Tragedi Siswa SD di NTT, Anggota DPR: Sedih dan Menyakitkan
Ilustrasi bunuh diri. (Istock Photo)
15:34
4 Februari 2026

Tragedi Siswa SD di NTT, Anggota DPR: Sedih dan Menyakitkan

- Anggota Komisi VIII DPR Mahdalena menilai tragedi kasus bunuh diri siswa SD berinisial YBS (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan tamparan keras.

Tragedi tersebut diduga dipicu oleh ketidakmampuan keluarga memenuhi permintaan korban untuk membeli buku dan alat tulis.

Menurutnya, negara harus serius dalam melindungi dan memuliakan anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa.

Baca juga: Mengenal Hak Anak yang Wajib Dipenuhi Negara Usai Tragedi Siswa SD di NTT

"Sedih dan menyakitkan jika ada anak-anak yang justru tumbang karena sistem tidak berpihak. Ini bukan hanya duka keluarga, tapi duka bangsa," ujar Mahdalena dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/2/2026).

Peristiwa di NTT itu, kata Mahdalena, merupakan bentuk nyata ketidakadilan sosial dan lemahnya perlindungan sosial untuk anak.

Kasus tersebut juga menunjukkan bahwa negara belum hadir sepenuhnya dalam memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak.

"Anak adalah masa depan bangsa. Mereka adalah fondasi Indonesia Emas 2045. Jika hari ini masih ada anak yang tidak berdaya bahkan untuk sekadar belajar, maka ada yang keliru dalam sistem perlindungan sosial kita," ujar Mahdalena.

Baca juga: Legislator: Kasus Siswa SD di NTT Bukti Kebijakan Pendidikan Belum Berpihak Kelompok Rentan

Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah mengevaluasi program perlindungan sosial dan pendidikan untuk anak.

Terutama memastikan bantuan pendidikan di daerah-daerah yang berada di tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

"Negara tidak boleh menunggu tragedi demi tragedi baru bergerak. Perlindungan sosial anak harus bersifat preventif, bukan reaktif. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi korban ketidakadilan sosial hingga kehilangan masa depan dan harapan hidup," ujar Mahdalena.

Baca juga: Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri, Anggota DPR: Potret Buram Hak Dasar Pendidikan

Dikutip dari Kompas.id, dalam artikel berjudul, "Anak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara", kematian YBS (10), yang diduga akibat bunuh diri, adalah tragedi kemanusiaan.

Siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, itu putus asa dengan keadaan yang dialaminya.

Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp 10.000, ibunya MGT (47) menjawab: mereka tak punya uang.

Tag:  #tragedi #siswa #anggota #sedih #menyakitkan

KOMENTAR