5 Alasan Real Madrid Pecat Xabi Alonso di Pertengahan Musim
5 Alasan Utama Real Madrid dan Xabi Alonso Pisah Jalan di Pertengahan Musim [Instagram]
09:54
13 Januari 2026

5 Alasan Real Madrid Pecat Xabi Alonso di Pertengahan Musim

Baca 10 detik
  • Pemecatan Xabi Alonso terjadi tujuh bulan kemudian akibat kekalahan final Piala Super Spanyol dari Barcelona.
  • Janji permainan intensitas tinggi Xabi Alonso tidak terwujud, menyebabkan tim kurang energi dan kesulitan hadapi pertahanan rendah.
  • Kombinasi hasil buruk, krisis kreativitas lini tengah, serta ketegangan ruang ganti memicu berakhirnya kerja sama klub tersebut.

Kebersamaan Real Madrid dan Xabi Alonso resmi berakhir hanya tujuh bulan setelah dimulai.

Pelatih asal Basque itu didepak dari kursi pelatih Los Blancos menyusul kekalahan di final Piala Super Spanyol dari Barcelona.

Meski sempat diawali optimisme tinggi, kepercayaan manajemen dan ruang ganti perlahan memudar.

Berikut lima faktor utama yang melatarbelakangi keputusan Real Madrid mengakhiri kerja sama dengan Xabi Alonso.

Hasil dan Tekanan Tanpa Ampun di Madrid

Di Real Madrid, tidak ada istilah kalah terhormat. Meski tim sempat menunjukkan progres di awal musim, kegagalan meraih gelar Piala Dunia Antarklub dan performa buruk di semifinal melawan PSG menjadi noda awal.

Kekalahan telak 2-5 dari Atletico Madrid di Metropolitano menjadi titik balik, setelah itu performa tim terus menurun hingga mencapai puncaknya di Jeddah.

Janji Palsu Xabi Alonso

Xabi Alonso menjanjikan permainan agresif dengan pressing tinggi dan intensitas tinggi.

Namun di lapangan, Real Madrid justru kerap tampil tanpa energi.

Persiapan fisik dipertanyakan, pressing nyaris menghilang, dan tim kembali kesulitan menghadapi lawan yang bertahan rendah, masalah lama yang juga muncul di era Carlo Ancelotti. Identitas permainan yang dijanjikan tak pernah benar-benar terwujud.

Krisis Kreativitas di Lini Tengah

Masalah Madrid bukan sepenuhnya kesalahan pelatih. Xabi Alonso meminta gelandang kreatif sebagai otak permainan, namun klub tidak memenuhinya.

Kepergian Luka Modric—keputusan klub yang bertentangan dengan keinginan pelatih, membuat lini tengah kehilangan pengatur tempo.

Tchouameni, Camavinga, dan Valverde punya kualitas fisik dan energi, tetapi bukan tipikal pengendali permainan.

Jude Bellingham memiliki kualitas itu, namun sering dimainkan di berbagai posisi hingga perannya tak maksimal.

Krisis di Ruang Ganti

Masalah non-teknis turut mempercepat kejatuhan Xabi Alonso.

Gaya kepelatihannya yang detail dan sangat taktikal tidak sepenuhnya diterima pemain setelah era Ancelotti yang lebih santai.

Ketegangan memuncak saat Vinicius Junior beberapa kali ditarik keluar dan menunjukkan protes terbuka di Clasico.

Klub memilih tak menjatuhkan sanksi dan menyerahkan situasi kepada pelatih, namun konflik tak pernah benar-benar reda.

Retaknya hubungan dengan Vinicius, ditambah ruang ganti yang terbelah serta minimnya kontinuitas bagi pemain muda seperti Arda Guler dan Franco Mastantuono, menjadi faktor penentu.

Kekalahan di Jeddah

Keterbatasan membangun serangan dari belakang terlihat jelas di Piala Super Spanyol.

Saat melawan Atletico Madrid, Thibaut Courtois berkali-kali dipaksa melepas umpan panjang untuk menghindari tekanan lawan.

Real Madrid tampil seperti tim kecil, minim solusi, kurang berani, dan mengandalkan bola kedua.

Di klub sebesar Madrid, bukan hanya hasil yang dinilai, tetapi juga cara bermain, dan citra di Jeddah dinilai tak bisa ditoleransi.

Kontributor: Adam Ali

Editor: Galih Prasetyo

Tag:  #alasan #real #madrid #pecat #xabi #alonso #pertengahan #musim

KOMENTAR