliun untuk Bank Penyalur KPR

Tag:  #kucurkan #4275 #insentif #likuiditas #terbanyak #buat #bank #bumn

KOMENTAR