Pemerintah Siapkan 4 Bantuan Pascabencana Sumatera, Apa Saja?
- Pemerintah memastikan memiliki anggaran yang memadai untuk memulihkan kondisi yang rusak akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera.
Dalam rapat tingkat menteri (RTM) selama tiga jam yang digelar di Kantor Kementerian Koordinator bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Menko PMK Pratikno menyatakan bahwa kementerian/lembaga saat ini terus bahu membahu menangani dampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
"Dan Bapak Presiden juga menjamin bahwa pemerintah mempunyai anggaran yang memadai untuk menyelesaikan ini dengan sebaik-baiknya," ujar Pratikno usai RTM, Rabu (17/12/2025).
Dalam rapat tersebut, pemerintah berencana memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat terdampak bencana:
Bangun hunian tetap
Salah satu poin yang digodok dalam RTM adalah pembangunan ribuan hunian tetap (huntap) yang akan dikoordinir oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Menteri PKP Maruarar Sirait (Ara) mengatakan pembangunan hunian permanen itu akan dimulai pada Desember ini, meski ia belum mengungkap tanggal pastinya.
"Sudah ada kesiapan untuk membangun rumah bagi saudara-saudara kita ya di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sebesar 2.603 unit. Mohon doanya kita mulai bulan ini membangun hunian tetap," kata Ara.
Ara mengatakan, sejauh ini, baru dibicarakan adanya tiga kriteria terkait lokasi untuk hunian tetap yang akan dibangun di lokasi bencana.
"Pertama dari aspek hukum, bagaimana itu klir dari aspek hukumnya. Kedua, dari teknikal, artinya jangan memindahkan atau relokasi rakyat ke tempat yang tidak aman," ucap dia.
Kriteria ketiga yakni lokasi perumahan juga harus mengerti filosofis, bukan hanya sekadar dibangun semata tanpa memikirkan aspek keselamatan dan kenyamanan penghuninya.
"Karena kita mengerti filosofis perumahan, rumah itu bukan hanya gedungnya dibangun tapi kehidupannya berpindah, jadi pikirkan lokasi tempat anak-anaknya bersekolah, tempat bekerja, ekosistem harus jadi pertimbangan," ucap dia.
Ara memastikan tidak akan menggunakan APBN, penggunaan dana pembangunan hunian tetap diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi dan kantong pribadi sang menteri.
"Uangnya non-APBN. Dari Yayasan Buddha Tzu Chi 2.500, dari saya pribadi 103," tutur dia.
Usulan bansos Jadup
Kemudian Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengusulkan memberikan bantuan sosial (bansos) jaminan hidup bagi korban yang diberikan setiap hari selama tiga bulan.
"Setelah nanti ada huntara atau huntap, ada (bansos) jadup, jaminan hidup selama 3 bulan, di mana setiap keluarga, setiap individu mendapatkan dukungan Rp 10.000 per harinya," ujar Gus Ipul.
Namun, usulan penggunaan bansos jadup tersebut baru pertama ini disampaikan oleh Gus Ipul dan belum bersifat final.
Karena itu ia meminta arahan dari Pratikno terkait apakah nominal bansos jadup perlu ditingkatkan.
Sebab, nominal itu merujuk pada indeks perhitungan tahun 2020 dan saat ini sedang dikaji ulang agar lebih relevan dengan kondisi ekonomi terkini.
"Nah tadi kami lapor kepada Pak Menko, apakah indeks Rp 10.000 ini masih memenuhi standar hari ini atau perlu ditingkatkan. Tentu nanti kami mohon arahan lebih lanjut," jelasnya.
Santunan tiap keluarga
Selain bansos jadup, Kemensos juga bakal memberikan Rp 3 juta untuk keperluan perabotan rumah jika sudah terbangun hunian sementara atau hunian tetap.
"Setelah mendapatkan jadup, ketika mereka di huntara atau huntap, nanti juga akan mendapatkan bantuan untuk melengkapi isi rumah, seperti alat-alat dapur, maupun juga itu mungkin kursi, meja, dan lain sebagainya sebesar Rp 3 juta," kata dia.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan dukungan awal untuk pemulihan ekonomi warga terdampak. Bantuan diserahkan untuk tiap keluarga sebesar Rp 5 juta.
"Kita juga memberikan dukungan pemberdayaan untuk pemulihan ekonomi di tahap pertama, yaitu indeksnya sebesar Rp 5 juta," imbuh Gus Ipul.
Kemensos juga telah menyalurkan santunan bagi korban meninggal dunia korban meninggal dunia Rp 15 juta yang akan diserahkan kepada ahli waris.
Lalu, santunan Rp 5 juta kepada korban luka berat.
Air siap minum
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengirimkan alat Arsinum, akronim dari "air siap minum", ke wilayah terdampak banjir Sumatera, untuk mengubah air lumpur menjadi air minum.
Teknologi ini diklaim mampu mengolah air banjir dan air berlumpur menjadi air layak minum dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
"Kami sudah mengirimkan Arsinum, air siap minum, yang itu bisa mengolah air banjir, air lumpur untuk menjadi air siap minum untuk per hari 10.000 liter," kata Kepala BRIN Arif Satria.
"Dan kita siapkan lagi untuk 20.000 liter, kemudian siap mengolah air bersih untuk sampai 100.000 liter. Moga-moga ini sangat bermanfaat untuk pemulihan banjir," lanjutnya.
Teknologi Arsinum yang dikirimkan BRIN dapat membantu mempercepat pemulihan kondisi kesehatan dan sanitasi sebagai salah satu prioritas utama dalam penanganan pascabencana banjir.
BRIN juga berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan kementerian lainnya untuk menyusun kebutuhan tematik berbasis citra satelit yang dinilai penting dalam proses pemulihan wilayah terdampak bencana ke depan.
Tag: #pemerintah #siapkan #bantuan #pascabencana #sumatera #saja