Mengapa SBY Ingin Tempuh Jalur Hukum Soal Tudingan Dalang Ijazah Palsu Jokowi? Ini Penjelasan Analis
- SBY kemungkinan menempuh jalur hukum terhadap akun media sosial yang menuduhnya dalang isu ijazah palsu Jokowi.
- Langkah hukum SBY bertujuan mencegah spekulasi konflik politik dengan Jokowi dan menjaga stabilitas elite.
- Partai Demokrat menyatakan SBY terganggu oleh fitnah masif di media sosial mengenai isu ijazah Jokowi.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, membaca upaya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencegah terjadi spekulasi yang mengarah kepada narasi konflik SBY dan Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi.
Upaya mencegah hal itu terlihat dari langkah hukum yang kemungkinan diambil SBY terhadap akun media sosial yang menuduhnya sebagai dalang di balik isu ijazah palsu Jokowi. Arifki mengatakan langkah SBY tersebut memiliki dimensi politik yang lebih luas dari sekadar perlindungan reputasi pribadi.
SBY tempak ingin memberikan batasan spekulasi yang berpotensi berkembang menjadi konflik SBY dan Jokowi.
Melalui kemungkinan menempuh jalur hukum, SBY ingin mempersoalkan sumber tudingan, bukan masuk ke perdebatan substansi isu ijazah.
Menurut Arifki, langlah tersebur bisa dibaca bahwa SBY ingin memperjelas posisi politiknya agar tidak dikaitkan dengan upaya mendelegitimasi Jokowi.
“Langkah hukum yang diambil oleh Pak SBY tepat karena diammya selama ini juga tidak menguntungkan karena yang menikmati isu ijazah Jokowi berbagai kelompok politik. Jika situasi ini tidak disikapi oleh SBY maka bakal mengunci ruang komunikasi SBY dan Jokowi dalam momentum politik ke depan," kata Arifki, Kamis (1/1/2026).
Aridki menilai komunikasi politik antara SBY dan Jokowi relatif lebih terbuka, apalagi anak pertama SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pernah ditunjuk Jokowi untuk mengisi kabinet menjadi Menteri ATR/BPN di penghujung periode kedua.
Kondisi tersebut, menurut Arifki membuat Jokowi dipandang sebagai figur yang masih memungkinkan dijaga dalam kerangka keseimbangan elite yang berpotensi semakin dinamis, terlebih akan masuk pembahasan mengenai RUU Pemilu pada 2026.
“Pilihan SBY tidak masuk ke ruang debat publik soal ijazah bisa dibaca sebagai upaya menjaga jarak dari konflik, sekaligus mempertahankan relasi politik dengan Jokowi,” kata Arifki.
Selain mencegah berkembangnya spekulasi konflik antara SBY dan Jokowi, kemungkinan menempuh jalur hukum juga dinilai beririsan dengan upaya menjaga stabilitas narasi politik menjelang 2029.
Menurut Arifki mengabaikan isu personal berkembang tanpa batas berisiko memperlebar konflik elite yang justru dapat dimanfaatkan oleh aktor lain dalam kompetisi politik ke depan.
"Dalam politik, menjaga hubungan tidak selalu dilakukan melalui dukungan terbuka, tetapi juga dengan membatasi eskalasi konflik. Langkah SBY dapat dibaca dalam kerangka tersebut,” kata Arifki.
SBY Terganggu
Sebelumnya elite Partai Demokrat, Andi Arief, mengecam keras gelombang fitnah yang menyerang Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di berbagai platform media sosial.
Melalui video yang diunggah di akun X (Twitter) miliknya pada Rabu (31/12/2025), Andi menegaskan bahwa tuduhan yang menyebut SBY berada di balik isu ijazah palsu Presiden ke-7 RI Jokowi adalah kebohongan publik yang masif.
Andi mengungkapkan bahwa fitnah tersebut banyak disebarkan oleh akun-akun anonim, terutama di platform TikTok.
Akun-akun tersebut menggiring opini seolah-olah SBY mendalangi perseteruan terkait ijazah palsu antara pihak Roy Suryo dengan Presiden Jokowi.
PerbesarPresiden ketujuh RI Joko Widodo (kanan) dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) berbincang sebelum Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (15/8/2025). [ANTARAFOTO/Rivan Awal Lingga]"Sangat masif sekali fitnah yang dilakukan oleh akun-akun yang sebagian besar anonim... yang membuat berita fitnah seolah-olah Bapak SBY berada di balik isu ijazah palsu Pak Jokowi yang sekarang sedang berseteru antara Pak Jokowi dengan Roy Suryo dan kawan-kawan," ujar Andi Arief dalam video tersebut yang telah diizinkan untuk dikutip Suara.com.
Menurutnya, isu ini telah mengusik ketenangan SBY.
Ia mengungkapkan telah bertemu langsung dengan SBY beberapa hari lalu dan mendapati sang tokoh bangsa tersebut merasa sangat terganggu karena namanya diseret dalam isu yang tidak berdasar, termasuk tuduhan kolaborasi dengan Megawati Soekarnoputri untuk mengungkap ijazah tersebut.
"Ini tentu sangat mengganggu. Saya bertemu dengan Pak SBY beberapa hari lalu, Pak SBY cukup terganggu dengan isu ini karena tidak benar disebutkan bahwa Pak SBY berada di balik isu ijazah palsu ini, atau bahkan disebut Pak SBY berkolaborasi dengan Ibu Megawati," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa hubungan SBY dan Jokowi selama ini terjalin dengan baik.
Saat ini, SBY lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan seni dan olahraga, sementara urusan politik harian partai telah didelegasikan kepada Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
"Pak SBY sekarang ini day to day politics-nya itu sudah banyak melukis, kemudian juga seni-seni lainnya, kemudian persiapan voli, berkunjung ke daerah, banyak di Pacitan," kata dia.
Partai Demokrat memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang terus menyebarkan fitnah tersebut. Andi menyatakan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika serangan terhadap martabat SBY terus berlanjut di media sosial.
"Kalau juga tidak dihentikan, ada kemungkinan Pak SBY akan mengambil langkah hukum dengan pertama memberikan somasi kepada orang-orang yang sudah membuat fitnah tersebut dan terbuka kemungkinan untuk menempuh jalur hukum," katanya.
Di akhir pernyataannya, Andi menyerukan kepada seluruh kader Partai Demokrat untuk merapatkan barisan membela kehormatan SBY yang dianggap sedang dizalimi
"Kita tahu selama ini Pak SBY selalu mengajarkan kita politik yang putih, yang bersih, yang tidak pernah menyerang orang, tidak pernah membuat fitnah. Tapi kalau kita dizalimi dan difitnah, kita harus melawan," pungkasnya.
Tag: #mengapa #ingin #tempuh #jalur #hukum #soal #tudingan #dalang #ijazah #palsu #jokowi #penjelasan #analis