Ilmuwan China Bikin Storage Digital Pakai DNA, Bisa Simpan Data hingga 362.000 TB
Ilustrasi perangkat kase tape yang bisa menyimpan pita kaset.(LiveScience)
16:12
31 Desember 2025

Ilmuwan China Bikin Storage Digital Pakai DNA, Bisa Simpan Data hingga 362.000 TB

Ringkasan berita:

  • Ilmuwan China mengembangkan “DNA Cassette Tape”, media penyimpanan berbasis DNA sintetis yang mampu menampung ratusan ribu TB data dan mengawetkannya hingga 20.000 tahun.
  • Data digital diubah menjadi urutan basa DNA lalu disimpan pada pita plastik, bisa dibaca dan dikelola seperti sistem file modern menggunakan perangkat mirip pemutar kaset.
  • Belum siap dipakai massal, karena biaya produksi mahal dan akses data lambat, tetapi dinilai menjanjikan sebagai solusi arsip jangka panjang di era ledakan data dan AI.

– Sekelompok ilmuwan asal China mengembangkan teknologi penyimpanan data (storage) baru yang diklaim mampu menyimpan miliaran lagu, puluhan miliar foto, hingga beragam berkas digital lain dalam satu perangkat berukuran ringkas.

Teknologi tersebut hadir dalam bentuk “DNA Cassette Tape”, yaitu pita plastik panjang yang dilapisi DNA sintetis yang bisa menyimpan data digital.

Selain bisa menyimpan banyak data, perangkat ini juga disebut dapat "mengawetkan" data hingga 20.000 tahun jika disimpan pada suhu beku (0 derajat Celcius).

Pengembangan teknologi DNA Cassette Tape ini dipublikasikan dalam jurnal Science Advances pada September 2025 lalu.

Dalam riset tersebut, para peneliti menunjukkan bahwa sekitar satu kilometer pita DNA dapat menyimpan hingga 362.000 terabyte (TB) data, setara dengan kurang lebih 60 miliar foto beresolusi tinggi atau data.

Ini jauh lebih besar dari penyimpanan laptop atau PC yang biasanya berkisar di 500 GB - 2 TB, atau smartphone di angka 128-512 GB. Lantas, bagaimana cara kerja DNA Cassette Tape ini?

Cara kerja pita DNA penyimpan data

DNA dikenal sebagai molekul heliks ganda yang tersusun dari empat basa kimia, yaitu adenina (A), sitosina (C), guanina (G), dan timina (T). Urutan keempat basa ini biasanya menyimpan informasi genetik makhluk hidup, termasuk manusia.

Di sini, para peneliti memanfaatkan prinsip serupa dengan menerjemahkan data digital berbasis angka biner (0 dan 1) ke dalam urutan basa DNA buatan.

DNA sintetis tersebut kemudian dicetak dan ditempelkan pada pita plastik sepanjang sekitar 100 meter, dan pita sepanjang ini disebut dapat menyimpan hingga sekitar 3 miliar lagu.

Menariknya, pita DNA ini dapat dimasukkan ke dalam perangkat pembaca yang bentuk dan mekanismenya menyerupai pemutar kaset (cassette tape) lawas.

Pemutar kaset ini disebut mampu memindai pita, menemukan lokasi berkas atau file tertentu berdasarkan barcode, lalu mengekstraksi DNA file di bagian tersebut.

Setelah DNA file dilepaskan, urutan basanya akan dibaca melalui proses berurut (sequencing) dan diterjemahkan kembali menjadi data digital asli, seperti gambar, dokumen, atau berkas audio.

Tak hanya membaca, sistem ini juga memungkinkan pengeditan data, pemindahan berkas ke lokasi barcode yang benar, hingga penulisan ulang DNA baru yang bisa dilakukan secara otomatis.

Diklaim tahan ratusan hingga ribuan tahun

Keunggulan utama teknologi ini bukan hanya pada kapasitasnya yang sangat besar, tetapi juga daya tahannya.

DNA pada pita tersebut disimpan dalam struktur pelindung bernama metal-organic frameworks (MOFs), yaitu “kandang” molekuler berbahan ion seng yang melindungi DNA dari kerusakan lingkungan.

Berdasarkan pengujian, data pada pita DNA ini diklaim dapat bertahan sekitar 345 tahun pada suhu ruangan. Jika disimpan pada suhu 0 derajat Celsius, usia data diperkirakan bisa mencapai 20.000 tahun.

Jika pita mengalami kerusakan fisik, peneliti menyebut bahwa media penyimpanan ini masih bisa diperbaiki menggunakan selotip transparan tanpa menghilangkan data di dalamnya.

Para peneliti menilai teknologi ini berpotensi menjadi solusi atas ledakan data digital global, yang semakin parah seiring berkembangnya kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif.

Model AI membutuhkan penyimpanan data dalam jumlah sangat besar, baik untuk pelatihan maupun arsip jangka panjang.

Apabila terus mengandalkan pusat data (data center) konvensional, kebutuhan energi dan ruang fisik akan terus membengkak.

DNA, menurut para ilmuwan, memiliki kepadatan informasi yang sangat tinggi dan tidak memerlukan listrik untuk mempertahankan data, sehingga berpotensi mengurangi ketergantungan pada data center berskala raksasa.

Masih mahal dan lambat

Meski terdengar revolusioner, teknologi pita DNA ini belum siap digunakan secara luas. Sebab, proses pembuatan DNA sintetis masih mahal dan memerlukan peralatan besar.

Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengambil satu berkas atau file dari pita DNA mencapai sekitar 25 menit, jauh lebih lambat dibandingkan penyimpanan digital konvensional.

Karena itu, para peneliti menegaskan bahwa sistem ini belum layak menjadi solusi arsip data massal saat ini, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari LiveScience.

Kendati begitu, riset ini dinilai sebagai salah satu terobosan pertama yang menunjukkan sistem penyimpanan DNA dengan perilaku layaknya sistem penyimpanan file modern, di mana data bisa dicari, dipindahkan, diubah, dan dihapus secara otomatis.

Ke depan, para ilmuwan berharap teknologi ini dapat dikembangkan lebih lanjut agar mampu menyimpan data “dingin” (jarang diakses) maupun data “hangat” (sering diakses) dalam format yang jauh lebih ringkas dan berkelanjutan.

Tag:  #ilmuwan #china #bikin #storage #digital #pakai #bisa #simpan #data #hingga #362000

KOMENTAR