Bos Instagram: Feed Estetik Sudah Mati di Era Konten AI yang Merajalela
Ilustrasi Instagram.(Freepik)
10:09
2 Januari 2026

Bos Instagram: Feed Estetik Sudah Mati di Era Konten AI yang Merajalela

Ringkasan berita:

  • Bos Instagram menyebut feed estetik “sudah mati”, Adam Mosseri menilai banjir konten AI membuat visual yang terlalu sempurna jadi murah, membosankan, dan tak lagi terasa otentik.
  • Interaksi bergeser ke konten yang lebih “raw”, pengguna kini lebih aktif berbagi momen personal lewat DM, sementara kreator didorong menampilkan keaslian, bukan feed yang terlalu dikurasi.
  • Warganet terbelah soal biang masalah, sebagian menyalahkan AI, sementara lainnya menuding algoritma Instagram yang dianggap menjauhkan pengguna dari konten kreator yang mereka ikuti.

- Maraknya konten bikinan kecerdasan buatan (AI) diyakini telah mengubah wajah Instagram (IG) saat ini. Feed Instagram yang dulu estetik, rapi, dan penuh foto “cantik” kini disebut sudah mati dan tak lagi relevan.

Pernyataan ini datang langsung dari Head of Instagram, Adam Mosseri lewat 20 slide pesan akhir tahun yang ia unggah di akun Instagram pribadinya baru-baru ini.

"Kecuali Anda berusia di bawah 25 tahun dan menggunakan IG, Anda mungkin masih membayangkan IG sebagai feed foto kotak yang rapi, penuh makeup, kulit mulus, kontras tinggi, dan lanskap indah. Feed itu sudah mati,” tulis Mosseri.

Menurut Mosseri, pengguna sudah lama berhenti membagikan momen personal di feed utama.

Kini, interaksi personal kini lebih banyak terjadi lewat direct message (DM), dengan foto seadanya yang menonjolkan otentisitas, seperti jepretan sepatu atau candid yang jauh dari kata estetik.

Masuknya AI semakin mempercepat pergeseran tersebut. Mosseri menilai citra visual yang “terlalu sempurna” kini menjadi sesuatu yang murah untuk dibuat dan membosankan untuk dikonsumsi.

“Konten yang tampak menarik kini mudah diproduksi dan tidak lagi terasa istimewa. Orang ingin sesuatu yang terasa nyata,” tulis bos Instagram itu.

Ia juga menyoroti bagaimana feed media sosial mulai dipenuhi konten sintetis, mulai dari gambar hingga video yang dihasilkan AI. Dengan alat seperti Midjourney dan Sora OpenAI, siapa pun kini bisa membuat visual realistis dalam hitungan detik.

Kondisi ini, kata Mosseri, memaksa kreator untuk beradaptasi. Ia mendorong kreator meninggalkan feed yang terlalu terkurasi dan mulai merangkul estetika yang lebih apa adanya dan tidak sempurna.

“Raw bukan lagi sekadar gaya visual, tapi bukti keaslian,” tulis Mosseri.

      View this post on Instagram      

A post shared by Adam Mosseri (@mosseri)

Di sisi lain, Mosseri mengakui tantangan besar yang dihadapi platform media sosial, termasuk Instagram.

Seiring teknologi AI makin canggih, kemampuan platform untuk membedakan konten asli dan buatan AI akan semakin menurun.

“Untuk sebagian besar hidup saya, saya bisa mengasumsikan bahwa foto dan video yang saya lihat adalah rekaman nyata dari momen di dunia nyata. Itu sudah tidak lagi berlaku,” katanya.

Alih-alih mengejar konten AI, Mosseri mengusulkan pendekatan berbeda. Ia menyebut akan lebih masuk akal jika kamera digital atau kamera smartphone menandai foto asli secara kriptografis (dienkripsi) sejak pertama kali diambil, sebagai bukti keaslian.

Ilutsrasi AI Studio MetaMeta Ilutsrasi AI Studio Meta

Meta sendiri tengah berjibaku dengan dilema ini.

Di satu sisi, perusahaan agresif mengintegrasikan AI ke Instagram dan Facebook, termasuk lewat AI Studio yang memungkinkan pengguna membuat chatbot atau versi digital diri mereka. Di sisi lain, label konten AI yang diterapkan Meta diakui belum sepenuhnya andal.

Mosseri menegaskan Instagram perlu berevolusi, mulai dari pelabelan konten AI yang lebih jelas, transparansi soal siapa yang memposting, hingga penyediaan alat kreatif agar kreator manusia tetap bisa bersaing dengan konten buatan AI, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Business Insider.

Pendapat warganet

Fungsi fitur baru Instagram Your Algorithm.cnet.com Fungsi fitur baru Instagram Your Algorithm.

Unggahan Mosseri itu langsung menuai beragam respons dari warganet. Sebagian netizen sepakat dengan pandangan bahwa keaslian akan selalu menang di tengah banjir konten AI.

“Keaslian selalu menang,” tulis seorang pengguna.

Komentar lain menyebut lebih menyukai konten yang apa adanya dibanding visual yang terlalu dipoles atau sepenuhnya dibuat AI.

“Konten manusia yang mentah dan orisinal jauh lebih terasa koneksinya. Buat lebih banyak, edit lebih sedikit. Jadi manusia, itu algoritma yang sebenarnya,” tulis pengguna IG lainnya.

Namun, tidak sedikit pula komentar bernada kritis yang justru menyoroti peran Instagram sendiri dalam mengubah perilaku pengguna.

Sejumlah netizen menilai masalah utama bukan semata AI, melainkan algoritma Instagram yang dianggap semakin menjauhkan pengguna dari konten kreator yang mereka ikuti (follow).

“Ini alasan kenapa banyak orang merasa Instagram makin kehilangan arah. Algoritma yang kalian bangun menyembunyikan orang-orang yang kami pilih untuk follow. Feed sekarang dipenuhi iklan dan ide yang diulang-ulang,” tulis seorang pengguna panjang lebar.

Netizen tersebut bahkan mendesak Instagram mengembalikan feed kronologis sebagai opsi utama, atau setidaknya menyediakan tab khusus tanpa campur tangan algoritma.

Menurut pengguna tersebut, sistem saat ini melelahkan pengguna, merugikan kreator, dan berdampak pada bisnis kecil.

Ilustrasi InstagramSocial Insider Ilustrasi Instagram

Keluhan serupa juga datang dari pengguna lain yang menilai Instagram telah kehilangan sisi “sosial”-nya.

“Dulu Instagram itu tempat bersenang-senang dan melepas penat. Sekarang terasa seperti kerja, penuh strategi, metrik, dan tekanan performa. Bahkan saat kami posting, pengikut kami sendiri belum tentu melihatnya,” tulis seorang netizen.

Di tengah perdebatan tersebut, ada pula komentar yang melihat perubahan ini sebagai bagian dari transisi zaman.

Seorang pengguna menyebut revolusi AI sebagai sesuatu yang rumit sekaligus menarik, sembari menekankan pentingnya tetap menjaga koneksi dengan dunia nyata agar tidak sepenuhnya larut dalam konten buatan AI.

Tag:  #instagram #feed #estetik #sudah #mati #konten #yang #merajalela

KOMENTAR