Titian Muhibah Prabowo ke Sumatera yang Vital dan Strategis
PRESIDEN Prabowo Subianto wara-wiri ke sejumlah lokasi bencana hidrologi di Sumatera, sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini.
Yang paling membetot atensi tentu saat tahun baru-an (tanpa kembang api) bersama pengungsi di Posko Darurat Bencana Desa Batuhula, Tapanuli Selatan, Kamis (1/1/2026) dini hari.
Saat memberi sambutan di sana, Prabowo berjanji bertindak tegas tanpa ragu --termasuk cabut izin-- perusahaan dan semua pihak yang merusak alam Sumatera.
Sebelumnya, di hari terakhir tahun lalu, Presiden yang sohor bersandi 08 itu, berkesempatan meninjau jembatan bailey di Sungai Garago, Tapanuli Selatan, Rabu (31/12).
Tak ketinggalan melihat hunian sementara di daerah yang terekpos paling lantak diterjang bencana, Aceh Tamiang.
Untuk itu semua, tentu ada yang “dikorbankan”. Yakni tidak hadir dalam Perdagangan Perdana Tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026).
"Presiden lagi di Aceh. Itu menunjukkan presiden amat peduli masalah yang dihadapi masyarakat," ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Perjalanan dinas beruntun ini amatlah vital serta strategis. Mengapa sampai berderet-deret penilaian ini?
Pertama, kegiatan ini vital manakala bencana yang merenggut 1.135 jiwa dan 173 orang hilang ini hingga RI 1 menepikan kegiatan penting sektor lainnya. Prabowo sewajarnya jadi teladan garda terdepan penyelamatan ekologi mutakhir.
Sebuah premis yang selaras denyut tren global milestone, antara lain seperti diperlihatkan Profesor Ekologi British Columbia University, Suzanne Simard.
Dialah penggagas proyek sosial ekologi mothertreeproject.org, gerakan kolektif mengajak masyarakat luas terlibat dalam penelitian sekaligus gerakan penyelamatan hutan dunia pada sembilan hutan beriklim berbeda di British Columbia sebagai lokasi eksperimen.
Hal itu dilakukan setelah serangkaian riset dan terapan di lapangan menunjukkan pentingnya mempertahankan pohon-pohon tua di dalam hutan.
Pohon tua bukan penghambat regenerasi, melainkan penopang utama kehidupan hutan. Ia mengibaratkan pohon-pohon tersebut sebagai ibu yang membantu anak-anaknya tumbuh mandiri.
Pohon tua berfungsi sebagai pusat kehidupan, tempat tumbuh tunas muda, bibit, serta beragam jenis jamur yang membentuk jejaring hutan yang kuat dan kompleks.
Dalam jaringan itu, jamur mikoriza berperan layaknya sistem saraf, sementara pohon induk menjadi pusat kendalinya.
Ketika pohon induk ditebang dan hutan musnah, maka hutan dengan karakter alaminya tidak akan pernah kembali.
Reboisasi semata tidak mampu menggantikan hutan alami yang kaya keanekaragaman hayati, terlebih jika dilakukan dengan menanam satu jenis pohon seragam.
Karena itulah, janji Prabowo menindak saat fisiknya hadir pula bersama pengungsi yang kehilangan segalanya, adalah laku amat baik yang diharapkan tak hanya warga Sumatera, tapi juga bangsa Indonesia.
Sudah terlalu lama potensi alam kita tak optimal dikelola, juga kerap menciptakan aneka musibah hidrologi bagi masyarakat Indonesia.
Pesan ke pembalak
Kedua, titian muhibah ini menjadi strategis dengan melihat ancaman bencana tidak hanya berasal dari faktor cuaca, tetapi juga kerusakan lingkungan masif.
Data menunjukkan, sejak 1990 hingga 2024, hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyusut 1,2 juta hektar.
Maka, tahun lalu sebagai titimangsa efektif Prabowo menjabat, ditambah kejadian galodo tersebut, adalah momentum penegas bagi sang presiden untuk memperbaiki segalanya.
Terutama tak lagi mengulang apa saja noktah minus dari presiden sebelumnya dalam menangani bumi Sumatera.
Prabowo sudah punya gambaran super jelas bahwa mismanajemen urusan alam ini telah menderakan 3.116 bencana hidrometeorologi di Indonesia sepanjang Januari hingga pertengahan Desember 2025 kemarin. Dari jumlah itu, ribuan rakyatnya dijemput ajal. Padahal mayoritas tak salah/tak tahu apa-apa!
Maka, suara lantang penindakan di lokasi pengungsian tadi, plus banyak video yang menunjukkan rasa welas asihnya terhadap anak-anak dan lansia, adalah pesan verbal sekaligus non verbal akan tema lingkungan alam menjadi salah satu isu strategis ke depannya.
Bahwa mereka yang selama ini bisa mengangkangi rakyat terutama di Sumatera dengan illegal logging-nya, waspadalah!
Prabowo dan jajarannya jelas akan lebih melototi kegiatan kehutanan di pulau tersebut jauh dibandingkan lainnya.
Terlebih sebelumnnya, pada 24 Desember 2025 di Kejaksaan Agung, Prabowo secara demonstratif memperlihatkan uang sitaan senilai Rp 6,62 triliun hasil penertiban kawasan hutan dan tindak pidana korupsi yang ditangani Kejaksaan Agung.
"Sebagai contoh, yang Rp 6 triliun saja di sini, ini kalau kita mau renovasi sekolah, 6.000 sekolah bisa kita perbaiki. Kalau kita mau bikin rumah, untuk hunian tetap para pengungsi, 100.000 rumah, Rp 6 triliun 100.000 rumah, hunian tetap," kata Prabowo.
Maka itu, pikir ulang para pembalak. Yang tetap akan nekad, juga yang curi-curi kesempatan, maka Prabowo dan Jaksa Agung takkan ragu-ragu menindak dan terutama mengenakan denda berjumlah tidak kaleng-kaleng. Mending berhenti lancung daripada bangkrut seketika!
Kunjungan/atensi Prabowo kali ini amat baik karena terguar pesan kuat bahwa urusan alam Sumatera ada dalam benak utamanya.
Sekaligus menekan banyak kritikan sejak awal bencana bahwa Prabowo gagap dan telat peroleh informasi dari bawahannya sertalamban bereaksi. Mari kita nantikan bersama realisasi lanjutan tindak vital dan strategis ini. Jangan layu!
Tag: #titian #muhibah #prabowo #sumatera #yang #vital #strategis