Jejak Sikap Kritis DJ Donny hingga Zainal Arifin Mochtar yang Kini Diteror
Ilustrasi teror.(SHUTTERSTOCK/NATASA ADZIC)
08:22
3 Januari 2026

Jejak Sikap Kritis DJ Donny hingga Zainal Arifin Mochtar yang Kini Diteror

- Rentetan teror dialami pemengaruh (influencer), aktivis, hingga guru besar kampus. Berikut adalah jejak sikap kritis mereka yang kena teror.

Rentetan kasus ini muncul berdekatan, seperti yang dialami oleh pegiat media sosial DJ Donny, Shery Annavita, dan Virdian Aurellio Hartono.

Beragam teror yang dialami mereka seperti pelemparan telor busuk ke rumah, vandalisme kendaraan pribadi, pemecahan kaca, pelemparan bom molotov, pengiriman bangkai ayam, hingga teror telepon penangkapan.

Lantas apa yang mereka sampaikan sebelum menerima teror secara berdekatan ini?

Ketiga influencer dan para aktivis ini memiliki kesamaan. Mereka menyampaikan kritik ke pemerintah sebelum mendapatkan aksi teror.

Mereka bertiga mengkritik cara komunikasi publik pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif yang dinilai tidak peka terhadap simpati dan empati publik.

Di pengujung 2025 setelah banjir Sumatera, publik membicarakan peristiwa seperti Menko Pangan Zulkifli Hasan menggendong beras, Anggota DPR RI Verrel Bramasta meninjau banjir dengan rompi terlihat seperti antipeluru, dan ucapan sarkas "si paling kerja" dari anggota DPR RI Endipat Wijaya.

Publik juga membicarakan soal Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut listrik Aceh pulih 93 persen pada 7 Desember, padahal faktanya baru 36 persen.

DJ Donny

DJ Donny atau Ramond Dony Adam yang mengalami teror pengiriman bangkai ayam dan rumahnya dilempari bom molotov sempat melontarkan kritik pola komunikasi pemerintah kepada publik terkait status penanganan kebencanaan di Sumatera.

Influencer DJ Donny saat menyambangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan kejadian teror bangkai ayam dan bom molotov, Rabu (31/12/2025).KOMPAS.com/HANIFAH SALSABILA Influencer DJ Donny saat menyambangi Polda Metro Jaya untuk melaporkan kejadian teror bangkai ayam dan bom molotov, Rabu (31/12/2025).

Dia mengatakan, para influencer yang turun langsung ke lokasi, seperti Ferry Irwandi meraih banyak simpati publik karena menyampaikan progres penanganan bencana dengan baik.

Dalam salah satu podcast Denny Sumargo yang diunggah 17 Desember 2025, DJ Donny secara keras menyebut cara komunikasi publik pemerintah dan harus segera dibenahi.

"Siapa yang bisa membereskan kekacauan (pasca bencana banjir ini? Ya pemerintah, tapi kenapa Ferry Irwandi hanya yang dapat spotlight?" imbuhnya.

Kritik lainnya datang dari pegiat sosial media, Virdian Aurelio di talkshow Kompas TV terkait dengan penanganan bencana di Sumatera pada 5 Desember 2025.

Virdian mengalami teror pemecahan kaca mobil yang terjadi pada pertengahan Desember 2025.

Dalam talkshow di Kompas TV, Virdian menilai banyak Gen-Z tidak lagi percaya dengan cara-cara pemerintah mengantisipasi disaster yang terjadi, terutama yang disebabkan oleh deforestasi dan bisnis mineral.

"Kami rasa kami layak hari ini, kami hidup masih lama, kebagian duitnya enggak, ikut tenggelam iya," katanya.

Aktivis Gen Z sekaligus mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Virdian Aurellio Hartono dalam diskusi #SoehartoBukanPahlawan di Jakarta, Rabu (5/11/2025).KOMPAS.com / IRFAN KAMIL Aktivis Gen Z sekaligus mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Virdian Aurellio Hartono dalam diskusi #SoehartoBukanPahlawan di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Dia juga menyoroti langkah yang dinilai hanya ikut-ikutan influencer dengan membuka donasi kebencanaan.

Padahal warga negara sudah banyak memenuhi kewajiban pajak untuk operasional belanja negara, termasuk untuk memberikan penanganan bencana.

"Kalau mau nambah duit, kalau negara mau nambah duit rampas balik itu berbagai korupsi lingkungan yang jumlahnya sampai ratusan triliun, jangan malah bikin donasi di internal," katanya.

Sherly Annavita

Terakhir dari kalangan influencer, Sherly Annavita. Ia diteror vandalisme mobil pribadi, kendaraannya dicoret-coret dan rumahnya dilempari telur busuk.

Sherly beberapa kali muncul dalam wawancara media, salah satunya di Kompas TV pada 11 Desember 2025 dengan tema terkait penanganan banjir di Sumatera.

Sherly saat itu mengkritik pemerintah yang dinilai menolak bantuan dari pihak asing terkait dengan penanganan bencana banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Dia juga merasa aneh dengan sikap legislatif yang dinilai sengaja membenturkan sikap masyarakat sipil yang saling membantu dengan upaya pemerintah untuk menangani banjir.

"Sampai muncul tagar warga bantu warga, ini kan sebetulnya adalah respons untuk melihat situasi dan kondisi kok bantuan belum sampai ya, ya sudah kita saling bantu saja. Ini bukan untuk menyerang pihak-pihak tertentu, tapi justru diksi-diksi (menuduh paling kerja) itu membuat kita semua jadi bingung, kenapa jadi seolah-olah yang salah adalah warga yang mencoba mengumpulkan donasi dan hadir langsung di masyarakat?" ucapnya.

Sherly AnnavitaInstagram @sherlyannavita Sherly Annavita

Sherly juga mengkritik keras sikap pemerintah yang dinilai memiliki standar ganda atas sikap terhadap pihak asing.

Dia menyampaikan, warga terdampak bahkan mengeluhkan mengapa bantuan kebencanaan dari pihak asing tidak diterima, sedangkan ketika bicara soal bisnis pemerintah membuka tangan.

"Rasa pilunya sedih rasanya untuk mendengar masyarakat ketika harus mengatakan, 'giliran bantuan asing ditolak, giliran tenaga kerja asing diterima, kalau kondisinya seperti ini enggak bisa kirim bantuan, kirimkan saja kami kain kafan'. Ini menggambarkan masyarakat kondisinya saat ini seperti apa," tuturnya.

Aktivis Greenpeace, Iqbal Damanik

Tak hanya influencer, teror juga dirasakan oleh aktivis, yakni Manajer Kampanye Iklim dan Energi, Iqbal Damanik.

Pada 30 Desember 2025, rumahnya kedatangan paket misterius berisi bangkai ayam dengan seutas surat di kaki bangkai surat tersebut.

Surat itu bertulis "JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU,"

Iqbal dikenal dengan aktivis lingkungan yang bersuara kritis terhadap kerusakan ekologi dan deforestasi di Indonesia.

Juru kampanye Hutan Greenpace Indonesia Iqbal Damanik berpose setelah diwawancarai KOMPAS.com dalam Program Gaspol, Jakarta pada, Selasa (10/6/2025).KOMPAS.com/FREDERIKUS TUTO KE SOROMAKING Juru kampanye Hutan Greenpace Indonesia Iqbal Damanik berpose setelah diwawancarai KOMPAS.com dalam Program Gaspol, Jakarta pada, Selasa (10/6/2025).

Ia sering melontarkan kritik kepada pemerintah, salah satunya terkait dengan pemberian konsesi tambang kepada organisasi masyarakat (Ormas).

Perdebatan konsesi tambang Iqbal dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdala ini sempat jadi sorotan publik dan memunculkan istilah populer "wahabi lingkungan".

Zainal Arifin Mochtar

Sedangkan teror akademisi yang baru saja terjadi diungkap Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar.

Uceng, sapaan karibnya, menyebut teror telepon dengan ancaman penangkapan ini dia terima sampai dua kali dalam sehari.

Peristiwa ancaman ini didapat pada 2 Januari 2026 dan ia unggah melalui laman sosial media Instagram.

Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar ketika ditemui di kantor DPP PSI, Jakarta, Minggu (5/11/2017).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) Universitas Gajah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar ketika ditemui di kantor DPP PSI, Jakarta, Minggu (5/11/2017).

Uceng diketahui sebagai sosok akademisi, Profesor Hukum Kelembagaan Negara UGM, dan kritis terhadap pemerintah.

Ia diketahui beberapa kali mengkritik pola kerja pemerintah, terutama terkait dengan pemajuan demokrasi.

Beberapa karya kritiknya adalah sebuah film dokumenter bersama ahli hukum tata negara lainnya, Bivitri Susanti dan Feri Amsari dengan judul Dirty Vote.

Tag:  #jejak #sikap #kritis #donny #hingga #zainal #arifin #mochtar #yang #kini #diteror

KOMENTAR