Aksi Jumbo Operator Telko 2025
INDUSTRI telekomunikasi akhir tahun 2025, khususnya Desember, diwarnai berbagai aksi korporasi yang melibatkan dana mendekati seratusan triliun rupiah.
Aksi ini akan masih berlanjut hingga April 2026 mendatang, ketika salah satu merger besar tergabung.
Aksi korporasi menyangkut pemanfaatan jaringan FO (fiber optic – serat optik) dalam bisnis para operator yang melihat jaringan itu akan memberi kontribusi lebih besar.
Telkom, misalnya, memindahkan pengelolaan bisnis FO (spin-off), sementara operator lain berkonsolidasi dengan mengakuisisi atau merger (bergabung) dengan pemilik FO lain.
Menguatkan bisnis infrastruktur FO, Telkom pada Kamis (18/12-2025) lalu, menyerahkan pengelolaannya kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.
Selama ini, kelompok Telkom mengelola jaringan FO sepanjang sekitar 175.000 kilometer, terpanjang dibanding pesaing, misalnya, XL Axiata 159 km, dan Indosat 86.000 km, termasuk kabel laut sepanjang 1.300 km.
Panjang kabel FO XL Smart, setelah mereka merger dengan Smartfren, mendapat tambahan sekitar 20.000 km milik Smartfren, sehingga panjangnya menjadi 176.000 km. Berkurang lagi 20.000 km saat XL Smart menjual saham Mora.
Telkom melihat peluang lebih besar dibanding selama dikelola anak perusahaannya, Telkomsel.
Jaringan FO harus khusus dikelola dengan model bisnis yang terdedikasi agar mampu menghasilkan nilai maksimal dan optimal dalam memonetisasi (mengubah aset menjadi sumber pendapatan). “Dan membuka ruang kemitraan strategi yang lebih luas,” ujar Dirut Telkom Dian Siswarini.
Saat ini, Telkomsel memberi kontribusi sekitar Rp 14 triliun hingga Rp 16 triliun per tahun. Sementara menurut simulasi, revenue dengan penjualan FO secara gelondongan akan meningkat menjadi Rp 40-an triliun setahun.
Pengalihan ini akan membuat Infranexia memiliki lebih dari 50 persen aset infrastruktur jaringan fiber Telkom, dari akses segmen, agregasi, tulang punggung dan infrastruktur pendukung lain. Nilai transaksi spin-off mencapai Rp 35,8 triliun pada fase pertama ini.
FiberCo gabung Hashim
Hampir bersamaan, Selasa (23/12-25), Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) mengalihkan kepemilikan jaringan FiberCo, sepanjang 86.000 kilometer pada perjanjian patungan dengan Arsari milik Hashim Djojohadikusumo dan Kelompok Northstar.
Patungan senilai Rp 14,6 triliun ini termasuk jaringan tulang punggung (backbone), kabel laut domestik sepanjang 1.300 km dan akses infrastruktur yang menghubungkan BTS (base transceiver station – radio penghubung pelanggan dan operator), dan kawasan bisnis.
Indosat dan Arsari akan memiliki masing-masing 45 persen saham, sisanya Northstar. Ketiganya akan bekerja sama dalam pengelolaan layanan serat optic, usai yakin infrastruktur digital adalah fondasi utama daya saing nasional dan inklusi digital.
Dengan pemilikan jaringan FO sepanjang 45 persen di Pulau Jawa dan 55 persen di luar Jawa, platform ini strategis mendorong konektivitas digital yang lebih merata.
FiberCo akan beroperasi dengan model open-access, menyediakan akses terbuka bagi berbagai penyedia layanan telekomunikasi untuk memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur digital nasional.
Menurut CEO IOH, Vikram Sinha, Indonesia butuh kolaborasi kuat dan ambisi jangka panjang dalam membangun infrastruktur digital melalui pendekatan yang agile (bergerak cepat) dan asset-light (model bisnis yang ringan dan ramah investasi).
“Kemitraan dengan Arsari Group dan Northstar Group memungkinkan kami membangun platform serat optik independen bernilai tambah yang lebih tangguh dan siap menghadapi kebutuhan layanan digital masa depan,” ujarnya.
Hasil transaksi FiberCo memberi likuiditas cukup bagi perusahaan untuk membagikan dividen besar tanpa mengganggu kebutuhan belanja modal (capex – capital expenditure) untuk pengembangan 5G.
Sementara, menurut Aryo P.S. Djojohadikusumo, Deputy CEO and COO Arsari Group, patungan ini mencerminkan keyakinan bersama bahwa infrastruktur digital adalah fondasi utama daya saing nasional dan inklusi digital. Konektivitas digital saat ini, katanya, sama fundamentalnya dengan energi fisik.
Keterlibatan Arsari Group, entitas bisnis milik Hashim Djojohadikusumo, dan Northstar Group pimpinan Patrick Walujo, memberikan sinyal kepercayaan yang kuat bagi komunitas investasi.
Analisis ini akan mengeksplorasi bagaimana kemitraan ini menciptakan efek riak (ripple effect) pada emiten-emiten terkait dan ekspektasi imbal hasil bagi investor saham.
Merger Mora dan Eka
Arsari Group memperluas portofolio strategis mereka ke sektor infrastruktur digital, setelah sebelumnya kuat di sektor energi dan logistik.
Keterlibatan Hashim Djojohadikusumo – adik Presiden Prabowo Subianto – dalam FiberCo memberi dimensi ketahanan nasional pada proyek ini.
Ini jadi indikasi, FiberCo diposisikan sebagai tulang punggung digital nasional yang didukung modal domestik yang kuat.
Di sisi lain, Northstar Group membawa keahlian finansial karena mereka yang memiliki rekam jejak di sektor teknologi dan kombinasi keduanya akan menciptakan struktur kepemilikan seimbang.
Kolaborasi 86.000 km jaringan FiberCo dengan Java Backbone milik WIFI, juga milik Hashim, akan menciptakan ekosistem serat optik paling kompetitif. Terutama untuk melayani kebutuhan pusat data dan layanan korporasi di Indonesia.
PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA – Moratelindo) pada Kamis (18/12-25), mengumumkan rencana menggabung dengan PT Eka Mas Republik (EMR) atau MyRepublic Indonesia.
Moratelindo akan jadi perusahaan penerima penggabungan, sementara MyRepublic yang menggabungkan diri.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), pemilik MyRepublik, menjadi pemegang saham pengendali PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) dari entitas hasil penggabungan melalui kepemilikan secara tidak langsung.
Moratelindo merupakan perusahaan infrastruktur telekomunikasi dengan jaringan backbone yang luas.
Sementara MyRepublic Indonesia memiliki jaringan fiber to the home (FTTH) dengan jumlah homepass yang besar dan tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Panjang kabel FO milik Moratelindo mencapai 54.330 km termasuk kabel laut proyek Palapa Ring (2.000 km) dan kabel laut Batam – Singapura sepanjang 70 km, serta FO Jakarta – Surabaya 915 km.
Mora juga punya 6 pusat data berkapasitas 3,3 megawatt, sekitar 16.800 pelanggan korporasi, satu juta home pass selain hampir 300.000 pelanggan ritel.
MyRepublik Indonesia punya pelanggan FTTH dengan 1,52 juta pelanggan ritel. Mereka diberi layanan internet dengan kecepatan layanan hingga 1 giga, selain punya 58.455 km FO dan 8,7 juta home pass.
Merger keduanya ini belum terwujud, masih harus meminta persetujuan pemegang saham dan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rapat pemegang saham keduanya akan dilangsungkan pada 25 Maret 2026 mendatang.
Sebelum rencana merger ini, sebagian saham Mora dimilik oleh XL Smart sebanyak 18,32 persen atau 4,33 miliar lembar saham yang dijual dengan harga Rp 1,87 triliun, pada 4 Desember 2025.
Hasil penjualan ini akan muncul dalam laporan keuangan PT XL Smart tahun 2025 sebagai laba.
Sementara pada triwulan ketiga (hingga September 2025), XL Smart sudah menangguk laba sekitar Rp 1,15 triliun dengan pendapatan Rp 11,47 triliun dari 79,6 juta pelanggannya.