Elon Musk Tuntut Ganti Rugi ke Microsoft dan OpenAI, Nilainya Ribuan Triliun
Ringkasan berita:
- Elon Musk menggugat OpenAI dan Microsoft, menuntut ganti rugi 79 miliar dollar AS–134 miliar dollar AS, dengan klaim OpenAI meninggalkan prinsip nirlaba dan merugikan dirinya sebagai investor awal.
- Gugatan ini bukan yang pertama: Musk sejak 2024 menuding OpenAI berkhianat dari misi awal non-profit setelah fokus komersialisasi AI dan bermitra erat dengan Microsoft; OpenAI menyebut gugatan tersebut tidak berdasar.
- OpenAI kini resmi berorientasi laba lewat restrukturisasi 2025, bisnis langganan ChatGPT dan API melonjak, dengan pendapatan tahunan berulang 20 miliar dollar AS pada 2025, serta rencana ekspansi cuan ke iklan dan model bisnis baru.
- Konglomerat teknologi, Elon Musk menuntut ganti rugi kepada OpenAI dan Microsoft. Nilai ganti rugi yang diajukan berkisar 79 miliar dollar AS (sekitar RP 1.338 triliun) hingga 134 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.270 triliun).
Tuntutan ini diajukan karena Musk mengeklaim bahwa OpenAI menipu dirinya lantaran meninggalkan prinsip nirlaba dan menjalin kemitraan dengan Microsoft.
Elon Musk memang memiliki keterlibatan dengan OpenAI di awal berdirinya perusahaan ini. Singkatnya, Musk merupakan salah satu pemodal awal OpenAI yang kala itu masih mengusung prinsip sebagai startup non-profit alias nirlaba.
Elon Musk bahkan pernah menjabat sebagai ketua dewan (co-chair) OpenAI, meski tidak bertahan lama.
Kembali soal tuntutan ganti rugi yang diajukan Jumat (16/1/2026) lalu. Pengajuan ini dilakukan sehari setelah hakim federal menolak upaya terakhir OpenAI dan Microsoft untuk menghindari sidang juri, yakni mekanisme persidangan di AS yang melibatkan warga sipil sebagai penentu keputusan.
Berdasarkan perhitungan dari salah satu ekonom keuangan yang menjadi saksi ahli, yakni C. Paul Wazzan, dokumen yang diajukan menyebut bahwa Musk berhak atas sebagian valuasi OpenAI saat ini yang ditaksir mencapai 500 miliar dollar AS.
Estimasi itu dihitung berdasarkan klaim bahwa Musk merasa dirugikan setelah menanamkan modal awal ke OpenAI tahun 2015 lalu, yang saat itu senilai 38 juta dollar AS.
"Sebagaimana investor awal di startup yang meraup keuntungan berkali-kali lipat dari modal awal, keuntungan yang didapatkan OpenAI dan Microsoft secara tidak sah -dan yang kini menjadi hak Saudara Musk untuk ditarik kembali- jauh lebih besar dibanding kontribusi awal Saudara Musk," tulis kuasa hukum Elon Musk, Steven Molo.
Bukan tuntutan pertama
Ini bukan pertama kalinya Elon Musk menggugat OpenAI. Gugatan serupa pernah diajukan tahun 2024.
Saat itu, Musk menggugat co-founder OpenAI, yakni Sam Altman dan Greg Brockman, serta entitas afiliasinya karena dianggap berkhianat.
Musk menuduh OpenAI melanggar perjanjian kontrak awal dengannya, di mana misi awal stratup ini adalah menjadi organisasi non-profit yang mengembangkan kecerdasan buatan demi kepentingan umat manusia, bukan keutnungan materiel.
CEO OpenAI Sam Altman (kiri) dan Pemilik X/Twitter Elon Musk (kanan).
Elon Musk menilai OpenAI sekarang fokus pada komersialisasi penelitian jenis kecerdasan buatan tipe Artificial General Intelligence (AGI), setelah bermitra dengan Microsoft.
Dalam gugatan tahun 2024, disebutkan bahwa Elon Musk merupakan kontributor terbesar OpenAI selama bertahun-tahun.
Berdasarkan tuntutan hukumnya yang diajukan di pengadilan di San Francisco pada Kamis (29/2/2024) malam, Musk menyebut dirinya menyumbangkan lebih dari 44 juta dollar AS kepada OpenAI antara tahun 2016 dan September 2020.
Musk sendiri mengundurkan diri dari OpenAI tahun 2018. Ketika itu, Musk ditawari saham OpenAI, tetapi menolak menerimanya karena alasan prinsip.
OpenAI pun buka suara soal gugatan berulang ini.
"Gugatan Mr. Musk tidak berdasar dan merupakan bagian dari pola pelecehan yang terus berulang. Kami menantikan kesempatan untuk membuktikan hal ini di persidangan," kata OpenAI dalam pernyataan resminya.
"Tuntutan terbaru yang tidak serius ini semata-mata bertujuan melanjutkan kampanye pelecehan tersebut," imbuh OpenAI, dirangkum KompasTekno dari Business Times.
Perusahaan AI itu juga mewanti-wanti investornya, karena Musk kemungkinan akan terus menggulirkan "serangan" hukum. Sementara itu, Microsoft belum memberikan tanggapan soal gugatan ini.
OpenAI berubah dari nirlaba jadi cari laba
Oktober 2025 lalu, OpenAI melakukan restrukturisasi yang mengubah perusahaan non-profit ini menjadi profit-oriented.
Dalam restrukturisasi itu, OpenAI mendirikan entitas baru bernama OpenAI Group PBC (Public Benefit Corporation).
Sementara organisasi nirlaba yang selama ini menjadi payung hukumnya berganti nama menjadi OpenAI Foundation.
Di bawah struktur baru tersebut, OpenAI Foundation akan memegang saham OpenAI Group PBC sebesar 26 persen atau setara sekitar 130 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.161 triliun).
Namun jumlah kepemilikan sahamnya bisa bertambah seiring dengan pertumbuhan valuasi perusahaan.
Sementara itu 47 persen saham OpenAI Group PBC dimiliki oleh karyawan serta investor, baik yang masih aktif maupun sudah pensiun.
Adapun rencana restrukturisasi ini sudah diumumkan OpenAI sejak tahun 2024, namun baru terwujud tahun 2025.
Seiring dengan perubahan itu, OpenAI juga memperbarui perjanjian dengan Microsoft yang selama ini menjadi investor utamanya. Microsoft kini menguasai 27 persen saham di induk ChatGPT ini.
Upaya cari cuan sudah dilakukan sejak OpenAI merilis paket langganan pertamanya, yakni ChatGPT Plus pada 1 Februari 2023 lalu.
Kini, varian paket lebih banyak, dengan hadirnya ChatGPT Pro yang lebih mahal, dan ChatGPT Go yang paling murah.
Paket tersebut juga tersedia di Indonesia dengan harga sebagai berikut:
- ChatGPT Go: Rp 75.000 per bulan.
- ChatGPT Plus: Rp 349.000 per bulan.
- ChatGPT Pro: Rp3,5 juta per bulan.
Perbandingan harag ChatGPT Go dengan ChatGPT Plus dan ChatGPT Pro
Ada pula paket Business yang dibanderol Rp 469.000 per bulan. Perbedaan paket ChatGPT bisa disimak di artikel ini.
Kendati demikian, ChatGPT masih bisa diakses secara gratis, meski akan ada beberapa batasan fitur.
Strategi bisnis itu mulai menunjukkan hasil positif.
Baru-baru ini, Chief Financial Officer OpenAI, Sarah Friar, mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan berulang di bisnis langganan (annual recurring revenue/ARR) OpenAI menembus angka 20 miliar dollar AS (sekitar Rp 339,2 triliun) sepanjang 2025.
Angka tersebut naik signifikan, yaitu 10 kali lipat dibandingkan 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 33,9 triliun) pada 2023. Jika dibandingkan dengan pendapatan 6 miliar dollar AS (sekitar Rp 101,7 triliun) pada 2024, cuan OpenAI pada 2025 naik lebih dari 3 kali lipat.
Pembuat model AI GPT dan Sora ini juga memperoleh pendapatan dari API berbasis penggunaan untuk kebutuhan pengembang dan perusahaan.
OpenAI juga berencana membuka keran cuan baru lagi, yakni lewat bisnis iklan. Belakangan, OpenAI mengumumkan rencana pengujian iklan untuk pengguna gratis dan ChatGPT Go di Amerika Serikat. Namun, iklan tidak akan ditampilkan untuk pelanggan Plus, Pro, Business, dan Enterprise.
Friar menegaskan bahwa sumber pendapatan OpenAI ke depan tidak akan berhenti pada langganan dan API.
Menurut dia, seiring AI masuk ke bidang riset ilmiah, penemuan obat, energi, dan pemodelan keuangan, model ekonomi baru seperti lisensi, perjanjian berbasis kekayaan intelektual, hingga skema berbasis hasil akan mulai terbentuk.
Tag: #elon #musk #tuntut #ganti #rugi #microsoft #openai #nilainya #ribuan #triliun