Begini Cara China Membangun Masa Depan AI yang Berbeda dari Barat
Ilustrasi pembangunan AI versi China versus Amerika Serikat.(Ilustrasi dibuat dengan AI)
09:42
26 Februari 2026

Begini Cara China Membangun Masa Depan AI yang Berbeda dari Barat

- Jika Anda mengikuti berita teknologi belakangan ini, narasinya hampir selalu sama dan mudah ditebak. Amerika Serikat sibuk menjegal ekspor chip, lalu China membalas dengan merilis model AI tandingan.

Banyak pengamat sibuk menebak siapa yang sedang "menang" dalam perlombaan kecerdasan buatan ini.

Isu paling krusial di era AI bukanlah siapa yang berhasil membuat model paling pintar. Pertanyaan sesungguhnya adalah apa yang ingin dicapai oleh sebuah masyarakat dengan kecerdasan tersebut.

Dalam hal ini, China tidak sekadar ikut-ikutan di lintasan yang dibuat oleh Barat. Mereka sedang membangun garis finisnya sendiri, seperti dirangkum KompasTekno dari Asia Times.

Di Silicon Valley, AI diperlakukan layaknya eksplorasi perbatasan baru (frontier). Ambisi terbesarnya adalah menciptakan General Intelligence yang bisa menyaingi atau bahkan melampaui kognitif manusia.

Pemerintah AS cenderung lepas tangan, membiarkan raksasa swasta memimpin inovasi dan berasumsi bahwa sektor ekonomi lain kelak akan beradaptasi dengan sendirinya.

Pertanyaan utama bagi China bukanlah seberapa pintar mesin bisa berpikir, melainkan bagaimana kecerdasan itu bisa dilebur dan ditanamkan ke dalam infrastruktur nasional.

Alih-alih berlomba menyuntikkan dana ke riset-riset "gila", China membalik logikanya. Sebelum AI bisa mengubah masyarakat, fondasinya harus dibangun lebih dulu.

Tidak heran jika uang triliunan rupiah digelontorkan untuk membangun pusat data super besar, membangun internet super cepat, hingga memperkuat jaringan listrik.

Ongkos membangun infrastruktur tersebut memang tak murah. Namun bayangkan keuntungannya nanti. Ketika fondasi kasar ini sudah mapan, langkah untuk menyuntikkan otak pintar AI ke sektor logistik, rumah sakit, bank, sampai tata kota jadi jauh lebih gampang dan murah.

Baca juga: 6 Teknologi AI China yang Tantang Dominasi AS

Akar filosofi

Untuk memahami jalan pikiran Beijing, kita mesti sedikit menengok ke belakang, tepatnya ke akar budaya mereka.

Ada dua filosofi kuno yang kental mewarnai cara mereka memandang teknologi masa depan, Konfusianisme dan Legalisme.

Ajaran Konfusius pada dasarnya mendambakan satu hal, yakni harmoni sosial. Semua orang punya porsi dan peran masing-masing.

Jadi, kehebatan AI di sana tidak diukur dari kemampuannya membebaskan berekspresi penggunanya. AI justru dinilai berharga kalau ia bisa meredam kekacauan dan menjaga tatanan masyarakat tetap rapi.

Nah, peran penegak aturannya diserahkan pada Legalisme. Prinsipnya simpel, tanpa aturan dan "tangan besi", sistem pasti bobrok.

Di sinilah algoritma masuk mengambil alih. Berbekal pantauan kamera pintar, skor kredit sosial, hingga prediksi risiko yang presisi, AI menyulap tugas mendisiplinkan jutaan warga menjadi sesuatu yang serba otomatis dan terukur.

Coba ingat-ingat lagi drama "penggembosan" bisnis raksasa teknologi macam Alibaba beberapa tahun lalu. Manuver pemerintah yang terkesan tiba-tiba itu sebenarnya adalah wujud nyata dari kombinasi dua filosofi tadi.

Baca juga: Bos Alibaba Jack Ma Hilang Setelah Mengkritik Pemerintah China

Ketika ada korporasi swasta yang kelewat raksasa sampai memonopoli urat nadi data dan uang rakyat, negara merasa wajib turun gunung demi mengembalikan harmoni.

Algoritma yang tadinya rahasia dapur perusahaan, seketika dipaksa buka-bukaan dan dilebur ke dalam cetak biru milik negara.

Menuju era negara prediktif

Rentetan kebijakan ini pelan-pelan melahirkan konsep pemerintahan baru yang sering dijuluki sebagai "Predictive State" atau Negara Prediktif.

Bedanya sangat kentara. Model pemerintahan tradisional umumnya reaktif, menunggu ada pelanggaran baru hukum bertindak. Sementara itu, negara prediktif mengandalkan AI untuk "meramal" dan memberantas sumber masalah bahkan sebelum sempat membesar.

Pemerintah menjaring lautan data dari identitas digital, riwayat transaksi dompet elektronik, hingga ribuan sensor di sudut jalan. Warga tak sekadar diawasi, tapi "dibaca" layaknya barisan kode komputer.

Bayangkan saja, kemacetan jalan tol bisa dicegah karena sistem sudah mengalihkan arus sebelum mobil menumpuk.

Bibit krisis perbankan langsung dipadamkan sebelum bikin pasar panik. Atau, potensi wabah penyakit dikarantina sebelum sempat menular ke kota sebelah.

Baca juga: Ketika Hukuman Amerika Jadi Pemantik Kebangkitan Teknologi China...

Bukan mengganti pekerja tapi menggeser peran

Visi yang beda haluan ini otomatis bikin nasib buruh dan pekerja kantoran di sana ikut berbeda.

Coba perhatikan perdebatan di AS atau Eropa, isinya pasti melulu soal ketakutan robot bakal merebut piring nasi manusia. Di China, pendekatannya lebih diarahkan pada perubahan fungsi.

AI dipakai buat mengurai keruwetan birokrasi, bukan langsung membuang manusianya. Pekerja pabrik, misalnya, tak lagi disuruh memanggul barang atau menjalankan mesin seharian. Tugas mereka bergeser menjadi mandor di depan layar dasbor.

Di rumah sakit, dokter memakai AI untuk memilah antrean pasien mana yang paling darurat. Keputusan akhir tetap di tangan manusia, dan sistem otomatis akan terus berjalan selama administrator tidak menemukan kejanggalan.

Baca juga: Di Balik Dominasi Teknologi China, Pendidikan Jadi Fondasi Utama

Tag:  #begini #cara #china #membangun #masa #depan #yang #berbeda #dari #barat

KOMENTAR