Tetapkan Arah Pembangunan 2026, Pemkot Surabaya Fokus Dorong Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menetapkan arah kebijakan pembangunan 2026. Dengan dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026 sebesar Rp 12,755 triliun, Surabaya bersiap melakukan akselerasi di berbagai sektor strategis, mulai dari penguatan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pemerataan kesejahteraan sosial.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa seluruh program pembangunan 2026 tetap mengedepankan kesejahteraan sosial dan kebijakan pro-rakyat. Ia menekankan pentingnya keberanian dalam pengambilan keputusan agar APBD mampu mendorong pergerakan ekonomi secara optimal.
“Pertumbuhan ekonomi kita tidak boleh mundur meski ada pengurangan transfer daerah. Jadi, dibutuhkan keberanian, keteguhan, dan kekuatan kebersamaan agar Surabaya tetap maju,” kata Eri dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Surabaya Luncurkan SHSS pada Akhir 2025, Diskon Besar-besaran di Sektor Wisata hingga Kuliner
Menurutnya, keberhasilan pembangunan Kota Surabaya sangat bergantung pada sinergi antara eksekutif dan legislatif. Ia optimistis, kekuatan ekonomi Surabaya terletak pada kolaborasi yang solid di tengah tantangan fiskal.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kami yakin program pro-rakyat tetap berjalan dan pembangunan infrastruktur kota terus berlanjut,” ujarnya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya Irvan Wahyudrajad menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Surabaya pada 2026 ditargetkan mencapai 5,80 persen.
Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada Triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 5,59 persen secara tahunan (yoy).
Secara historis, perekonomian Kota Surabaya sempat mencapai puncaknya pada 2022 dengan pertumbuhan 6,51 persen. Perekonomian kemudian bergerak relatif stabil di kisaran 5,70–5,76 persen sepanjang 2023–2024.
Baca juga: Operasi Drainase Besar-besaran! Pemkot Surabaya Gempur Titik Rawan Banjir Jelang Puncak Musim Hujan
Irvan menjelaskan, struktur ekonomi Surabaya masih ditopang oleh tiga sektor utama. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor menjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan kontribusi 27,63 persen.
Kontributor terbesar berikutnya adalah Industri Pengolahan sebesar 18,99 persen, disusul sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang menyumbang 14,81 persen.
“Ketiga sektor ini masih menjadi tulang punggung perekonomian Kota Surabaya,” tutur Irvan.
Tingkatkan kesejahteraan sosial
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, Pemkot Surabaya juga menargetkan peningkatan signifikan pada indikator kesejahteraan sosial.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada 2026 diproyeksikan turun menjadi 4,47 persen melanjutkan tren penurunan dari 9,68 persen pada 2021.
Baca juga: Inovasi Dashboard Satu Data Bawa Surabaya Jadi Kota Terbaik Versi BRIN 2025
Sementara itu, tingkat kemiskinan ditargetkan menurun menjadi 3,48 persen dari realisasi 3,96 persen pada 2024 dan 3,56 persen pada 2025.
Menurut Irvan, penurunan angka kemiskinan diarahkan melalui intervensi terpadu yang mencakup pengurangan beban pengeluaran masyarakat, peningkatan pendapatan rumah tangga, serta penanganan kantong-kantong kemiskinan berbasis kewilayahan.
Dalam rangka memperkuat fondasi ekonomi lokal, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran Rp 37,42 miliar untuk program penguatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pada 2026. Anggaran ini diwujudkan melalui 16 program yang dilaksanakan oleh perangkat daerah terkait.
Selain itu, Pemkot Surabaya juga mengalokasikan Rp 1,62 miliar untuk penguatan sektor ekonomi kreatif melalui tiga program yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar).
Pada 2026, Pemkot Surabaya bersiap melakukan akselerasi di berbagai sektor strategis, mulai dari penguatan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pemerataan kesejahteraan sosial.
Langkah tersebut sejalan dengan upaya menjadikan ekonomi kreatif sebagai penopang pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan pariwisata.
Baca juga: Pelayanan PBG di MPP Siola Surabaya Tercepat se-Indonesia, 15 Menit Selesai
Berdasarkan kontribusi sektoral PDRB, pengembangan kawasan ekonomi Surabaya diarahkan pada kolaborasi sektor perdagangan, industri pengolahan, jasa, serta akomodasi dan makan minum dalam konsep urban tourism.
Hal itu selaras dengan perkembangan Surabaya yang ditandai dengan peningkatan jumlah hotel, restoran, kafe, dan pusat perbelanjaan, serta penguatan sektor ekonomi kreatif sebagai pendukung pariwisata kota.
Lebih lanjut, Irvan memaparkan sejumlah indikator makro utama yang menjadi sasaran pembangunan Surabaya pada 2026, di antaranya pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tingkat kemiskinan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), rasio gini, Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), serta prevalensi stunting.
“Seluruh indikator tersebut diintegrasikan dalam sistem perencanaan berbasis kinerja melalui Government Resources Management System untuk memastikan akuntabilitas dan efektivitas pembangunan,” ujarnya.
Pemkot Surabaya menargetkan IPM pada 2026 mencapai 85,77, meningkat dari 84,69 pada 2024 dan 85,65 pada 2025. Sementara PDRB per kapita ditargetkan naik menjadi Rp289,29 juta, dengan rasio gini ditetapkan sebesar 0,375.
Berkelanjutan dan progresif
Pada sektor lingkungan, Pemkot Surabaya menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 245.816,22 ton CO2 ekuivalen pada 2026.
Selain itu, Indeks Reformasi Birokrasi ditargetkan mencapai 96,11. Angka ini disesuaikan dengan perubahan metode penilaian dari Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) ke Pemerintahan Digital.
Irvan memastikan arah pembangunan Surabaya 2026 mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Surabaya 2025–2029 yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2025.
Dokumen tersebut dijabarkan secara tahunan dalam Rencana Kerja Pemerintah daerah (RKPD) dan rencana kerja perangkat daerah.
Pemkot Surabaya menargetkan pertumbuhan ekonomi Surabaya pada 2026 mencapai 5,80 persen.
Dalam APBD 2026, Pemkot Surabaya mengalokasikan Rp 2,83 triliun atau 22,49 persen untuk fungsi pendidikan dan Rp 2,46 triliun untuk fungsi kesehatan. Alokasi ini ditetapkan sebagai bentuk komitmen pemenuhan hak dasar masyarakat sekaligus peningkatan IPM.
Baca juga: Surabaya Gelontorkan Rp 42,7 Miliar, Bonus untuk Atlet Porprov Jatim 2025
Di sektor pendidikan, Pemkot Surabaya berencana membangun enam unit sekolah baru yang terdiri atas satu SD Negeri dan lima SMP Negeri di sejumlah kecamatan.
Sementara itu, di sektor kesehatan, penguatan layanan dilakukan melalui program satu Balai RW satu tenaga kesehatan, satu kelurahan satu ambulans, penguatan layanan neonatal, integrasi puskesmas pembantu, serta pengembangan telehealth.
Pemkot Surabaya juga mendorong pengembangan medical tourism yang didukung tujuh rumah sakit terakreditasi Kementerian Kesehatan.
Selain itu, intervensi sosial terpadu juga dilakukan secara konsisten bagi kelompok rentan, mencakup perempuan, anak, lansia, penyandang disabilitas, serta orang dengan gangguan jiwa yang telah pulih.
“Secara keseluruhan, target pembangunan 2026 ditetapkan lebih progresif sebagai bagian dari strategi untuk mewujudkan Surabaya sebagai kota yang maju, humanis, dan berkelanjutan,” imbuh Irvan. (ADV)
Tag: #tetapkan #arah #pembangunan #2026 #pemkot #surabaya #fokus #dorong #ekonomi #kesejahteraan #sosial