18 Kata-kata Viral Gen Z Sepanjang 2025 dan Artinya
Ringkasan Berita:
- Bahasa gaul Gen Z terus berkembang seiring pesatnya penggunaan media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram. Sepanjang 2025, muncul berbagai kata dan frasa viral yang ramai dipakai dalam percakapan sehari-hari, caption, hingga kolom komentar, dengan nuansa lucu, satir, hingga membingungkan bagi yang tidak mengikuti tren.
- Istilah-istilah tersebut tidak sekadar menjadi tren sesaat, tetapi mencerminkan cara Gen Z mengekspresikan emosi, kritik sosial, kondisi mental, hingga respons terhadap budaya digital. Beberapa di antaranya adalah internet flattening untuk menggambarkan konten yang terasa seragam karena algoritma, soft launch sebagai kode perubahan hidup, hingga algorithm fatigue yang menandai kejenuhan berselancar di media sosial.
- Selain itu, muncul pula istilah seperti AI slop, parasocial, dan rage bait yang merefleksikan kritik Gen Z terhadap banjir konten instan dan strategi berburu atensi. Deretan 18 kata viral ini menunjukkan bahwa bahasa Gen Z bukan hanya soal gaya, tetapi juga cerminan adaptasi generasi muda terhadap dunia digital yang cepat, penuh algoritma, dan tuntutan citra.
- Bahasa gaul Gen Z terus berkembang dan berubah dengan cepat, terutama lewat media sosial seperti TikTok, X, dan Instagram.
Sepanjang 2025, muncul berbagai kata dan frasa baru yang viral, digunakan dalam percakapan sehari-hari, caption, hingga komentar warganet. Istilah-istilah ini kerap terdengar lucu, satir, atau bahkan membingungkan bagi yang tidak mengikuti tren.
Menariknya, kata-kata viral Gen Z tidak sekadar tren sesaat, tetapi juga mencerminkan cara generasi muda mengekspresikan emosi, kritik sosial, hingga humor khas era digital.
Mulai dari istilah untuk menggambarkan kondisi mental, respons terhadap situasi tertentu, sampai sindiran halus, berikut 18 kata viral Gen Z sepanjang 2025 beserta arti dan konteks penggunaannya.
Internet Flattening
Istilah ini menggambarkan kondisi ketika konten di internet makin terasa mirip satu sama lain. Mulai dari format video, gaya edit, sampai estetik visualnya cenderung seragam karena mengikuti algoritma dan tren yang sama. Akibatnya, kreativitas terasa “diratakan” dan sulit menemukan sesuatu yang benar-benar unik.
Soft Launch
Bukan peluncuran produk, soft launch versi Gen Z berarti memberi kode atau petunjuk halus tentang sesuatu yang baru dalam hidup, entah hubungan, pekerjaan, atau perubahan besar tanpa pengumuman resmi. Biasanya lewat caption ambigu, foto simbolis, atau story singkat.
Soft Power Posting
Ini adalah cara pamer versi halus. Konten diunggah dengan sangat rapi dan terkurasi untuk memberi kesan pintar, sukses, atau berpengaruh, tapi tanpa terlihat menyombongkan diri. Tujuannya tetap sama yaitu membangun citra, hanya saja lebih elegan.
Context Collapse
Terjadi saat satu unggahan dilihat oleh audiens yang sangat beragam, sehingga maknanya jadi salah paham atau dipelintir. Konten yang awalnya ditujukan untuk lingkaran tertentu bisa dianggap bermasalah ketika sampai ke audiens lain yang berbeda konteks.
Engagement Farming
Istilah ini merujuk pada strategi sengaja membuat konten kontroversial demi memancing komentar, debat, dan reaksi. Bukan untuk diskusi sehat, melainkan demi menaikkan interaksi dan jangkauan algoritma.
Identity Stacking
Gen Z kerap menumpuk berbagai identitas digital sekaligus, minat, nilai hidup, isu sosial, hingga estetik untuk membentuk persona online. Akun media sosial jadi semacam “etalase identitas” yang disusun berlapis-lapis.
Algorithm Fatigue
Rasa lelah dan bosan karena timeline terasa itu-itu saja. Algoritma terus menyajikan konten serupa, membuat pengalaman berselancar di media sosial terasa monoton dan melelahkan secara mental.
Gen Z Stare
Tatapan datar tanpa ekspresi yang sering dipakai Gen Z sebagai respons nonverbal. Biasanya digunakan untuk menunjukkan rasa heran, tidak percaya, canggung, atau penilaian diam-diam terhadap sesuatu yang dianggap aneh atau tidak relevan.
Trad Aesthetic
Gaya hidup dan visual bernuansa nostalgia dan nilai-nilai lama. Fokus pada kesederhanaan, nuansa vintage, dan “old money vibes”, sebagai bentuk kejenuhan terhadap budaya serba cepat dan digital.
Micro Retirement
Alih-alih menunggu pensiun di usia tua, micro retirement berarti mengambil jeda singkat secara sengaja dari rutinitas kerja untuk istirahat, refleksi, atau traveling. Konsep ini populer di kalangan Gen Z yang lebih memprioritaskan keseimbangan hidup.
Vibe Coding
Istilah ini merujuk pada cara ngoding atau bikin proyek digital berdasarkan intuisi dan alur rasa, bukan rencana kaku. Fokusnya pada eksplorasi, kebebasan kreatif, dan “jalanin dulu aja”, yang banyak digemari developer dan kreator Gen Z.
Aura Farming
Aura farming adalah praktik membangun kesan keren secara sadar, baik lewat outfit, gesture, momen, maupun unggahan media sosial. Semua dikurasi agar terlihat effortless, padahal sebenarnya sangat dipikirkan.
Girl Math / Boy Math
Ini adalah cara bercanda membenarkan keputusan atau pengeluaran dengan logika yang dilebih-lebihkan. Misalnya, beli barang mahal tapi dianggap “gratis” karena diskon atau dipakai berkali-kali.
Beige Flag
Berbeda dari red flag atau green flag, beige flag adalah sifat netral tapi cukup mencolok untuk dicatat. Tidak bermasalah, tapi juga tidak istimewa, sekadar “hmm, noted”.
Nillenial
Istilah untuk orang yang berada di antara generasi milenial dan Gen Z. Biasanya punya referensi budaya, humor, dan kebiasaan dari dua generasi sekaligusm, tidak sepenuhnya salah satu.
AI Slop
Digunakan untuk menyebut konten buatan AI yang terasa asal-asalan, terlalu generik, minim kreativitas, dan tidak punya sentuhan manusia. Istilah ini sering muncul sebagai kritik terhadap banjir konten instan.
Parasocial
Kata ini menggambarkan hubungan emosional satu arah antara audiens dan figur publik atau kreator. Penonton merasa dekat, padahal tidak benar-benar saling mengenal secara personal.
Rage Bait
Istilah ini kerap dikaitkan dengan konten yang sengaja dibuat untuk memancing amarah atau kontroversi demi menaikkan interaksi dan jangkauan algoritma. Bukan untuk diskusi sehat, tapi untuk reaksi cepat dan ekstrem.
Deretan istilah di atas menunjukkan bahwa bahasa Gen Z bukan sekadar tren kata-kata viral, melainkan cerminan cara generasi muda beradaptasi dengan dunia digital yang serba cepat, penuh algoritma, dan tuntutan citra.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.