Zulhas: Gunungan Sampah Bantar Gebang Segera Diubah Jadi Listrik
Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.(KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU)
09:48
24 Februari 2026

Zulhas: Gunungan Sampah Bantar Gebang Segera Diubah Jadi Listrik

- Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menyampaikan bahwa pemerintah telah merancang strategi untuk mengatasi persoalan penumpukan sampah di sejumlah kota besar, khususnya di Jakarta seperti kawasan Bantar Gebang dan Sunter.

Menurut Zulhas, salah satu fokus utama adalah menghentikan praktik open dumping melalui penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy (WTE). Pemerintah menargetkan implementasi teknologi tersebut dapat diselesaikan paling lambat pada akhir 2027.

Program PSEL direncanakan akan dibangun di 33 kota di Indonesia dan diharapkan mampu menekan volume sampah nasional hingga 20 persen. Zulhas menegaskan, langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang memandang persoalan sampah sebagai isu mendesak yang harus segera ditangani.

“2 tahun lagi kita akan melihat hasil nyata perubahan besar. Terutama yang besar-besar itu yang open dumping seperti Bantar Gebang, (seperti yang) di Bali, ya 2027 akhir atau 2028 awal ini bisa kita selesaikan,” kata Zulhas di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Zulhas Sebut 33 Proyek WTE Cuma Atasi 20 Persen Sampah

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) (tengah) dalam rapat di kantornya, Jakarta, Senin (23/2/2026).KOMPAS.com/Syakirun Ni'am Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) (tengah) dalam rapat di kantornya, Jakarta, Senin (23/2/2026).Selain itu, Zulhas memaparkan bahwa pemerintah menyiapkan empat skema teknologi berbeda untuk pengelolaan sampah. Pendekatan ini dirancang agar penanganan limbah tidak hanya terfokus di kota besar, tetapi juga dapat diterapkan di wilayah pedesaan maupun daerah yang belum memungkinkan menggunakan teknologi PSEL.

“Ada empat kategori, TPST (tempat pengolahan sampah terpadu) non-RDF (refuse derived fuel), ada TPST RDF, ada TPS3R (tempat pengelolaan sampah reduce-reuse-recycle) ada pengolah organik dari sumbernya atau dari masyarakat langsung,” jelasnya.

Perangkat dan mesin pengolahan sampah yang dibutuhkan nantinya akan dimasukkan ke dalam sistem e-katalog, sehingga dapat diakses dan dimanfaatkan oleh pemerintah daerah maupun pihak terkait yang ingin mengadopsi teknologi tersebut.

Di sisi lain, pemerintah berkomitmen memperkuat penegakan hukum guna menghentikan praktik open dumping yang hingga kini masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk di Bantar Gebang dan beberapa titik di Bali.

“Dan itu kita targetkan satu bulan untuk bisa masuk e-katalog. Sehingga masyarakat bisa membeli atau mempergunakan itu. Karena penegakan hukum akan dilaksanakan dengan konsisten ya,” tegas dia.

Proyek waste to energy

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto akan membangun 34 proyek untuk mengubah sampah menjadi energi (waste to energy/WTE) untuk menanggulangi permasalahan sampah di dalam negeri.

Pemerintah memperkirakan pada 2028 atau lebih cepat, hampir seluruh tempat pembuangan akhir (TPA) di Indonesia akan penuh menampung sampah atau overcapacity. Oleh karenanya, dibutuhkan langkah cepat untuk mencegah hal tersebut dengan cara mengubah sampah-sampah menjadi energi.

"Masalah bangsa ini sekarang yang juga sangat krusial adalah masalah sampah. Untuk itu tahun ini kita akan buka 34 proyek pembangunan waste to energy di 34 kota," ujar Prabowo saat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Senin (2/2/2026).

Tag:  #zulhas #gunungan #sampah #bantar #gebang #segera #diubah #jadi #listrik

KOMENTAR