Pemulihan Lahan Tidur Dorong Ekonomi Desa Kalongliud
– Upaya pemulihan lahan tidur di Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, mulai menunjukkan dampak terhadap ketahanan pangan sekaligus penguatan ekonomi masyarakat desa setelah bencana alam dan tekanan ekonomi melanda wilayah tersebut pada 2020.
Saat itu, banjir dan longsor merusak jaringan irigasi desa secara menyeluruh.
Sekitar 150 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan, sementara puluhan petani dan ratusan buruh tani kehilangan stabilitas mata pencaharian di tengah pandemi Covid-19 yang turut menekan aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca juga: Pemulihan Lahan, Semen Indonesia (SMGR) Tanam 13.424 Pohon di Lokasi Pascatambang
Model Pertanian Sirkular Terpadu
“Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga mencakup penguatan ekonomi dan ketahanan sosial,” ujar Sekretaris Perusahaan PT Antam Tbk Wisnu Danandi Haryanto, melalui keterangannya, Selasa (24/2/2026).
“Antam meyakini bahwa pendekatan berbasis ekosistem mampu menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat,” lanjutnya.
Dari situasi tersebut, lahir inisiatif Garitan Kalongliud yang diinisiasi Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor ANTAM bersama masyarakat desa sebagai model pertanian sirkular terpadu yang berfokus pada pemanfaatan lahan tidur, efisiensi sumber daya air, pengelolaan limbah, serta penguatan kelembagaan petani berbasis komunitas.
Baca juga: Jagung, Gandum, hingga Beras: Produk Pertanian AS yang Bakal Diimpor RI
Sebanyak 35 hektar lahan tidur berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif. Limbah lokal, termasuk kotoran ternak domba, diolah menjadi pupuk organik dengan total pemanfaatan sekitar 25 ton limbah yang mampu menekan penggunaan pupuk kimia hingga 50 persen.
Penerapan sistem irigasi tetes juga meningkatkan efisiensi konsumsi air hingga 60 persen di wilayah yang sebelumnya mengalami tekanan sumber daya air.
Pemulihan lingkungan diperkuat melalui penanaman 3.000 pohon di sempadan Sungai Cinyurug yang berkontribusi terhadap penurunan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO?eq per musim tanam.
Dampak Ekonomi dan Kelembagaan Desa
Dari sisi ekonomi, pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya pupuk menurun sekitar 50 persen. Pada periode budidaya cabai 2024–2025, kegiatan usaha mencatatkan keuntungan sebesar Rp 246.258.000.
Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34, yang berarti setiap satu rupiah investasi mampu menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah.
Transformasi juga terjadi pada struktur sosial ekonomi desa. Petani yang sebelumnya bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak kini terorganisir dalam empat kelompok tani resmi melalui Surat Keputusan Desa, dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan sebagai simpul pasar untuk memperkuat akses distribusi dan posisi tawar petani.
Program ini turut menjangkau kelompok masyarakat rentan dengan total 869 penerima manfaat langsung dan 9.874 penerima manfaat tidak langsung. Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan, termasuk buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, hingga mantan pelaku pertambangan tanpa izin, dilibatkan dalam sistem ekonomi desa.
Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini tercatat mencapai 90,82 persen.
Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa tersebut kini berkembang sebagai pusat pembelajaran dan telah dikunjungi lebih dari 696 pengunjung lokal dan nasional, serta mulai direplikasi di desa lain.
Tag: #pemulihan #lahan #tidur #dorong #ekonomi #desa #kalongliud