Soal Kepengurusan PBNU Setelah Islah Lirboyo, Rais Aam: Nanti Akan Ada Pleno Lagi!
- Konflik yang berujung dualisme kepemimpinan PBNU masih terjadi. Meskipun tensinya sedikit menurun. Setelah ada pertemuan di Lirboyo, yang memutuskan mempercepat pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Agenda Muktamar itu sangat krusial, karena jadi forum pergantian Ketua Umum PBNU yang sah sesuai AD/ART organisasi.
Beberapa hari setelah pertemuan di Lirboyo, Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar hadir memimpin doa bersama di forum Satu NU Satu Bangsa di Masjid Hasyim Asy’ari Jakarta Barat (26/12). Momen itu jadi kesempatan para wartawan untuk menggali komentar dari Kiai Miftachul terkait kondisi organisasi terkini.
Di tengah pengawalan personel Banser yang ketat, Kiai Miftachul memberikan jawaban singat kepada wartawan. Dia menegaskan bahwa persoalan di PBNU belum selesai. ’’Nanti akan ada Pleno lagi ya,’’ katanya. Pleno terbaru itu diagendakan untuk membahas lebih detail pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Mulai dari lokasi, jadwal, sampai dengan siapa saja yang duduk sebagai panitianya.
Kiai Miftachul juga menyampaikan jawaban soal hasil keputusan Pleno yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta beberapa waktu lalu. Pleno ini menghasilkan putusan penting. Salah satunya adalah menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai PJ Ketum PBNU, menggantikan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. Di sisi lain Gus Yahya masih bersikap dirinya sebagai Ketum PBNU.
Kiai Miftachul menegaskan bahwa dalam rapat atau pertemuan di Lirboyo itu, tidak ada kesimpulan pembatalan rapat pleno. Termasuk pembatalan rapat Pleno di hotel Sultan. Dengan kata lain, posisi Zulfa Mustofa sampai saat ini masih sebagai PJ Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya.
Dia menegaskan bahwa rapat pleno itu agenda yang penting. Keputusan besar di PBNU tidak bisa diambil menunggu agenda Muktamar. Karena agenda Muktamar dilakukan dalam lima tahun sekali.
Doa bersama Satu NU Satu Bangsa itu sedianya mengundang Gus Yahya. Tetapi karena ada agenda lain, Gus Yahya tidak bisa hadir. Sementara itu Menteri Sosial sekaligus Sekjen PBNU Saifullah Yusuf hadir mendampingi Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar. Dia mengatakan tidak ingin terlibat lebih dalam terkait situasi terkini di PBNU. ’’Saya ini santri. Sebagai sentri mengikuti dawuhnya para kiai,’’ tandasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan Doa Untuk Negeri itu dirancang sekitar tiga hari yang lalu. Isinya mendoakan bangsa Indonesia, khususnya masyarakat yang terkena bencana alam di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
"PBNU menggelar doa Satu NU, Satu Bangsa untuk kuatkan pemulihan bencana Sumatera dan kesiapan hadapi iklim kkstrem," katanya. Dalam doa bersama itu, PBNU juga mengajak bangsa Indonesia bersatu membantu korban dan menjaga Indonesia. Dalam forum itu ditegaskan tidak ada ruang perpecahan di PBNU.
"Kita doakan saudara yang kena musibah. Semoga di erikan kesabaran dan segera pulih," tuturnya. Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu mengatakan selama acara salawatan tidak terputus. Dia berharap Allah memberikan keberkahan dan pertolongan untuk bangsa Indonesia.
Sementara itu acara inti yaitu tausiyah diisi oleh Miftah Maulana Habiburrohman atau Gus Miftah. Dia mengatakan kesuksesan acara doa bersama itu menandakan kekompakan di tubuh NU. "Ada yang bilang NU tidak kompak. Buktinya kami kompak," katanya.
Dalam ceramahnya, Gus Miftah menyelipkan sejumlah banyolan. Dia lantas berpesan bangsa hebat butuh persatuan. Baginya yang paling utama adalah Super Team, bukan Superman. "Sehebat-hebatnya Superman, kalah sama Super Team," tuturnya.
Dia mencontohkan kekompakan atau persatuan dari Walisongo. Misalnya saat membangun Masjid Demak. Dalam proses pembangunannya Sunan Kalijaga tidak sendirian. "Pimpro-nya Sunan Kalijaga, tetapi melibatkan sunan lainnya," katanya.
Gus Miftah lantas menyinggung situasi yang terjadi di tubuh PBNU. Dia menegaskan yang terjadi saat ini adalah ujian. Baginya NU sedang diuji oleh Allah. Menurut Gus Miftah, ujian tersebut diberikan karena Allah sayang kepada NU. Ketika menghadapi ujian, tidak boleh marah. Karena Allah semakin marah.
Seperti diketahui saat ini PBNU sedang diliputi dualisme kepemimpinan. Ketum PBNU Yahya Cholil Staquf dicopot dari hasil rapat harian yang dipimpin Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar. Namun dalam perkembangannya sudah ada keputusan islah. Sebagai konsekuensinya Muktamar berikutnya akan dipercepat pelaksanaannya.
Tag: #soal #kepengurusan #pbnu #setelah #islah #lirboyo #rais #nanti #akan #pleno #lagi