Kenapa Scrolling Media Sosial Bikin Capek? Ini Penjelasan Psikologinya
Ilustrasi perempuan menggunakan ponsel. (Dok. Freepik/Freepik)
14:06
8 Januari 2026

Kenapa Scrolling Media Sosial Bikin Capek? Ini Penjelasan Psikologinya

Rangkuman berita:

  • Rasa lelah setelah scrolling media sosial bukan sugesti atau malas, melainkan fenomena psikologis yang dikenal sebagai digital fatigue, yakni kelelahan mental akibat stimulasi digital berlebihan.
  • Meski terlihat seperti aktivitas santai, scrolling membuat otak terus bekerja: berpindah emosi, mengambil keputusan mikro, membandingkan diri, serta mengejar dopamin instan yang cepat habis.
  • Kelelahan ini merupakan kombinasi kelelahan kognitif, emosional, decision fatigue, dan gangguan pemulihan tubuh, terutama jika scrolling dilakukan lama atau menjelang tidur.

- Pernahkah kalian berniat buka media sosial untuk "refreshing" tapi setelah beberapa waktu scrolling tanpa henti justru merasa kelelahan? Misalnya, kepala malah berat, emosi lebih sensitif, fokus buyar, dan badan seperti kehilangan energi

Banyak orang diyakini mengalaminya. Kondisi ini bukan sugesti, bukan jga karena kamu malas.

Lantas, mengapa kita sering merasa capek setelah scrolling Instagram, TikTok, dkk? Sebenarnya, ada penjelasan psikologis di balik rasa lelah setelah scrolling media sosial.

Secara umum, main media sosial sekilas terlihat seperti waktu istirahat atau bersantai. Kita duduk/rebahan, jari bergerak pelan, tidak mengeluarkan tenaga fisik.

Namun di balik layar, otak justru bekerja terus menerus, berpindah emosi, mengambil keputusan mikro, membandingkan diri, dan merespons rangsangan tanpa henti.

Inilah yang oleh para psikolog disebut sebagai digital fatigue, bentuk kelelahan mental akibat stimulasi digital yang berlebihan.

Scrolling ≠ bersantai

Ilustrasi media sosial. Dok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi media sosial.

Menurut laporan Statista, rata-rata orang menghabiskan lebih dari 2 jam per hari untuk media sosial.

Selama waktu itu, otak tidak sedang santai. Setiap swipe memicu proses berpikir dan pengambilan keputusan kecil, apakah ini menarik, apakah lanjut, apakah like, apakah skip, apakah lanjut scrolling, dan lainnya.

Konten di media sosial juga tidak netral. Dalam satu menit, kita bisa melihat video lucu, berita buruk, pencapaian orang lain, konflik, iklan, lalu konten hiburan lagi. Otak dipaksa berpindah konteks dan emosi dengan cepat.

Belum lagi social comparison. Kita melihat potongan terbaik hidup orang lain, lalu membandingkannya dengan keseharian sendiri. Perpindahan cepat inilah yang menguras energi mental, meski tidak terasa langsung.

Ketagihan dopamin instan

Beberapa negara sudah melarang penggunaan aplikasi TikTok.Freepik Beberapa negara sudah melarang penggunaan aplikasi TikTok.

Media sosial bekerja dengan sistem reward yang tidak bisa ditebak. Kadang kontennya seru, kadang biasa saja. Pola ini mirip mesin slot, karena ketidakpastian membuat kita terus ingin scroll lagi.

Setiap kali menemukan konten yang menarik, otak melepas dopamin, zat kimia yang memberi rasa senang. Masalahnya, dopamin yang datang cepat juga cepat habis.

Setelah itu, otak justru merasa kosong dan ingin mengulang sensasi tadi. Inilah kenapa setelah scroll lama, kita merasa lelah tapi tetap ingin membuka aplikasi lagi.

Jika dilakukan menjelang tidur, cahaya layar dan rangsangan emosional juga mengacaukan ritme tubuh. Akibatnya, tidur tidak pulih sepenuhnya, dan kelelahan terbawa ke hari berikutnya.

Kombinasi "fatigue"

.SHUTTERSTOCK .

Rasa “capek” setelah scrolling diyakini bukan karena satu jenis kelelahan saja. Yang terjadi adalah beberapa bentuk fatigue yang saling tumpang tindih, sehingga efeknya terasa lebih berat dibanding sekadar kurang tidur.

Laporan Mindful Tech Work merinci, setidaknya ada empat fatigue yang bisa berkontribusi pada rasa "capek" setelah main media sosial.

Pertama adalah kelelahan kognitif. Setelah lama menatap layar, kemampuan konsentrasi menurun, ingatan kerja terasa kabur, dan otak lebih lambat memproses informasi.

Kedua, kelelahan emosional. Doomscrolling (scrolling konten negatif secara terus-menerus), berita negatif, dan perbandingan sosial membuat emosi terkuras. Walau ponsel sudah disimpan, rasa cemas, sedih, atau mudah tersinggung sering tertinggal.

Ketiga, decision fatigue. Setiap swipe, klik, komentar, atau keputusan untuk lanjut atau berhenti adalah keputusan kecil. Dalam satu sesi panjang, keputusan mikro ini menumpuk.

Keempat, gangguan pemulihan tubuh. Scrolling di malam hari, konten yang emosinya tinggi, serta paparan cahaya layar mengganggu ritme sirkadian.

Studi pada remaja menunjukkan mereka yang terpapar layar (screen time) lebih dari 9 jam per hari jauh lebih berisiko mengalami kualitas tidur buruk dibanding mereka yang paparan layarnya rendah.

Di samping itu, sejumlah riset menunjukkan paparan layar yang tinggi, terutama di malam hari, berkaitan dengan penurunan skor atensi, kemampuan berhitung, hingga memori jangka pendek.

Jika keempatnya terjadi bersamaan, tidak heran jika tubuh terasa lelah, tapi sulit tidur, pikiran penuh, dan emosi tidak stabil sekaligus.

Yang bisa kita lakukan

Ilustrasi sosial mediaShutterstock Ilustrasi sosial media

Kabar baiknya, kelelahan akibat scrolling bukan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Ada beberapa langkah sederhana dan realistis yang bisa langsung dilakukan tanpa harus “puasa media sosial” total.

Pertama, pindahkan aplikasi media sosial dari home screen utama. Tujuannya sederhana, membuat aplikasi media sosial tidak lagi mudah dilihat dan dibuka. Bisa juga pakai App timer, focus mode, dan aturan satu layar untuk membantu.

Kedua, ganti dengan aktivitas lain. Saat sadar ingin scrolling tanpa tujuan, coba ganti dengan peregangan, baca satu halaman buku, atau jalan singkat di luar rumah. Ini disebut bisa memberi pola reward berbeda ke otak, tanpa rasa kehilangan.

Ketiga, bikin jadwal buka Instagram, TikTok, dkk. Daripada buka media sosial tak menentu atau sesuai mood, coba tentukan jam tertentu untuk main media sosial.

Misalnya, setengah jam saat makan siang, saat di perjalanan pulang (kalau naik kendaraan umum), dan setelah makan malam, sebagaimana dihimpun KompasTekno.

Tag:  #kenapa #scrolling #media #sosial #bikin #capek #penjelasan #psikologinya

KOMENTAR