Diteror Bangkai Ayam Usai Kritik Pemerintah, Aktivis dan Konten Kreator Lapor ke Bareskrim
Publik figur mendapat ancaman usai mengkritik penanganan bencana di Sumatera, diantaranya yakni Iqbal Damanik. (Instagram)
18:08
14 Januari 2026

Diteror Bangkai Ayam Usai Kritik Pemerintah, Aktivis dan Konten Kreator Lapor ke Bareskrim

Sejumlah aktivis dan konten kreator yang vokal mengkritik penanganan bencana di Sumatera kini menjadi sasaran teror sistematis.

Mulai dari pengiriman bangkai ayam ke rumah hingga serangan digital masif. Aksi ini diduga kuat bertujuan untuk membungkam suara kritis masyarakat.

Tak tinggal diam, Iqbal Damanik (aktivis Greenpeace Indonesia) dan konten kreator Yansen alias Piteng, resmi melaporkan rentetan intimidasi ini ke Bareskrim Polri, Rabu (14/1). Didampingi Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), mereka menuntut pengusutan tuntas atas upaya pembungkaman tersebut.

Paket Bangkai Ayam dan Pesan Intimidasi

Diketahui, teror Iqbal Damanik dilakukan dengan mengirimkan sebuah paket berisi bangkai ayam di kediamannya. Paket tersebut disertai pesan ancaman yang sangat personal: "JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU. MULUTMU HARIMAUMU." Tidak berhenti di situ, akun media sosialnya pun dibanjiri ancaman digital.

Sementara itu, Piteng mengaku telah mengalami peretasan, fitnah di dunia maya, hingga teror telepon dari nomor tak dikenal sejak Desember 2025.

Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) Alif Fauzi Nurwidiastomo menegaskan, langkah hukum ini adalah hak konstitusional yang harus dilindungi. Ia berharap laporan ini ditindaklanjuti aparat kepolisia.

"Dengan menempuh koridor hukum yang resmi, kami juga hendak membuktikan bahwa aksi teror tidak meredupkan semangat kami untuk terus menyuarakan hak warga negara yang dilindungi oleh konstitusi," ujar Alif, Rabu (14/1).

Fenomena ini ternyata bukan kejadian tunggal. Nama-nama populer lain seperti Sherly Annavita dan DJ Donny (Ramond Donny Adam) juga mengalami pola teror serupa. Persamaannya jelas: mereka semua aktif bersuara mengenai karut-marut penanganan bencana besar yang melanda Sumatera.

SAFEnet mencatat setidaknya ada 9 aksi teror serupa di akhir tahun 2025. Tim hukum menyayangkan sikap kepolisian yang sempat meminta kasus ini dilaporkan secara terpisah, bukan sebagai satu rangkaian teror yang terorganisir.

Gema Gita Persada, salah satu kuasa hukum korban, mendesak polisi melihat kasus ini secara makro. Baginya, kasus ini tidak hanya terkait tindakan ancamannya saja, tapi ada motif-motif politis yang mendasari ancaman bagi individu yang melakukan aktivisme, khususnya terkait bencana di Sumatera.

"Peristiwa ini telah menyebarkan rasa takut yang meluas di kalangan masyarakat sipil. Untuk itu, kami mendorong pihak Kepolisian untuk memandang kasus ini secara holistik dan lebih makro. Agar penegak hukum untuk menindak kasus ini sebagai tindak pidana teror, bukan ancaman atau intimidasi biasa," kata Gema.

Upaya Menciptakan Chilling Effect

Rentetan teror ini dinilai sebagai upaya menciptakan chilling effect atau rasa takut agar warga negara enggan melontarkan kritik. Padahal, kritik terhadap kebijakan lingkungan sangat krusial di tengah krisis iklim yang kian nyata, seperti banjir besar di Kalimantan Selatan hingga Pati.

Sekar Banjaran Aji, anggota tim hukum lainnya, menekankan bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama pemerintah di atas segalanya. Hingga hari ini, bencana ekologis masih terjadi bahkan meluas ke beberapa daerah, seperti Kalimantan Selatan dan Pati, Jawa Tengah yang dilanda banjir.

"Kritik publik atas penanganan bencana yang karut-marut, juga atas kerusakan lingkungan yang memperparah dampak bencana, menjadi penting untuk memastikan bahwa pemerintah memprioritaskan keselamatan warga negara di tengah krisis iklim, " ucap Sekar.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #diteror #bangkai #ayam #usai #kritik #pemerintah #aktivis #konten #kreator #lapor #bareskrim

KOMENTAR