Klaim Jaksa soal Gagalnya Chromebook Nadiem Bikin IQ 78 Dinilai Perlu Bukti
- Pakar pendidikan menilai klaim jaksa bahwa kegagalan pengadaan laptop Chromebook Nadiem Makarim mengakibatkan IQ anak Indonesia menjadi 78 perlu dibuktikan.
Pemerhati Anak dan Pendidikan, Retno Listyarti, mengaku belum pernah mendengar ada riset yang menjelaskan efek laptop berbasis Chromebook terhadap IQ anak.
Mantan komisioner KPAI ini menilai, jaksa perlu membuktikan klaim mereka secara ilmiah.
"Untuk kasus Chromebook, misalnya di masa Nadiem menjadi menteri, gitu ya, kemudian (JPU) ada riset soal itu, ya bisa saja, gitu. Mereka-mereka (murid) yang terima Chromebook ini kemudian diriset dan hasilnya seperti itu (IQ rendah), ya bisa saja, tapi kan itu secara ilmiah juga harus dibuktikan," kata Retno saat dihubungi, Jumat (26/12/2025).
Ada beberapa variabel yang patut dijawab. Pertama, soal rentang usia penerima Chromebook hingga durasi akses piranti tersebut.
Kedua, Retno menyinggung soal total penerima Chromebook.
"Dan memang berapa jumlah yang kemudian mendapatkan Chromebook? Ini kan juga sebenarnya enggak seluruh anak Indonesia," katanya.
Retno menjelaskan, kecanduan pada gadget seperti laptop atau ponsel memang bisa mempengaruhi otak anak.
Penggunaan gadget secara berlebihan akan membuat otak anak terpapar radiasi.
Hal ini akan berdampak besar pada anak usia 1-6 tahun.
"Kebanyakan tontonan itu selain melelahkan mata si anak, ternyata radiasi dan ininya juga sarafnya itu akan berpengaruh sehingga otaknya si anak itu tidak berkembang," jelas Retno.
Retno Listyarti di Ciracas, Jakarta Timur, Senin (20/1/2020).
Kasus pengadaan Chromebook era Nadiem
Pengadaan laptop berbasis Chromebook di era Mendikbudristek Nadiem Makarim diduga mengandung sejumlah permasalahan.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) fokus membahas proses-proses yang dinilai janggal.
Mulai dari pertemuan Nadiem dengan pihak Google, penempatan orang-orang terdekat dalam tim internal, hingga proses penyusunan kajian, dan pengadaannya itu sendiri.
Di luar sidang, Ketua Tim JPU, Roy Riady menyinggung soal jangka panjang proses pengadaan Chromebook.
Ketua Tim JPU Kasus Chromebook, Roy Riady saat memberikan keterangan usai sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025).
Ia mengatakan, pengadaan Chromebook berefek panjang pada program digitalisasi pendidikan yang dijalankan oleh Kemendikbudristek.
"Untuk program digitalisasi pendidikan, khususnya pengadaan TIK Chromebook ini ternyata tidak melakukan kajian sebagaimana seharusnya mereka harus mengacu pada RPJMN," ujar Roy Riady saat memberikan keterangan usai sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (23/12/2025).
Roy mengatakan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024 menyinggung beberapa hal, termasuk peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Kementerian mencanangkan, peningkatan SDM di Indonesia dilakukan melalui beberapa program strategis, termasuk digitalisasi pendidikan.
Program ini juga menyasar daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Pengadaan Chromebook dinilai gagal di daerah 3T karena ketidakcocokan barang.
Disebutkan, laptop dengan sistem operasi Chrome memerlukan koneksi internet.
Sementara, fasilitas internet masih belum menjangkau seluruh wilayah Indonesia, terutama di daerah 3T.
"Ini pengadaan tersebut tidak bisa digunakan. Bahkan, proses belajar mengajar pun tidak bisa digunakan," lanjut Roy.
JPU menilai, pengadaan Chromebook mengalami kegagalan untuk mendigitalisasi pendidikan di daerah 3T.
Ini dianggap berdampak pada kinerja kementerian secara keseluruhan.
Roy mengatakan, pengadaan TIK ini ikut berdampak pada intelligence quotient (IQ) anak.
"Ya kan, menjadi sebuah kerugian. Dan ini menjadi akibat karena kalau kita melihat dari data dari IQ anak Indonesia itu tahun 2022 itu IQ-nya 78," imbuhnya.
Angka IQ yang terbilang rendah ini dinilai menjadi bukti kegagalan Nadiem untuk menjalankan tugasnya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Kenapa tidak mencerdaskan? Kita lihat dari parameternya, IQ-nya berapa? Kualitas SDM-nya berapa? Sedangkan, ini programnya tidak ada kajian," kata Roy.
Tag: #klaim #jaksa #soal #gagalnya #chromebook #nadiem #bikin #dinilai #perlu #bukti