Lou Gerstner Wafat, Mantan CEO IBM dan Sosok Kunci Perusahaan di Tengah Krisis
Lou Gerstner meninggal dunia pada usia 83 tahun. Gerstner merupakan mantan CEO IBM (International Business Machines) yang dikenal sebagai sosok kunci di balik kebangkitan perusahaan tersebut pada era 1990-an. (Reuters)
08:12
29 Desember 2025

Lou Gerstner Wafat, Mantan CEO IBM dan Sosok Kunci Perusahaan di Tengah Krisis

Ringkasan berita:

  • Mantan CEO IBM Lou Gerstner wafat di usia 83 tahun, sosok kunci di balik kebangkitan IBM saat krisis besar pada era 1990-an.
  • Gerstner menolak memecah IBM, mengubah fokus bisnis dari hardware ke solusi dan layanan teknologi terintegrasi berbasis kebutuhan pelanggan.
  • Di bawah kepemimpinannya, saham IBM naik sekitar 800 persen, meski diwarnai kebijakan sulit seperti penghapusan tradisi “pekerjaan seumur hidup”.

- Lou Gerstner meninggal dunia pada usia 83 tahun. Gerstner merupakan mantan CEO IBM (International Business Machines) yang dikenal sebagai sosok kunci di balik kebangkitan perusahaan tersebut pada era 1990-an.

IBM yang juga dijuluki sebagai "Big Blue" merupakan perusahaan teknologi legendaris yang sudah berdiri sejak Juni 1911 di New York, Amerika Serikat.

Kabar wafatnya Gerstner disampaikan langsung oleh manajemen IBM kepada karyawan lewat sebuah e-mail. Isi email juga diunggah di laman resmi Newsroom IBM pada Minggu (28/12/2025).

CEO IBM saat ini, Arvind Krishna, menyebut Gerstner sebagai pemimpin yang datang di saat masa depan perusahaan benar-benar berada di ujung tanduk.

Gerstner memimpin IBM pada periode 1993 hingga 2002, sebuah fase kritis ketika perusahaan mengalami kerugian besar, tekanan finansial, dan banyak spekulasi luas bahwa IBM akan dipecah menjadi beberapa entitas terpisah.

Saat itu, industri teknologi juga tengah berubah cepat, membuat posisi IBM semakin tertekan.

Alih-alih memecah perusahaan, Gerstner mengambil keputusan berani dengan mempertahankan IBM sebagai satu kesatuan.

Ia mengubah fokus bisnis IBM dari sekadar penjualan perangkat keras menjadi penyedia solusi teknologi dan layanan terintegrasi bagi klien korporasi. Pendekatan berbasis kebutuhan pelanggan ini kemudian menjadi fondasi kebangkitan IBM.

Selain strategi bisnis, Gerstner juga dikenal melakukan perubahan budaya besar-besaran di tubuh IBM.

Ia menekankan pengambilan keputusan yang tegas, eksekusi yang disiplin, serta akuntabilitas di setiap lini. Inovasi, menurut Gerstner, hanya berarti jika benar-benar memberi nilai nyata bagi pelanggan.

Di sisi lain, keberhasilan kepemimpinan Gerstner juga diwarnai langkah-langkah sulit, termasuk penghapusan kebijakan “pekerjaan seumur hidup” (alias tak ada PHK) yang telah menjadi tradisi IBM selama puluhan tahun.

Meski kontroversial, kebijakan tersebut dinilai berperan penting dalam menstabilkan keuangan perusahaan dan meningkatkan daya saing IBM.

Di bawah kepemimpinannya, saham IBM tercatat naik sekitar 800 persen dibandingkan saat ia pertama kali menjabat sebagai CEO.

Gerstner juga dikenal sebagai penulis buku bertajuk "Who Says Elephants Can’t Dance", yang mengisahkan pengalamannya membenahi IBM dari dalam.

Sebelum bergabung dengan IBM, Gerstner memiliki karier panjang di dunia korporasi. Ia pernah menjadi mitra di McKinsey & Company, menjabat Presiden American Express, serta menjadi CEO RJR Nabisco.

Setelah pensiun dari IBM pada 2002, ia menjabat sebagai chairman Carlyle Group hingga 2008.

Di luar dunia bisnis, Gerstner aktif di bidang filantropi, khususnya pendidikan dan riset biomedis. Ia mendirikan Gerstner Philanthropies dan mendorong pemanfaatan teknologi IBM untuk sekolah-sekolah di Amerika Serikat.

IBM menyatakan akan menggelar peringatan khusus untuk mengenang warisan kepemimpinan Lou Gerstner pada perayaan tahun baru 2026, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Reuters dan laman resmi IBM.

Tag:  #gerstner #wafat #mantan #sosok #kunci #perusahaan #tengah #krisis

KOMENTAR