Diplomasi Lapangan: Mereplikasi Sukses UNIFIL di Koridor Gaza
WACANA pengerahan 8.000 prajurit TNI ke Jalur Gaza di bawah panji International Stabilization Force (ISF) menandai babak baru dalam sejarah politik luar negeri Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Jakarta tampaknya mulai menanggalkan jubah diplomasi retoris yang selama ini mendominasi podium PBB, dan menggantinya dengan "diplomasi lapangan" yang nyata dan berisiko tinggi.
Namun, di balik ambisi geopolitik tersebut, muncul pertanyaan krusial: sejauh mana profesionalisme TNI mampu menavigasi palagan yang disebut-sebut sebagai wilayah paling volatil di muka bumi saat ini?
Modal Sosial dari Lebanon Selatan
Jawaban atas keraguan tersebut sebenarnya telah tertulis selama belasan tahun di perbatasan Lebanon Selatan.
Sejak 2006, Indonesia melalui Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) XXIII, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Indobatt (Indonesian Battalion), telah menjadi tulang punggung misi UNIFIL.
Baca juga: Indonesia, Jangan Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza
Secara geografis dan sosiopolitis, Lebanon Selatan adalah "cermin" bagi Gaza. Keduanya merupakan zona flashpoint yang bersinggungan langsung dengan Israel, melibatkan aktor non-negara dengan basis massa yang kuat, serta memiliki populasi sipil yang berada di tengah impitan konflik kronis.
Keberhasilan TNI menjaga stabilitas di Blue Line (garis batas Lebanon-Israel) bukan sekadar prestasi militer, melainkan keberhasilan memenangkan kepercayaan dari dua pihak yang bertikai.
Pengalaman menjaga titik-titik rawan (pos observasi) dan melakukan patroli rutin di zona "abu-abu" ini adalah modal tak ternilai yang akan direplikasi saat TNI harus berjaga di Yellow Line atau koridor perbatasan Gaza nantinya.
Misi Gaza bukanlah operasi tempur konvensional, melainkan operasi stabilitas yang membutuhkan presisi tinggi.
Komposisi 8.000 personel yang disiapkan, termasuk para veteran misi PBB mencerminkan pemahaman mendalam tentang kebutuhan di lapangan.
Pertama, keberadaan Kompi-kompi Infanteri sebagai elemen pengaman sektor adalah harga mati. Tugas mereka, mulai dari patroli jalan kaki atau kendaraan taktis hingga penjagaan pos, berfungsi sebagai deterrent (penangkal) agar provokasi sekecil apa pun tidak meledak menjadi eskalasi besar.
Namun, kekuatan fisik ini hanyalah "perisai". "Pedang" utama Indonesia justru terletak pada unit-unit spesialisnya.
Unit Zeni (Engineering) dan Hospital Level II akan menjadi ujung tombak rekonstruksi. Gaza saat ini bukan hanya butuh keamanan, tapi butuh air bersih, akses jalan, dan layanan medis darurat.
Dengan rekam jejak pembangunan infrastruktur di daerah konflik, unit Zeni TNI dapat memberikan bukti nyata kehadiran Indonesia yang konstruktif.
Sementara itu, unit CIMIC (Civil-Military Coordination) dan MCOU (Military Community Outreach Unit) akan bertugas melakukan pendekatan kultural.
Baca juga: Menimbang Ulang Keanggotaan Indonesia di dalam Board of Peace
Pengalaman di Lebanon menunjukkan bahwa prajurit TNI memiliki keunggulan unik: mereka mampu berbaur dengan warga lokal tanpa menimbulkan rasa terancam, sebuah "soft power" yang jarang dimiliki oleh pasukan perdamaian dari negara-negara Barat.
Transisi dari Peace-making menuju Peace-keeping
Satu hal yang harus digarisbawahi adalah realitas bahwa Gaza saat ini belum sepenuhnya "damai". Kehadiran TNI kemungkinan besar akan dimulai dalam fase peace-making, sebuah fase di mana pasukan harus aktif menciptakan kondisi kondusif di tengah ketidakpastian gencatan senjata.
Ini adalah tugas yang jauh lebih berat daripada sekadar menjaga perdamaian yang sudah ada (peace-keeping).
Oleh karena itu, penyiapan pasukan yang melibatkan Military Police (Polisi Militer) menjadi sangat vital. Di tengah sorotan tajam mata internasional dan media global, disiplin prajurit adalah taruhan citra negara.
Satu kesalahan prosedur di lapangan dapat berdampak sistemik pada posisi diplomatik Indonesia di tingkat global.
Dengan mengirimkan personel yang pernah bertugas di misi PBB, Indonesia sedang melakukan mitigasi risiko terhadap kesalahan-kesalahan taktis tersebut.
Keterlibatan TNI di Gaza adalah perwujudan paling konkret dari amanat konstitusi untuk "ikut melaksanakan ketertiban dunia".
Baca juga: Geopolitik Indonesia Bersikap Terhadap Perdamaian di Gaza Tanpa Taring
Indonesia sedang mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa dukungan terhadap kemerdekaan Palestina tidak berhenti pada pengiriman bantuan logistik atau kecaman diplomatik, melainkan kesediaan untuk berpeluh dan bertaruh nyawa di garis depan kemanusiaan.
Jika misi ini berhasil, Indonesia tidak hanya akan mengukuhkan diri sebagai pemimpin di dunia Muslim, tetapi juga sebagai kekuatan menengah (middle power) kredibel, yang mampu menerjemahkan nilai-nilai kemanusiaan menjadi aksi stabilitas yang nyata.
Gaza akan menjadi ujian tertinggi bagi profesionalisme TNI, sekaligus pembuktian bahwa bagi Indonesia, perdamaian adalah sesuatu yang harus diperjuangkan secara fisik, bukan sekadar diimpikan.
Tag: #diplomasi #lapangan #mereplikasi #sukses #unifil #koridor #gaza