Bukan Hanya Indonesia, Scam Kamboja Juga Tipu Orang Korsel hingga Turki
- Duta Besar RI di Kamboja, Santo Darmosumatro, mengungkapkan korban penipuan online scam di Kamboja bukan hanya berasal dari Indonesia.
Hal itu diungkapkan saat berbicara mengenai warga negara asing (WNA) asing, termasuk Indonesia, yang berhasil kabur dari markas penipuan online scam di Kamboja.
“Kalau ditanyakan warga negaranya dari mana saja Pak? Bervariasi. Bisa dari, ada yang dari Tiongkok, dari Vietnam, dari Filipina, dari Myanmar, dari Pakistan, dari India, bahkan dari Jepang dan dari Korea Selatan,” kata Santo dalam jumpa pers virtual, Kamis (22/1/2026).
“Dan ada juga beberapa yang dari negara-negara yang kita enggak akan memprediksi ya, seperti dari Turki,” jelas dia lagi.
Dengan demikian, Santo menyatakan bahwa kaburnya sejumlah warga negara asing (WNA) dari markas penipuan daring tidak hanya menjadi persoalan bagi Indonesia, tetapi juga bagi sejumlah negara lain yang warganya turut menjadi korban.
Oleh karena itu, ia menilai otoritas Kamboja menghadapi kesulitan dalam menanggulangi persoalan tersebut.
Meski demikian, pemerintah Kamboja disebut tetap menyampaikan komitmennya untuk menangani masalah tersebut.
“Sampai sekarang mereka terus bekerja sama dengan kita untuk mengatasi berbagai macam permasalahan yang timbul akibat banyaknya warga negara asing, termasuk warga negara Indonesia, yang keluar dari sindikat penipuan online tersebut,” ungkap dia.
Santo menjelaskan bahwa lokasi sindikat penipuan daring di Kamboja tersebar di berbagai wilayah. Ia menyebut sindikat tersebut tidak hanya berada di Phnom Penh.
Sebab, markas penipuan online scam juga tersebar di sejumlah provinsi di sekitarnya, seperti Provinsi Kandal yang posisinya kurang lebih setara dengan kawasan Jabodetabek di Indonesia.
Selain itu, Santo mengatakan sindikat penipuan daring juga ditemukan di Kampot, Kampong Speu, Sihanoukville, Banteay Meanchey, serta Mondulkiri.
Ratusan WNI keluar dari sindikat online scammer
Diberitakan sebelumnya, dalam kurun tiga hari, KBRI Phnom Penh menerima lonjakan laporan dari 911 warga negara Indonesia (WNI), setelah berhasil keluar dari sindikat penipuan daring di berbagai wilayah di Kamboja.
Lonjakan yang terjadi sejak 16-19 Januari 2026 ini terjadi usai Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menginstruksikan pemberantasn sindikat penipuan daring di seluruh wilayah Kamboja.
Instruksi ini diikuti dengan penangkapan mastermind di berbagai wilayah, sehingga membuat sindikat tersebut membubarkan diri dan membiarkan para pekerjanya keluar.
"Berdasarkan hasil asesmen awal KBRI, secara umum para WNI berada dalam kondisi aman dan sehat. Tidak sedikit yang melakukan perjalanan jauh dari provinsi-provinsi seperti Banteay Meanchey dan Mondulkiri ke ibu kota Phnom Penh," demikian bunyi keterangan KBRI Phnom Penh, Selasa (20/1/2026).
Dalam asesmen yang dilakukan, KBRI menemukan berbagai persoalan yang dihadapi ratusan WNI tersebut. Mulai dari tidak punya paspor hingga visa kedaluwarsa selama tinggal di Kamboja.
"Mayoritas WNI menyatakan keinginan untuk segera Kembali ke Indonesia, meskipun sebagian kecil yang masih ingin menetap di Kamboja untuk mencari pekerjaan lain," imbuh keterangan tersebut.
KBRI lantas menyarankan agar WNI yang masih memiliki paspor segera Kembali ke Indonesia secara madniri. Sementara bagi yang tidak memiliki paspor, KBRI akan menerbitkan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) guna memfasilitasi proses pemulangannya.
Sembari menunggu penyelesaian proses keimigrasian, KBRI menyarankan agar mereka mencari penginapan sementara di sekitar KBRI.
Tag: #bukan #hanya #indonesia #scam #kamboja #juga #tipu #orang #korsel #hingga #turki