Budi Arie dan Projo Dinilai sedang “Survival Mode” di Era Prabowo
Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad bersama Ketua Umum relawan Projo Budi Arie Setiadi di sela-sela Kongres III Projo yang digelar di Grand Sahid Jaya, Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (1/11/2025). (Dok. Istimewa)
18:46
5 November 2025

Budi Arie dan Projo Dinilai sedang “Survival Mode” di Era Prabowo

- Budi Arie dan Projo bergerak merapat ke Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, langkah politik yang dinilai sebagai survival mode.

Pernyataan mengejutkan disampaikan Ketua Umum Relawan Projo, Budi Arie Setiadi, dalam Kongres ke-3 Projo di Hotel Sahid, Jakarta, Minggu (3/11/2025).

Setelah lebih dari satu dekade dikenal sebagai loyalis Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Budi Arie secara tiba-tiba mengatakan ingin bergabung dengan Partai Gerindra yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

“Saya meminta izin kepada seluruh anggota Projo untuk saya bergabung ke Partai Gerindra,” ucapnya.

Mantan Menteri Koperasi yang baru dicopot pada 8 September itu juga mengeklaim mendapatkan dukungan dari para anggota Projo.

Segala keputusan, kata dia, diserahkan kembali padanya.

“Ya, menyerahkan sepenuhnya kepada saya untuk mengambil langkah-langkah untuk bergabung dalam Partai Gerindra,” sebutnya.

Ditemui terpisah, Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menunjukkan keterbukaannya menerima Budi Arie.

Ia menyebutkan, Gerindra selalu menyambut baik kelompok mana pun yang ingin merapat.

“Kalau Gerindra siap, gelombang besar dari manapun. Ya, kita namanya aspirasi, tentu kita pertimbangkan untuk diakomodir,” katanya.

Budi Arie tak ingin pernyataannya untuk bergabung ke Gerindra dianggap sebagai langkah untuk meninggalkan Jokowi.

Ia meminta awak media tak memberikan kesan perpecahan di antara keduanya.

"Jadi sejarah Projo adalah sejarahnya Bapak Jokowi sampai 10 tahun berlangsung dari 2014 sampai 2024. Karena saya mendapat berita dari berbagai media, kok ada yang bilang Projo pisah dari Bapak Jokowi. Ini luar biasa sekali framing adu dombanya," tuturnya.

Meneropong langkah Budi Arie

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Nyarwi Ahmad menilai langkah Budi Arie dan Projo lebih condong ke arah meninggalkan Jokowi.

Guru Besar Komunikasi Politik Universitas itu beralasan, Jokowi tidak pernah memberikan pernyataan secara terbuka yang memerintahkan Budi Arie bergabung ke Gerindra.

Tak hanya itu, Budi Arie dan Projo pun sebenarnya punya opsi tetap bersama Jokowi dengan cara merapat ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

“Idealnya kan begitu (Projo ke PSI). Karena Pak Jokowi cenderungnya kan ke sana. Terakhir, kalau kita lihat semangat membesarkan PSI, besar sekali,” papar Nyarwi.

Pengajar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad  dalam diskusi Dinamika Politk Jelang Penyusunan Kabinet di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (12/10/2019).KOMPAS.com/Haryantipuspasari Pengajar Komunikasi Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad dalam diskusi Dinamika Politk Jelang Penyusunan Kabinet di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, (12/10/2019).

Budi Arie dan Projo dinilainya sedang menjalankan langkah menyelamatkan diri atau "survival mode" di era penguasa baru.

“Tapi saya kira itu sebagai strategi survive Projo dan Budi Arie untuk selalu bertengger ke kekuasaan, dengan cara manuver seperti itu,” sambung dia.

Lebih jauh, Nyarwi melihat bahwa langkah yang diambil Budi Arie dan Projo menunjukkan pragmatisme politik sebagai jalan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai entitas politik nonpartai.

"Ya, kalau itu pragmatisme politik Budi Arie. Bukan hanya pragmatis, tapi juga taktis. Karena Budi Arie ingin survive, Projo ingin survive," sebut dia.

Ia mengatakan, sikap Projo menggambarkan bahwa relawan tidak memiliki basis ideologis dan konsisten pada nilai yang dianut.

Sebaliknya, justru mencari jalan untuk masuk dan dekat dengan kekuasaan.

“Ini juga sebenarnya mempertegas tren ya bahwa relawan itu cenderung mengabdi pada kekuasaan. Bukan sepenuhnya relawan itu kemudian konsisten (pada nilai),” jelasnya.

Nyarwi lantas mempertanyakan relevansi slogan “Selalu setia di garis rakyat” milik Projo.

Dalam pandangannya, rakyat mana yang diperjuangkan Projo dengan langkah politiknya saat ini.

Ia menganggap keputusan Budi Arie lebih cocok menggunakan slogan garis kekuasaan.

“Artinya, kalau yang sedang berkuasa Jokowi, ya Jokowi, yang berkuasa Prabowo, ya Prabowo. Itu yang membuat banyak pihak mengkritisi Budi Arie,” imbuh dia.

Budi Arie bertekad satukan Prabowo dan Jokowi

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, mengamati bahwa Budi Arie sedang mencari tempat lendotan dengan cara merapat ke kubu Prabowo.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau Hensa mengatakan manuver Budi Arie sebagai strategi menyusupkan pengaruh Jokowi ke Gerindra.

Atas analisis dan penilaian manuver dari Yunarto dan Hensa tersebut, Budi Arie enggan berkomentar.

Dia tidak ingin narasi yang dikatakan pengamat dikomentari balik oleh dirinya sebagai Ketua Umum Projo.

"Saya kan bukan komentator, kalau mau berpendapat silakan aja, itu hak mereka," ucapnya.

"Yang pasti Projo itu bertekad untuk menyatukan Prabowo dan Jokowi, karena itu baik untuk bangsa. Kalau orang mau ngomong apa, masak kita mau nanggepin orang ngomong. Orang mau ngomong boleh lah, kalau saya disuruh ngomongin komentator, ya enggak. Sikap kita itu aja," tandasnya.

Tag:  #budi #arie #projo #dinilai #sedang #survival #mode #prabowo

KOMENTAR