Dari Terabaikan Jadi Vital, Ini Kisah Simbol “@” yang Penting di Era Digital
Ilustrasi simbol @(Kompas.com/soffyaranti)
13:48
7 Januari 2026

Dari Terabaikan Jadi Vital, Ini Kisah Simbol “@” yang Penting di Era Digital

Ringkasan Berita: 

  • Simbol “@” kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital, terutama dalam penulisan alamat e-mail. Namun, sebelum menjadi standar global, simbol ini sempat terabaikan dan nyaris tidak digunakan dalam sistem komunikasi digital awal.
  • Pemilihan simbol “@” bermula dari eksperimen Ray Tomlinson, insinyur komputer yang menciptakan sistem e-mail pertama pada 1971. Ia membutuhkan tanda pemisah antara nama pengguna dan nama komputer, lalu memilih “@” karena jarang dipakai, tidak menimbulkan konflik teknis, dan memiliki makna “di” yang relevan secara bahasa.
  • Seiring berkembangnya internet, format e-mail dengan simbol “@” diadopsi secara luas dan dibakukan dalam protokol SMTP. Kini, simbol ini tak hanya penting dalam e-mail, tetapi juga menjadi ikon budaya digital yang digunakan untuk menandai akun atau menyebut pengguna di berbagai platform media sosial.

- Simbol “@” kini melekat erat dengan kehidupan digital sehari-hari. Setiap kali Anda mengirim e-mail, tanda kecil yang dibaca “at” itu otomatis muncul di antara nama pengguna dan domain, tanpa banyak dipikirkan lagi maknanya.

Padahal, sebelum menjadi ikon penting di era internet, simbol “@” sempat terabaikan, jarang digunakan, dan bahkan nyaris tidak masuk dalam sejarah komunikasi digital modern.
Menariknya, pemilihan simbol “@” sebagai bagian dari alamat e-mail bukanlah hasil perencanaan matang sejak awal.

Ia justru muncul dari keputusan sederhana, bahkan bisa dibilang kebetulan, yang diambil pada awal 1970-an.

Lantas, bagaimana asal mula simbol “@” bisa terpilih, mengalahkan simbol lain seperti tanda sama dengan (=), hingga akhirnya menjadi standar global seperti yang kita kenal sekarang?
Kisahnya bermula dari eksperimen seorang insinyur komputer bernama Ray Tomlinson. Simak ceritanya di bawah ini.

Dipilih karena jarang dipakai

Pemilihan simbol “@” dalam alamat e-mail bermula dari kebutuhan teknis yang sederhana. Ray Tomlinson, seorang insinyur komputer asal Amerika Serikat, menciptakan sistem e-mail pertama pada 1971 saat bekerja di BBN Technologies, perusahaan yang terlibat dalam proyek ARPANET, cikal bakal internet modern.

Saat itu, Tomlinson diminta mengembangkan cara mengirim pesan dari satu komputer ke komputer lain dalam jaringan. Agar pesan sampai ke pengguna yang tepat di mesin yang tepat, ia perlu memisahkan “nama orang” dan “nama komputer” dalam satu alamat.

Tomlinson pun mencari simbol pemisah yang tidak menimbulkan konflik dengan sistem. Huruf, angka, serta tanda baca umum seperti titik, koma, dan garis miring langsung ia singkirkan karena sudah memiliki fungsi sendiri dalam sistem operasi.

Beberapa simbol lain, termasuk tanda sama dengan (=), sempat dipertimbangkan, tetapi dinilai ambigu dan berisiko bentrok dengan sintaks yang ada.

Makna “at” yang paling masuk akal

Pilihan akhirnya jatuh pada simbol “@”, yang kala itu hampir tidak memiliki fungsi khusus di dunia komputer. Selain jarang digunakan, simbol ini memiliki makna yang sangat relevan.

Dalam bahasa Inggris, “@” dibaca at atau “di”, seperti pada penulisan “5 items @ $1”. Dalam konteks e-mail, alamat [email protected] dapat dimaknai sebagai “yourname di example.com”, yakni seorang pengguna berada di dalam sebuah sistem atau domain tertentu.

Tomlinson menilai simbol “@” paling tepat karena sesuai secara semantik sekaligus aman secara teknis.

Dalam berbagai wawancara sebelum wafat pada 2016, ia menyebut simbol tersebut tidak memiliki arti lain dalam sistem komputer, sehingga kecil kemungkinan menimbulkan konflik. Kombinasi makna dan fungsi inilah yang membuat “@” menjadi kandidat ideal.

Dari eksperimen kecil ke standar global

Pada awalnya, sistem e-mail ciptaan Tomlinson hanya digunakan secara internal di lingkungan riset. Namun, seiring berkembangnya internet, format alamat e-mail dengan simbol “@” menyebar luas dan diadopsi oleh berbagai sistem.

Ketika layanan e-mail publik mulai bermunculan, seperti Hotmail, Yahoo Mail, hingga Gmail, struktur alamat ini tetap dipertahankan.

Secara teknis, format e-mail kemudian dibakukan dalam protokol SMTP, yang masih digunakan hingga saat ini. Alamat e-mail pun terdiri dari tiga bagian utama yaitunama pengguna (local part), simbol “@” sebagai pemisah, dan nama domain.

Ikon budaya digital modern

Kini, simbol “@” tidak hanya identik dengan e-mail, tetapi juga menjadi ikon budaya digital. Tanda ini digunakan untuk menyebut atau menandai akun pengguna (mention) di berbagai platform media sosial seperti Twitter (kini X) dan Instagram.

Jika Ray Tomlinson saat itu memilih simbol lain, seperti “=”, bisa jadi format e-mail modern terasa jauh lebih asing.

Namun, dari sebuah keputusan kecil yang tampak sepele, simbol “@” kini menjadi jembatan komunikasi digital global, menghubungkan miliaran orang di seluruh dunia, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Smithsonian Magazine.

Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.

Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.

Tag:  #dari #terabaikan #jadi #vital #kisah #simbol #yang #penting #digital

KOMENTAR