Fasilitas Umum Rusak, Pemulihan Pacabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar Masih Panjang
- Banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera pada pengujung 2025 menyisakan persoalan panjang bagi masyarakat terdampak.
Meski genangan air mulai surut dan aktivitas warga perlahan kembali berjalan, fase pemulihan pascabencana masih menghadapi tantangan serius.
Terutama terkait perbaikan fasilitas umum dan ruang sosial yang rusak, termasuk lumpur yang masih menggunung dan sulit dibersihkan.
Di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, upaya bangkit dari bencana masih terus berlangsung.
Sejumlah tempat ibadah, fasilitas desa, dan ruang publik yang menjadi pusat aktivitas warga mengalami kerusakan cukup berat akibat banjir dan longsor.
Kondisi ini membuat proses pemulihan sosial berjalan tidak secepat yang diharapkan. Tempat ibadah seperti masjid dan gereja, yang selama ini berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus sosial, menjadi salah satu sektor yang paling terdampak.
Kerusakan bangunan bukan hanya menghambat aktivitas ibadah, tetapi juga memperlambat pemulihan kebersamaan warga pascabencana.
Awal Januari 2026, dukungan pemulihan datang dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta.
Salah satunya PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Mandiri Inhealth) yang hadir langsung di sejumlah titik terdampak di Kecamatan Tukka dan Tapian Nauli.
Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain Masjid Jami’, Gereja HKBP Hutanabolon, serta Desa Bair di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Bantuan yang disalurkan difokuskan untuk mendukung renovasi fasilitas umum dan penyediaan perlengkapan tempat ibadah.
Langkah ini dinilai krusial untuk menghidupkan kembali ruang-ruang sosial yang sempat lumpuh akibat bencana.
Plt. Direktur Utama Mandiri Inhealth, Marihot H. Tambunan, menyampaikan bahwa meskipun kondisi di Sibolga dan Tapanuli Tengah mulai berangsur membaik, masyarakat terdampak masih memerlukan perhatian berkelanjutan.
“Pemulihan tidak berhenti ketika bencana berlalu. Dukungan terhadap perbaikan fasilitas umum dan tempat ibadah sangat dibutuhkan agar masyarakat bisa kembali menjalani aktivitas secara normal,” ujar dia melalui keterangannya.
Selain bantuan renovasi, bahan pangan juga disalurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga.
Bantuan tersebut berasal dari penggalangan solidaritas internal karyawan, yang turut berpartisipasi langsung dalam aksi kemanusiaan di berbagai wilayah terdampak di Sumatera.
Sebelumnya, bantuan serupa juga disalurkan ke wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara melalui kerja sama dengan lembaga sosial.
Bentuk bantuan meliputi layanan kesehatan, obat-obatan, serta distribusi bahan pangan bagi masyarakat yang terdampak bencana alam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fase pascabencana masih membutuhkan perhatian luas. Tidak hanya dari pemerintah dan relawan, tetapi juga dari berbagai pemangku kepentingan.
Pemulihan fasilitas umum menjadi fondasi penting agar kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.
Bagi daerah-daerah rawan bencana seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah, pemulihan pascabencana juga menjadi momentum untuk memperkuat kesiapsiagaan.
Masyarakat berharap, selain perbaikan fisik, upaya mitigasi dan penanganan risiko bencana ke depan dapat ditingkatkan, sehingga dampak serupa tidak kembali terulang.
Tag: #fasilitas #umum #rusak #pemulihan #pacabencana #aceh #sumut #sumbar #masih #panjang