Mendagri Sebut 7 Kabupaten di Aceh Masih Terdampak Banjir dan Butuh Atensi
Mendagri Tito Karnavian dalam konferensi pers pelepasan praja IPDN ke Aceh Tamiang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (3/1/2026).(Shela Octavia)
12:02
3 Januari 2026

Mendagri Sebut 7 Kabupaten di Aceh Masih Terdampak Banjir dan Butuh Atensi

- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkap, tujuh kabupaten di Aceh masih memerlukan bantuan agar bisa segera pulih dari bencana banjir dan longsor.

“Untuk Aceh, memang yang paling berat terdampak. Dari 18 kabupaten, 11 sudah jauh membaik. Yang 7 lagi ini memerlukan atensi spesifik untuk dapat dipulihkan,” ujar Mendagri Tito Karnavian dalam konferensi pers pelepasan praja IPDN ke Aceh Tamiang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu (3/1/2026).

Tujuh kabupaten di Provinsi Aceh yang masih butuh perhatian adalah Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Gayo Lues, Bener Meriah, dan Pidie Jaya.

Tito mengatakan, kabupaten Aceh Tamiang menjadi wilayah yang paling terdampak dan kini belum sepenuhnya pulih.

“Dari semua itu yang paling berat betul adalah Aceh Tamiang,” katanya.

Kondisi ini disebabkan oleh kondisi topografi Aceh Tamiang yang lebih rendah dari wilayah di sekelilingnya.

“Karena Tamiang itu terletak seperti mangkuk, dikelilingi oleh apa namanya itu, dari Gayo Lues dan Aceh Timur yang ketinggian, sehingga banjir melanda ke daerah cekungan ini,” lanjut Tito.

Indikator pemulihan Aceh Tamiang

Jika Aceh Tamiang mau dikatakan pulih, menurut Tito, ada dua indikator yang perlu dipenuhi, yaitu berjalannya roda pemerintahan daerah dan ekonomi di masyarakat.

“Saya melihat Aceh Tamiang itu indikator bagi saya adalah dua hal, yaitu pulih itu adalah ketika pemerintahan berjalan dengan normal, pemerintahan daerah. Yang kedua adalah ekonomi berjalan, yang ditandai dengan aktivitas jual beli, pasar, restoran, hotel, warung, kafe, itu hidup,” imbuh Tito.

Berdasarkan pemantauannya sejak dua minggu lalu hingga kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada saat tahun baru, kondisi Aceh Tamiang mulai membaik.

Sebagian kecil restoran dan warung milik masyarakat sudah kembali buka.

“Saat itu dua minggu lalu, belum. Kemarin dua hari yang lalu dengan Bapak Presiden, sebagian kecil ekonomi warung-warung, restoran, kafe-kafe sudah ada yang buka,” kata Tito.

Upaya Percepatan Pemulihan

Meski mulai menunjukkan pemulihan, pemerintah terus mendorong upaya percepatan agar dampak bencana bisa dinetralisir.

Untuk mendorong pemulihan Aceh Tamiang, Kemendagri mengirimkan 1.132 orang murid dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Tito menjelaskan, 1.132 murid atau praja IPDN ini akan difokuskan untuk membantu proses pemulihan pemerintah daerah di Aceh Tamiang.

Para praja dibekali dengan beberapa peralatan, termasuk sekop dan cangkul, untuk membantu membersihkan lumpur yang masih merendam kantor kabupaten dan pemerintahan lainnya.

“Satu adalah membangkitkan pemerintahan terutama kabupaten dulu. Bersih-bersih di sana. Maka mereka membawa alat, senjata mereka alat pembersih: sekop ya, kemudian cangkul,” kata Tito.

Selain membantu membersihkan kantor kabupaten, praja IPDN ini juga ditugaskan untuk membantu aparatur setempat untuk memulihkan pelayanan publik di desa-desa.

“Lebih dari 200 di sana yang belum beroperasional. Dukcapil, layanan publik yang lain, itu harus bisa dihidupkan,” lanjut Tito.

Penugasan ini akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan.

Jika dibutuhkan, penugasan yang dianggap sebagai kuliah kerja nyata (KKN) ini bisa diperpanjang periodenya.

Adapun penugasan ini masuk dalam kurikulum para praja IPDN.

Tag:  #mendagri #sebut #kabupaten #aceh #masih #terdampak #banjir #butuh #atensi

KOMENTAR