Pengalaman Pertama Melihat Proses Tanaman Lokal Menjadi Produk Skincare
Nose Innovation Center diresmikan bersama Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., di Kelapa Gading, Senin (23/2/2026).(KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai)
16:10
24 Februari 2026

Pengalaman Pertama Melihat Proses Tanaman Lokal Menjadi Produk Skincare

– Kesan pertama saat memasuki Nose Innovation Center di Kirana Two Tower, Kelapa Gading, adalah nuansa ruang yang bersih dan serba putih, khas laboratorium seperti yang sering dilihat melalui layar kaca.

Nose Innovation Center diresmikan sebagai pusat penelitian dan pengembangan bahan baku herbal Indonesia, sekaligus menjadi wadah kolaborasi ABG (Academia, Business, Government), seperti yang disampaikan oleh Vice-CEO PT Nose Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum.

“Melalui Nose Innovation Center, perusahaan berharap dapat mempercepat pengembangan kosmetik berbasis bahan lokal Indonesia yang tidak hanya unggul secara kualitas, tetapi juga selaras dengan standar regulasi yang berlaku,” kata Sri saat acara peresmian di lokasi, Senin (23/2/2026).

Baca juga: 5 Rekomendasi Brand Skincare Vegan, Ramah di Kulit dan Ramah Lingkungan

Kesan Pertama Masuk Laboratorium

Nose Innovation Center hadir sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) bahan baku herbal Indonesia sekaligus menjadi wadah kolaborasi ABG (Academia, Business, Government).KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Nose Innovation Center hadir sebagai pusat penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) bahan baku herbal Indonesia sekaligus menjadi wadah kolaborasi ABG (Academia, Business, Government).

Sebelum diajak melihat “isi dapur” produksi skincare, pengunjung diwajibkan mengenakan perlengkapan, seperti jas laboratorium, penutup kepala, dan pelindung alas kaki untuk menjaga sterilitas ruangan. 

Begitu melewati pintu utama, deretan produk yang telah dikembangkan langsung menyambut, mulai dari parfum, body lotion, moisturizer, hingga facial wash

Area ini menjadi semacam etalase awal yang menunjukkan hasil akhir dari proses riset panjang di baliknya.

Eksplorasi Tanaman Lokal dari Berbagai Daerah

Masuk lebih dalam, suasana berubah menjadi lebih “ilmiah”. Di bagian ini, dipamerkan berbagai hasil riset yang merupakan kolaborasi antara Nose dengan sejumlah akademisi dari berbagai universitas di Indonesia.

Universitas tersebut antara lain, Universitas Indonesia, IPB University, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Padjadjaran (UNPAD), hingga Universitas Mulawarman.

Kolaborasi ini berfokus pada eksplorasi tanaman lokal Indonesia yang memiliki potensi sebagai bahan aktif dalam produk kecantikan.

Berbagai bahan tersebut ditampilkan dalam bentuk asli maupun ekstrak, lengkap dengan penjelasan manfaatnya. 

Baca juga: Kulit Sensitif Mudah Iritasi? Ini Pilihan Skincare yang Perlu Diperhatikan

Hasil riset ABG (Academia, Business, Government) yang dilakukan oleh Nose Herbal Indo.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Hasil riset ABG (Academia, Business, Government) yang dilakukan oleh Nose Herbal Indo.

Misalnya, hasil kolaborasi dengan Universitas Indonesia menghadirkan kelopak mawar dan daun pegagan yang dimanfaatkan untuk formulasi kosmetik berbasis air. 

Sementara itu, kayu manis khas Indonesia dikembangkan menjadi bahan aktif bernama Cinnagen NS yang berfungsi sebagai anti-aging. 

Dari UGM, terdapat SappanShield NS yang berasal dari ekstrak kayu secang dan digunakan untuk membantu menangkal dampak paparan blue light pada kulit.

Selain itu, ada juga Colocasia esculenta hasil riset bersama UNPAD, yaitu tanaman tropis yang dikenal mampu menenangkan kulit sekaligus memperkuat skin barrier. 

Baca juga: Daftar 23 Kosmetik dan Skincare Berbahaya yang Dilarang BPOM, Ada Face Palette

Bahan Pencerah dari Hutan Kalimantan

BorneoBright NS, bahan aktif dari hutan Kalimantan yang diformulasikan untuk membantu mencerahkan kulit.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai BorneoBright NS, bahan aktif dari hutan Kalimantan yang diformulasikan untuk membantu mencerahkan kulit.

Dari Kalimantan, Nose memperkenalkan BorneoBright NS, bahan aktif yang diformulasikan untuk membantu mencerahkan kulit.

“Ini sudah kita patenkan Borneo Bright NS untuk brightening atau mencerahkan,” kata Product Development Nose Herbal Indo, Eva Astry, saat menemani Kompas.com berkeliling.

Bahan ini disebut sebagai salah satu hasil riset dari tumbuhan yang hanya ada di indonesia, tepatnya dari hutan di Kalimantan Timur.

Menariknya, sebagian besar tanaman yang ditampilkan memang berasal dari Pulau Jawa, menunjukkan betapa kayanya potensi biodiversitas lokal untuk industri kecantikan.

Dari Laboratorium ke Produk Siap Pakai

Proses pembuatan minuman berbahan kayu manis dalam bentuk cair menyerupai jelly.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Proses pembuatan minuman berbahan kayu manis dalam bentuk cair menyerupai jelly.

Tidak hanya melihat, pengunjung juga berkesempatan untuk mencoba langsung beberapa produk.

Salah satunya moisturizer berbahan dasar kayu manis yang terasa cukup lembap di kulit tanpa meninggalkan rasa lengket. 

Nose juga tidak hanya berfokus pada skincare, tetapi turut mengembangkan produk berbasis obat tradisional atau herbal. 

Salah satu contoh yang diperlihatkan adalah minuman berbahan kayu manis dalam bentuk cair menyerupai jelly sehingga lebih praktis untuk dikonsumsi dibandingkan bentuk bubuk.

Pengalaman ini memberi saya gambaran, bagaimana bahan alami tersebut diolah menjadi produk siap pakai.

Baca juga: Kulit Sensitif Mudah Iritasi? Ini Pilihan Skincare yang Perlu Diperhatikan

Uji Stabilitas Sebelum Izin BPOM

Oven untuk uji stabilitas sebelum produk didaftarkan ke BPOM. 
KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Oven untuk uji stabilitas sebelum produk didaftarkan ke BPOM.

Di sisi lain ruangan, terdapat berbagai peralatan laboratorium yang digunakan dalam proses pengembangan produk. 

Salah satunya adalah oven untuk uji stabilitas, yaitu tahap penting sebelum produk didaftarkan ke BPOM. 

Produk skincare umumnya diuji pada suhu tertentu, seperti sekitar 45 derajat Celsius, untuk melihat kestabilannya dalam kondisi ekstrem.

Selain itu, ada juga penyimpanan pada suhu ruang sebagai pembanding.

Baca juga: Tren Skincare di Tahun 2026, dari Sunscreen Natural hingga Skincare K-beauty

Teknologi dan Inovasi di Balik Pengembangan Produk

Berbagai alat, salah satunya hemogenizer, di Nose Innovation Center.KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Berbagai alat, salah satunya hemogenizer, di Nose Innovation Center.

Berbagai alat seperti homogenizer juga terlihat di area ini, yang berfungsi untuk mencampur bahan agar menghasilkan tekstur yang stabil dan merata. 

Menariknya lagi, terdapat teknologi berbasis AI yang dapat menganalisis kondisi kulit wajah dan memberikan rekomendasi produk yang sesuai.

Kalau biasanya saya hanya memilih deretan skincare di rak penjualan, masuk ke Nose Innovation Center membuat saya memiliki gambaran lengkap tentang proses panjang di balik sebuah produk kecantikan, mulai dari riset bahan herbal lokal, pengujian laboratorium, hingga menjadi produk yang siap digunakan sehari-hari.

Baca juga: Saran Dermatolog untuk Pilih Zat Aktif Skincare Sesuai Masalah Kulit

Tag:  #pengalaman #pertama #melihat #proses #tanaman #lokal #menjadi #produk #skincare

KOMENTAR