Fiber 180.000 Km Jadi Modal Infranexia Dongkrak Nilai Telkom
Ilustrasi Telkom.(Dok. Telkom.)
14:27
20 Februari 2026

Fiber 180.000 Km Jadi Modal Infranexia Dongkrak Nilai Telkom

– PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menempatkan bisnis fiber sebagai kunci strategi “unlock value” dalam agenda transformasi Telkom 30.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyatakan, selama ini sebagian aset infrastruktur Telkom belum dinilai optimal oleh pasar karena masih melekat pada valuasi bisnis operator.

“Kalau aset itu ada di Telkom, di-value-nya seperti telco operator. Sekarang telco operator di Indonesia oleh market di-value 5 sampai 6 kali multiple,” ujar Dian dalam wawancara program Naratama Kompas.com, di kantor Telkom, awal Februari.

Baca juga: Visi Telkom 30 Dian Siswarini: Bukan Sekadar Restrukturisasi, tapi Lompatan Nilai

Menurut dia, pendekatan tersebut membuat potensi nilai infrastruktur belum sepenuhnya terlihat. Padahal, jika diposisikan sebagai perusahaan infrastruktur murni (FiberCo), valuasinya bisa berbeda.

“Kalau FiberCo bisa sampai 10 sampai 12 kali multiple, bahkan di luar bisa lebih tinggi. Nah itu unlock value-nya,” kata Dian.

Infranexia jadi kendaraan bisnis fiber

Untuk menjalankan strategi tersebut, Telkom membentuk entitas fiber dengan brand Infranexia yang mengelola jaringan fiber optik. Dian menyebut Telkom memiliki jaringan fiber hampir 180.000 kilometer yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Kalau tahap dua selesai, itu akan menjadi the biggest FiberCo di Indonesia,” ujarnya.

Entitas Infranexia disebut sudah dibentuk sejak Desember 2023. Pemindahan aset atau equipment mulai dilakukan pada Desember 2025, dan proses lanjutan ditargetkan rampung paling lambat pertengahan 2026.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini (Keempat dari Kiri) saat acara penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) InfraNexia. Dok. Telkom Direktur Utama Telkom Dian Siswarini (Keempat dari Kiri) saat acara penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) InfraNexia.

“Nanti pertengahan 2026 paling telat itu remaining aset kita pindahkan semua ke situ. Setelah establish dan stabil sampai akhir 2026, 2027 itu sudah menjadi FiberCo yang sesungguhnya,” kata Dian.

Dian mengungkapkan, saat ini pemanfaatan jaringan fiber Telkom masih sekitar 40–45 persen. Dengan dikelola sebagai entitas terpisah, ia menilai utilisasi dapat ditingkatkan.

“Kalau sudah di entitas khusus, mereka bisa lebih fleksibel dan membuka akses ke customer yang lain. Bisa operator lain, bisa enterprise, bisa hyperscaler,” ujarnya.

Baca juga: Telkomsel Rilis IndiHome Fiber-To-The-Room, Sinyal WiFi di Rumah Bisa Makin Luas

Ia menekankan pendekatan baru ini bukan lagi soal menguasai aset secara eksklusif, melainkan memaksimalkan nilai lewat kolaborasi.

“Pendekatan bahwa kita menguasai suatu aset secara monopoli itu sudah bukan zamannya. Justru kita buka peluang supaya utilisasinya lebih tinggi,” kata Dian.

Fokus layanan, bukan perang harga

Strategi fiber ini juga dikaitkan dengan peningkatan kualitas layanan. Dian menyebut cakupan layanan Telkom saat ini sudah mencapai sekitar 97 persen population coverage, terutama melalui konektivitas BTS yang terhubung jaringan fiber.

“Sekarang bukan lagi soal perang harga. Itu sudah so yesterday. Sekarang quality,” ujarnya.

Menurut dia, kualitas tidak hanya menyangkut jaringan, tetapi juga layanan pelanggan, respons terhadap gangguan, hingga inovasi produk.

“Kalau jaringan sudah jelek, mau apa pun di atasnya ambrol. Jadi network quality itu hygiene factor, tidak bisa ditawar,” ujar Dian.

Dirut Telkom, Dian Siswarini (kanan) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin di kantor pusat Telkom, Rabu (11/2/2026).KOMPAS.com/Reska K. Nistanto. Dirut Telkom, Dian Siswarini (kanan) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas.com, Amir Sodikin di kantor pusat Telkom, Rabu (11/2/2026).

Opsi IPO

Selain restrukturisasi, Telkom juga membuka opsi aksi korporasi lanjutan terhadap bisnis fiber tersebut, termasuk kemungkinan penawaran saham perdana (IPO).

Dian mengatakan, fokus utama saat ini adalah memastikan Infranexia menjadi FiberCo yang matang secara operasional dan tata kelola. Setelah itu, barulah opsi-opsi strategis akan dipertimbangkan.

“Kalau sudah mature, baru diputuskan apakah IPO atau tidak. Yang penting sekarang kita pastikan dulu kapabilitasnya, governance-nya, prosesnya, service excellence-nya,” ujar Dian.

Menurut dia, langkah seperti IPO baru akan dilakukan ketika entitas fiber telah stabil dan memiliki fundamental kuat, sehingga dapat memberikan nilai optimal bagi pemegang saham.

Tag:  #fiber #180000 #jadi #modal #infranexia #dongkrak #nilai #telkom

KOMENTAR