Densus 88 Ungkap Ada 70 Anak Gabung Grup ''True Crime'', Mayoritas Korban Bullying
Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).(KOMPAS.com/NICHOLAS RYAN ADITYA)
13:42
7 Januari 2026

Densus 88 Ungkap Ada 70 Anak Gabung Grup ''True Crime'', Mayoritas Korban Bullying

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan adanya keterlibatan 70 anak dalam grup True Crime Community yang tersebar di 19 provinsi di Indonesia.

Mayoritas anak-anak tersebut diketahui bergabung karena latar belakang persoalan sosial dan keluarga, mulai dari perundungan hingga kurangnya perhatian orangtua.

Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana mengatakan, provinsi dengan jumlah anggota terbanyak berada di DKI Jakarta, disusul Jawa Barat dan Jawa Timur.

“Sebaran wilayah yang teridentifikasi sebagai member grup True Crime Community ada 70 anak di 19 provinsi ya. Di mana provinsi yang terbanyak yaitu DKI Jakarta ada 15 orang, kemudian Jawa Barat 12 orang, dan Jawa Timur 11 orang, setelah itu menyebar di beberapa daerah," kata Mayndra dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

Dari 70 anak tersebut, sebanyak 67 orang telah menjalani asesmen, pemetaan, serta konseling yang dilakukan bersama berbagai pemangku kepentingan di daerah masing-masing.

Mayndra menjelaskan, usia anak-anak yang terlibat berada pada rentang 11 hingga 18 tahun dan didominasi oleh usia 15 tahun, yang merupakan fase transisi dari jenjang SMP ke SMA.

“Didominasi oleh umur 15 tahun ya, jadi transisi antara SMP ke SMA," ungkapnya.

Berdasarkan hasil asesmen, Densus 88 menemukan sejumlah faktor pemicu yang mendorong anak-anak tersebut bergabung dengan komunitas tersebut.

Salah satu faktor utama adalah pengalaman perundungan.

Menurut Mayndra, sebagian besar anak yang terlibat merupakan korban bullying, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat, jadi di luar sekolah," katanya.

Selain itu, faktor keluarga juga menjadi latar belakang kuat.

Banyak dari anak-anak tersebut berasal dari keluarga tidak utuh atau mengalami situasi broken home.

“Rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, trauma di dalam keluarga, atau kerap menyaksikan kekerasan di rumahnya," terang Mayndra.

Kondisi tersebut membuat anak-anak merasa kurang mendapatkan perhatian, terlebih ketika orang tua terlalu sibuk.

Akibatnya, mereka mencari ruang alternatif untuk mendapatkan pengakuan dan rasa memiliki.

“Jadi di sini mereka merasa memiliki rumah kedua ya, karena di dalam komunitas ini aspirasi mereka bisa didengarkan oleh rekan-rekannya, bisa terjadi interaksi, dialog, dan saling memberikan rekomendasi atau masukan untuk menyelesaikan solusinya masing-masing tentunya dengan kekerasan-kekerasan tersebut," jelasnya.

Tag:  #densus #ungkap #anak #gabung #grup #true #crime #mayoritas #korban #bullying

KOMENTAR