Kisah Ramadan Pertama Para Mualaf: Antara Adaptasi, Haru, dan War Takjil
- Mualaf Kukuh (34 tahun) berpuasa pertama kali karena rasa penasaran dan mendapati tantangan bangun sahur.
- Agatha (28 tahun) mengenal Islam melalui lingkungan multikultural dan antusias menantikan momen silaturahmi keluarga.
- Bayu (30 tahun) memilih Islam karena ingin menikah dengan pasangan Muslim, menantikan kegiatan berburu takjil.
Gema bulan suci Ramadan yang segera tiba membawa getaran spiritual yang berbeda bagi para mualaf di tanah air.
Bagi mereka yang baru saja memeluk Islam, Ramadan tahun ini akan menjadi lembaran sejarah baru sebagai pengalaman berpuasa pertama kalinya.
Kukuh, seorang pria berusia 34 tahun, menjadi salah satu sosok yang tengah bersiap diri menyelami indahnya bulan penuh ampunan tersebut.
Keputusannya memeluk Islam lahir dari rasa penasaran yang sudah membekas di benaknya sejak lama.
"Jadi sebenarnya udah pengen penasaran buat belajar-belajarnya udah lumayan lama, cuma baru akhirnya setelah mempelajari baru kayak yang rasa kayaknya ini yang paling cocok sih gitu. Paling bener sama paling cocok buat saya gitu," ungkap Kukuh saat bercerita tentang hidayah yang ia jemput kepada Suara.com, Jumat (13/2/2026).
Kini, tantangan nyata sudah ada di depan mata, yakni menahan lapar dan dahaga dari fajar menyingsing hingga matahari terbenam.
Kukuh mengaku perjalanannya memulai puasa tahun ini merupakan sebuah perjuangan yang sangat berkesan dan menantang.
"Epik sih belajar puasa dari nol, sih. Kenapa susah ya? Mungkin karena belum terbiasa bangun pagi buat sahur, terus abis itu kan baru makan lagi pas buka, lama jedanya," tuturnya.
Meski harus beradaptasi dengan pola tidur dan jadwal makan yang berubah drastis, ada antusiasme yang membuncah di dalam hatinya.
Kukuh sangat menantikan keriuhan khas bulan Ramadan, terutama fenomena kuliner musiman yang hanya muncul setahun sekali.
"Nyari takjil kali ya. Soalnya banyak makanan aneh-aneh biasanya kalau lagi bulan Ramadan. Seru, gitu," kata Kukuh dengan nada penuh semangat.
Selain Kukuh, cerita menarik lainnya datang dari Agatha, seorang perempuan berusia 28 tahun yang juga akan menjalani Ramadan pertamanya.
Lingkungan sosial dan keluarga yang multikultural menjadi jembatan bagi Agatha untuk mengenal Islam lebih dalam sejak masa kecilnya.
"Alasannya pertama faktor sosial dan lingkungan sih, karena kan keluarga juga ada yang Muslim dan temen juga mayoritas Muslim. Jadi dulu misal lagi pulang kampung ke keluarga yang Muslim, kalau ziarah ke makam nenek, suka dipakaiin hijab. tiap di sekolah pas pelajaran agama Islam nggak keluar kelas, tapi milih di kelas sambil dengerin. Kalau lagi main sama temen, mereka lagi salat, suka liatin mereka salat. Dari sana jadi punya pengalaman spiritual sih, kayak ngerasa nyaman dan tenang gitu setelah melihat dan mengamati ajaran agama Islam," kenang Agatha.
Berbeda dengan pemula pada umumnya, Agatha merasa fisik dan mentalnya sudah cukup terlatih untuk menghadapi ujian menahan lapar.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan ritme puasa di keyakinan sebelumnya, namun tetap menemukan keunikan tersendiri dalam syariat Islam.
"Sebenarnya puasa di agama yang sebelumnya ada, malah seharian puasanya. Jadi kalau puasa sih udah terbiasa. Tapi kalau sekarang, puasa yang mungkin buat berkesan karena ada sahur dan menjelang berbuka. Soalnya dari dulu emang suka banget ikut ngabuburit nyari takjil," jelas Agatha.
Bagi Agatha, Ramadan bukan sekadar ritual ibadah individu, melainkan momen perekat tali silaturahmi dengan orang-orang terkasih.
Ia sudah membayangkan kemeriahan hari kemenangan dan kehangatan berkumpul bersama keluarga besar di penghujung bulan suci nanti.
"Momen buka bersama sama keluarga atau teman, war takjil, tarawih berjamaah di masjid, Lebaran dan silahturahmi, di mana semua anggota keluarga dan orang-orang kumpul saling bermaafan, dan yang terakhir menu Ramadan kaya ketupat, opor atau gulai ayam, rendang, sambal goreng ati, dan kue-kue kering," kisahnya.
Tak hanya Agatha dan Kukuh, antusiasme serupa juga dirasakan oleh Bayu. Berbeda dengan yang lain, perjalanan lelaki 30 tahun menuju mualaf bermula dari niat tulus untuk membangun rumah tangga.
"Gara-gara dapet ilham pengen nikah aja sih, karena pasangan saya Muslim," akunya.
Menghadapi Ramadan perdana, Bayu merasa tidak terlalu terkejut dengan ritme ibadah puasa karena suasana toleransi sudah menjadi bagian dari kesehariannya sejak lama.
Selain faktor lingkungan, latar belakang agamanya terdahulu juga memberinya bekal kedisiplinan dalam menahan diri.
"Di Katolik juga pas Paskah, ada pantang pas mau Paskah. Itu mirip-mirip kek puasa," tambahnya.
Hal yang paling dinanti Bayu di Ramadan tahun ini adalah tradisi berburu kudapan berbuka karena akan menjalaninya sebagai pelaku ibadah, bukan sekadar penggembira.
"Nyari takjil sih. Dari dulu udah sering ikut, dan kayaknya seru aja karena sekarang nyari takjilnya beneran buat buka puasa," pungkas Bayu dengan antusias.
Perjalanan spiritual Kukuh, Agatha, dan Bayu menjadi bukti bahwa Ramadan selalu membawa warna dan cerita baru bagi setiap hamba yang menjalaninya dengan hati yang tulus.
Tag: #kisah #ramadan #pertama #para #mualaf #antara #adaptasi #haru #takjil