Mark Zuckerberg Juga Bagi-bagi “Berkat” ke Tetangga saat Renovasi Rumah, Ini Isinya
Ringkasan:
- Mark Zuckerberg belakangan bagi-bagi "berkat" untuk tetangganya, mirip tradisi masyarakat Jawa dalam membangun rumah. Namun, isi "berkat" yang diberikan cukup fantastis, terdiri dari headphone peredam bising, minuman bersoda, dan donat.
- Tujuan bos Facebook itu memberi bingkisan kepada tetangganya adalah sebagai bentuk kompensasi atas kebisingan renovasi properti Zuckerberg di Crescent Park, Palo Alto.
- Meski sudah diberi "berkat", sejumlah tetangga tetap mengeluhkan kebisingan berkepanjangan, penutupan jalan, puing bangunan, hingga perubahan lingkungan akibat pengamanan ketat dan kamera pengawas. Beberapa properti juga dibiarkan kosong di tengah krisis perumahan.
- Belakangan ini, Mark Zuckerberg melakukan aksi unik yang kiranya cukup lekat dengan kebiasaan masyarakat kita, terutama masyarakat Jawa. Bos Facebook itu diketahui juga bagi-bagi “berkat” ke tetangganya dalam rangka renovasi rumah.
Zuckerberg membagikan bingkisan kepada tetangganya di kawasan Crescent Park, Palo Alto, Amerika Serikat. Bingkisan itu diberikan sebagai bentuk kompensasi atas kebisingan renovasi dan pembangunan kompleks properti miliknya.
Isi “berkat” dari Zuckerberg buat tetangga
Aksi Zuckerberg itu cukup mirip dengan tradisi masyarakat Jawa. Di beberapa wilayah, masyarakat Jawa memiliki kebiasaan mengadakan upacara atau ritual “selametan” saat hendak membangun rumah.
Ritual selametan oleh masyarakat Jawa dalam membangun rumah itu umumnya memiliki tujuan yang bersifat teologis, yaitu memohon keselamatan pada Tuhan, sebagaimana yang terlacak pada beberapa artikel ilmiah.
Misalnya, artikel ilmiah “Makna Tradisi Sesajen dalam Pembangunan Rumah Masyarakat Jawa: Studi Kasus Pembangunan di Desa Srimulyo Kecamatan Air Saleh Kabupaten Banyuasin” (2020), “Persepsi Masyarakat Jawa Terhadap Tradisi Membangun Rumah di Desa Bandar Negeri Kabupaten Lampung Timur” (2018), dan "Islam dan Tradisi Jawa: Pencarian Motif Dan Makna Dalam Tradisi Selametan Mendirikan Rumah Di Dusun Gentan Ngrupit Jenangan Ponorogo” (2016).
Selain itu, ritual tersebut juga ditujukan untuk meminta restu pada tetangga agar pembangunan rumah lancar. Dalam “selametan”, pemilik rumah biasanya menyelenggarakan doa bersama dan juga membagikan “berkat” atau “sesajen” ke tetangga.
Di tiap wilayah, isi “berkat” yang dibagikan ke tetangga bisa berbeda-beda, tetapi umumnya adalah makanan dan jajanan. Dalam kasus Zuckerberg, isi “berkat” yang diberikan ke tetangga ini cukup fantastis, tak cuma makanan.
Zuckerberg diketahui memberikan paket berisi headphone peredam bising (noise-canceling), botol minuman bersoda, serta kotak donat.
Headphone dengan peredam bising tersebut diberikan Zuckerberg dengan tujuan utama untuk membuat warga sekitar bisa lebih tenang meski ada aktivitas konstruksi di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.
Belum sepenuhnya dapat restu tetangga
Meski sudah diberi “berkat”, upaya itu dinilai belum sepenuhnya efektif. Sejumlah warga masih mengeluhkan dampak pembangunan yang berkepanjangan, mulai dari kebisingan tanpa henti, jalan yang kerap ditutup, hingga puing-puing bangunan yang berserakan.
Keluhan warga juga mencakup perubahan drastis lingkungan. Beberapa tetangga menyebut kawasan yang sebelumnya tenang kini dipenuhi pengamanan ketat, kamera pengawas, serta patroli rutin petugas keamanan.
Selain itu, sejumlah properti milik Zuckerberg juga dibiarkan kosong. Padahal, wilayah tersebut dikenal mengalami krisis perumahan.
Laporan mengenai bingkisan tersebut pertama kali diungkap oleh The New York Times. Hingga kini, pihak Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan itu.
Pembangunan yang tak kunjung usai
Dalam 14 tahun terakhir, Zuckerberg diketahui telah menghabiskan lebih dari 110 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,7 triliun untuk membeli rumah di Edgewood Drive dan Hamilton Avenue, yang termasuk dalam kawasan Crescent Park.
Total ada 11 rumah yang dimiliki Zuckerberg di kompleks tersebut. Sejumlah properti telah diubah fungsinya menjadi rumah tamu, taman luas, lapangan pickleball, serta kolam renang dengan sistem hydrofloor.
Beberapa bangunan juga sempat digunakan sebagai sekolah privat untuk anak-anak Zuckerberg dan beberapa anak lain.
Zuckerberg juga menambahkan ruang bawah tanah seluas sekitar 7.000 kaki persegi. Struktur ini oleh sebagian warga disebut menyerupai "bunker".
Konsep bangunan bawah tanah serupa juga diterapkan Zuckerberg di properti miliknya di Hawaii, meski ia membantah menyebutnya sebagai bunker.
Pembangunan di kawasan Crescent Park disebut berlangsung hampir delapan tahun. Warga menyebut aktivitas konstruksi yang terus-menerus membuat lingkungan sekitar tidak lagi nyaman untuk ditinggali.
Menanggapi keluhan tersebut, juru bicara mengatakan kepada Fortune bahwa Zuckerberg dan keluarganya telah menjadikan Palo Alto sebagai rumah selama lebih dari satu dekade.
Menurutnya, Zuckerberg berupaya meminimalkan gangguan dan bahkan melampaui kewajiban yang ditetapkan pemerintah setempat.
"Mereka menghargai peran sebagai bagian dari komunitas dan telah mengambil sejumlah langkah yang melampaui ketentuan lokal untuk meminimalisasi gangguan di lingkungan sekitar," ujar juru bicara tersebut.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #mark #zuckerberg #juga #bagi #bagi #berkat #tetangga #saat #renovasi #rumah #isinya