Menerawang Peluang PSI Mengubah Kandang Banteng menjadi Kandang Gajah
Bendera berlogo PSI Super TBK bergambar Gajah Merah-Hitam di Kota Solo, pada Senin (14/7/2025)(KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati)
17:14
26 Januari 2026

Menerawang Peluang PSI Mengubah Kandang Banteng menjadi Kandang Gajah

- Suatu daerah dapat disebut sebagai kandang partai politik ketika wilayah tersebut secara konsisten selalu memenangkan partai tertentu dalam pemilihan legislatif, meski hasilnya tidak selalu selaras dengan kemenangan dalam pemilihan presiden.

Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menjelaskan dominasi tersebut biasanya terlihat jelas dalam pemilihan legislatif (Pileg) yang berulang dari satu pemilu ke pemilu berikutnya.

“Ketika di daerah tersebut selalu memenangkan suara partai tertentu dan dominan di Pileg, itu bisa disebut kandang. Namun, kadang tidak selaras dengan suara Pilpres karena faktor-faktor tertentu, seperti yang terjadi pada Pilpres 2024 kemarin,” ujar Iwan kepada Kompas.com, Senin (26/1/2026).

Menurut dia, ketidaksinkronan itu wajar karena karakter Pilpres berbeda dengan Pileg.

Pilpres ditentukan oleh akumulasi suara dari seluruh daerah di Indonesia, sehingga kemenangan partai di satu wilayah tidak otomatis menentukan kemenangan secara nasional.

“Karena Pilpres itu ditentukan oleh suara semua daerah di Indonesia,” kata Iwan.

Istilah “kandang” kembali ramai diperbincangkan setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka menantang dominasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Jawa Tengah dan Bali.

Dua wilayah tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai basis elektoral kuat partai berlambang banteng moncong putih.

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep bahkan menyerukan perubahan wilayah yang selama ini disebut “Kandang Banteng” menjadi “Kandang Gajah” dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) PSI Jawa Tengah di Solo, Kamis (8/1/2026).

Seruan serupa disampaikan Ketua Harian PSI Ahmad Ali kepada kader PSI Bali agar menjadikan Pulau Dewata sebagai “kandang” gajah dengan memperkuat dan merawat budaya lokal.

Menerawang peluang PSI ubah kandang banteng

Iwan menilai, upaya PSI menjadikan Jawa Tengah dan Bali sebagai “kandang gajah” merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap PDI-P.

“PSI ingin menantang PDI-P untuk perang terbuka dalam hal merebut suara di daerah tersebut,” kata Iwan.

Namun, tantangan itu dinilai tidak ringan. Menurut Iwan, PSI terlalu percaya diri jika ingin langsung menandingi PDI-P di wilayah yang telah lama menjadi basis kekuatan politiknya.

Untuk bisa menggoyang “kandang” PDI-P, Iwan menilai PSI minimal harus membangun sistem dan struktur politik yang setara.

“PDI-P di Jawa Tengah dan Bali sudah sangat mengakar dan benar-benar menjadi kandangnya,” ujarnya.

Sementara itu, posisi PSI masih tergolong rapuh. Partai ini berdiri pada 2014 dan hingga kini belum berhasil menembus ambang batas parlemen nasional.

“PSI masih partai baru dan sampai sekarang masih berjuang masuk parlemen. Artinya, harus bekerja jauh lebih keras untuk mewujudkan kata-katanya itu,” kata Iwan.

Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan SetiawanDok. Pribadi Direktur Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan

Konflik Jokowi vs PDI-P dan arah baru PSI

Iwan juga menyinggung perubahan orientasi politik PSI setelah konflik antara Presiden Joko Widodo dan PDI-P mencuat ke ruang publik.

“Sejak konflik Jokowi versus PDI-P pecah, arah perjuangan PSI berubah. Fokusnya ingin melawan PDI-P, ingin head to head,” ujarnya.

Perubahan arah itu tercermin dari langkah-langkah simbolik PSI, mulai dari konsep partai terbuka (TBK) hingga perubahan logo partai.

“Pergantian logo menjadi gajah itu secara simbolis ingin menunjukkan perlawanan terhadap Partai Banteng yang dipimpin Megawati Soekarnoputri,” kata Iwan.

Meski PSI terus menggaungkan narasi “Kandang Gajah”, Iwan menilai upaya tersebut akan sangat berat secara politik.

“Bagi saya, sangat berat ketika PSI ingin mengambil alih kandang banteng lalu menjadikannya kandang gajah. Prediksi saya, PSI akan gagal melakukan itu,” ujar dia.

Perbandingan perolehan suara

Perbedaan kekuatan elektoral kedua partai terlihat dari hasil Pemilu 2024. Berdasarkan Keputusan KPU Provinsi Jawa Tengah Nomor 41 Tahun 2024, PDI-P meraih 33 kursi DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Secara keseluruhan, PDI-P memperoleh sekitar 5,2 juta suara, tertinggi dibandingkan partai politik lain di wilayah tersebut. Posisi kedua ditempati Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan 3,03 juta suara, disusul Gerindra 2,59 juta suara dan Partai Golkar 2,2 juta suara.

Berikutnya ada PKS 1,6 juta suara, Partai Demokrat 1,1 juta suara, PPP 1 juta suara, PAN 840.817 suara, dan Partai Nasdem 775.889 suara. PSI berada di urutan bawah dengan perolehan 478.063 suara.

Sementara di Provinsi Bali, PDI-P kembali mendominasi dengan perolehan 1.446.583 suara. Adapun PSI hanya memperoleh 52.517 suara.

Tag:  #menerawang #peluang #mengubah #kandang #banteng #menjadi #kandang #gajah

KOMENTAR