KNKT: GPS Pesawat ATR 42 yang Jatuh di Makassar Tak Akurat Sejak Berangkat dari Yogyakarta
– Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyoroti akurasi sistem navigasi satelit atau Global Navigation Satellite System (GNSS) dalam laporan awal (preliminary report) kecelakaan pesawat ATR 42-500.
Pesawat registrasi PK-THT yang dioperasikan PT Indonesia Air Transport (IAT) itu jatuh di Gunung Bulusaraung, Maros, Sulawesi Selatan, pada 17 Januari 2026.
Dalam dokumen bernomor KNKT.26.01.01.04 tersebut, sistem GNSS tercatat berada dalam kondisi “degraded” atau mengalami penurunan tingkat akurasi sejak awal penerbangan, atau berangkat dari bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta.
GNSS “degrade” sejak awal operasi
KNKT mencatat, saat Flight Data Recorder (FDR) mulai merekam data bersamaan dengan mesin dinyalakan, parameter GNSS Degrade sudah menunjukkan status degradasi.
Kondisi ini sempat kembali normal ketika pesawat melewati ketinggian 7.700 kaki. Namun, sekitar satu menit sebelum turun dari ketinggian jelajah 11.000 kaki, GNSS kembali mengalami degrade dan bertahan hingga akhir rekaman.
Baca juga: ATR Prediksi Penerbangan Regional Indonesia Booming 2036
Dalam situasi degraded, akurasi maupun integritas data posisi dari satelit terganggu. Prosedur mewajibkan kru melakukan verifikasi silang menggunakan alat navigasi konvensional atau metode alternatif apabila peringatan degradasi muncul.
ATR 42-500 tersebut menggunakan sistem GNSS tipe HT1000 Global Navigation Management System yang menyajikan informasi posisi tiga dimensi: lintang, bujur, dan ketinggian, kepada pilot melalui layar Electronic Horizontal Situation Indicator (EHSI) di kokpit.
Informasi GPS tidak akurat (Degrade/DGR) ditampilkan di layar EHSI di kokpit.
Perbedaan posisi pesawat, antara kokpit dan ATC
Temuan awal lain yang menjadi perhatian adalah adanya selisih data posisi pesawat antara yang terekam di FDR dan yang diterima sistem pengawasan darat Automatic Dependent Surveillance–Broadcast (ADS-B).
KNKT menjelaskan, koordinat yang tercatat di FDR merupakan posisi yang ditampilkan di EHSI kokpit. Sementara itu, data ADS-B digunakan oleh layanan lalu lintas udara untuk menampilkan target pesawat di layar pengawas ATC.
Pada tahap awal penerbangan, perbedaan posisi antara data FDR dan ADS-B sekitar 0,6 nautical mile (NM). Setelah GNSS kembali degrade dan pesawat terbang rendah untuk misi surveilans, lintasan kedua data tersebut mulai menjauh.
Baca juga: Membandingkan Jalur ATR42-500 vs Prosedur Approach Makassar: Keluar dari Koridor Aman
KNKT mencatat jarak antara lintasan versi FDR dan ADS-B meningkat secara bertahap hingga sekitar 17 NM sebelum rekaman FDR berakhir.
Perbedaan ini menunjukkan kemungkinan posisi yang dilihat pilot di kokpit berbeda cukup signifikan dibandingkan dengan yang ditampilkan pada sistem pengawasan ATC.
Perbedaan posisi masih terjadi menjelang pendekatan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.
Pada pukul 04.03 UTC, FDR mencatat pesawat berada sekitar 1 NM di barat waypoint DAKAD. Sementara itu, data ADS-B menunjukkan posisi sekitar 15 NM di tenggara waypoint yang sama.
Selisih sekitar 15 NM tersebut terjadi ketika pesawat bersiap melakukan pendekatan ILS Runway 21 di bawah panduan pengatur lalu lintas udara.
Masuk area minimum altitude tanpa alarm
Laporan awal KNKT juga menyebutkan bahwa pada pukul 04.20 UTC, target pesawat di layar ATC memasuki area dengan minimum safe altitude 8.000 kaki, sementara ketinggian pesawat sekitar 5.000 kaki.
Tim SAR Gabungan memeriksa serpihan pesawat ATR 42-500 milik IAT di Puncak Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026). Hingga saat ini tim SAR Gabungan masih berusaha mengevakuasi para korban kecelakaan pesawat yang terhalang oleh cuaca buruk. ANTARA FOTO/Muchtamir/Lmo. 5 Fakta Terbaru Kecelakaan Pesawat ATR 42 500: Kronologi, Penyebab, dan Lokasi Black Box
Namun, sistem Minimum Safe Altitude Warning (MSAW) tidak aktif pada saat itu.
Beberapa detik sebelum benturan, sistem Enhanced Ground Proximity Warning System (EGPWS) di pesawat mengeluarkan peringatan suara “TERRAIN – TERRAIN” yang disusul “PULL UP” sebanyak empat kali, sebelum rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) berhenti.
KNKT menegaskan laporan ini masih bersifat awal dan belum mencantumkan analisis maupun kesimpulan penyebab kecelakaan.
Penyelidikan lanjutan akan memfokuskan pada penyebab GNSS masuk mode degrade, perbedaan data posisi antara FDR dan ADS-B, serta faktor manusia dan organisasi yang mungkin berperan.
Seluruh 10 orang di dalam pesawat, dua pilot, dua awak kabin, dan enam penumpang, meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Laporan akhir KNKT akan diterbitkan setelah investigasi tuntas, dengan tujuan utama meningkatkan keselamatan penerbangan.
Laporan awal mengenai kecelakaan ATR 42-500 PK-THT di Makassar dapat diunduh melalui situs resmi KNKT.
Tag: #knkt #pesawat #yang #jatuh #makassar #akurat #sejak #berangkat #dari #yogyakarta