Beredar Surat Bupati Aceh Tengah, Pemda Mengaku Tak Mampu Tangani Darurat Bencana
Warga Takengon berdiri di antara kayu-kayu yang terbawa banjir dan longsor. (Jurnalisa untuk JawaPos.com)
02:32
1 Desember 2025

Beredar Surat Bupati Aceh Tengah, Pemda Mengaku Tak Mampu Tangani Darurat Bencana

– Situasi di Kabupaten Aceh Tengah kini berada dalam kondisi kritis. Pasalnya beredar surat resmi Bupati Aceh Tengah Haili Yoga di media sosial. Surat itu menyatakan ketidakmampuan daerah dalam menangani darurat bencana.

Surat itu bernomor 360/565/BPBD/2025 dan menyatakan bahwa dampak bencana hidrometeorologi telah melampaui kapasitas penanganan pemerintah kabupaten. Dalam surat itu Bupati Aceh Tengah Haili Yoga menuliskan bahwa banjir luapan, banjir bandang, dan tanah longsor yang terjadi pada 26 November 2025 telah menelan 15 korban jiwa dan 3.123 kepala keluarga (KK). Angka itu diperkirakan terus bertambah.

Melihat eskalasi bencana yang makin meluas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah menyatakan tidak mampu melaksanakan upaya penanganan darurat sebagaimana mestinya. Pemkab Aceh Tengah membutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat.

"Mengingat kondisi dampak bencana ini, kami selaku Bupati Aceh Tengah menyatakan ketidakmampuan dalam melaksanakan upaya penanganan darurat bencana sebagaimana mestinya," tulis Haili dalam surat yang ditandatangi tanggal 27 November 2025 tersebut. 

Belum ada konfirmasi lebih lanjut terkait keabsahan surat itu. Hanya saja, surat itu telah beredar di media sosial Instagram pada akun @infobandaaceh.

Kondisi Terbaru Aceh Tengah: 24 Orang Hilang, Puluhan Ribu Mengungsi

Mengutip laporan resmi BPBD Aceh Tengah dan keterangan Bupati Haili Yoga dalam siaran langsung pada Minggu (30/11), situasi di lapangan menunjukkan kondisi yang jauh lebih berat daripada laporan awal. Bencana hidrometeorologi yang melanda 14 kecamatan membuat akses vital terputus. Masih ada 24 warga yang dinyatakan hilang.

Data terbaru mencatat 54.199 jiwa mengungsi, sementara korban meninggal dunia bertambah menjadi 21 orang. "Prioritas pertama kami adalah mencari 24 saudara kita yang hilang dan memastikan semua pengungsi mendapatkan kebutuhan dasar,” ujar Haili Yoga dikutip dari laman resmi Kabupaten Aceh Tengah, Minggu (30/11).

Haili menyampaikan, distribusi bantuan mulai menggeliat setelah logistik dari Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat masuk melalui jalur udara untuk menjangkau desa yang terisolasi. Beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya sudah dikirimkan. Namun jumlahnya masih jauh dari cukup.

"Bantuan yang masuk masih sangat kurang. Di lapangan, kami terkendala minimnya BBM dan 59 ruas jalan yang masih sulit dilalui,” tegasnya.

Kondisi ini membuat mobilisasi relawan, distribusi logistik, dan evakuasi warga berjalan sangat lambat. Dia menerangkan, sebanyak 779 rumah warga rusak berat, sementara jaringan listrik dan telekomunikasi sempat lumpuh di 14 kecamatan. Sebagian sudah mulai pulih berkat pemasangan internet satelit, tetapi kualitas jaringan masih terbatas.

Krisis sembako juga terjadi. Air bersih tidak tersedia, stok BBM sangat minim, dan prioritas penggunaan hanya untuk evakuasi serta pengiriman logistik.

Adapun layanan kesehatan bergerak baru menjangkau 402 pengungsi. Di antara puluhan ribu warga terdampak terdapat 1.230 balita, ratusan ibu hamil dan menyusui yang membutuhkan pelayanan medis khusus.

Stok obat-obatan sangat kritis karena antibiotik dan analgesik hanya tersisa 300 unit, sementara perlengkapan untuk pasien cuci darah (BHP) hanya cukup hingga 3 Desember. “Kami butuh pasokan obat-obatan standar sesegera mungkin,” kata Haili Yoga.

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #beredar #surat #bupati #aceh #tengah #pemda #mengaku #mampu #tangani #darurat #bencana

KOMENTAR