Ketika Anak Bercerita tentang Cinta
Ilustrasi anak dan orangtua(freepik.com)
07:10
15 Februari 2026

Ketika Anak Bercerita tentang Cinta

BAGI sebagian banyak orang dewasa, cinta adalah konsep yang abstrak dan absurd; bisa dirasakan, tetapi susah dijelaskan.

Selain itu, banyak anggapan bahwa cinta itu mengandung unsur "dewasa" yang sangat kuat, yang membuat anak-anak sering dijauhkan saat berbicara tentang cinta.

Anak-anak dianggap belum cukup umur, belum "dewasa", dan belum mampu berpikir tentang cinta.

Berbeda dari pandangan ini, ada blog yang malah memuat tulisan tentang pendapat anak-anak tentang cinta.

Tulisan dalam bahasa inggris ini berjudul "What Does Love Mean? How 4-8 Year-Old Kids Describe Love"; ditulis oleh Ladan Lashkari, pada 15 November 2024; yang dimuat di laman dailygood.org

Artikel itu memuat jawaban 17 anak berusia 4-8 tahun saat ditanya "apa itu cinta?"; dan jawaban mereka atas pertanyaan itu sederhana, tetapi praktis untuk dipahami. Berikut adalah beberapa catatan Lashkari tentang jawaban anak-anak itu:

Rebecca (8 tahun): "ketika nenekku menderita radang sendi, dia tidak bisa lagi membungkuk dan membersihkan kuku kakinya. Jadi kakekku selalu melakukannya untuk nenek, bahkan ketika tangan kakek juga menderita radang sendi. Itulah cinta".

Baca juga: Negara Tak Berkutik untuk Sebatang Pena

Mary Ann (4 tahun): "cinta itu ketika anak anjingmu menjilati wajahmu, bahkan setelah kamu meninggalkannya sendirian seharian".

Danny (7 tahun): "cinta itu ketika Ibu membuatkan kopi untuk Ayahku dan dia mencicipinya sedikit sebelum memberikan kopi itu kepada Ayah, untuk memastikan kopinya enak".

Chris (7 tahun): "cinta itu Ibu melihat Ayah sedang bau dan berkeringat, tapi tetap bilang kalau Ayah lebih ganteng daripada Robert Redford".

Lauren (4 tahun): "aku tahu kakak perempuanku menyanyangiku karena dia berikan baju lamanya untukku, dan karena itu dia harus pergi membeli baju yang baru".

Selain beberapa jawaban tersebut, Lashkari masih menulis banyak lagi jawaban makna cinta dari anak-anak.

Jawaban anak-anak itu sangat menyentuh, tetapi berhasil menyederhanakan pengertian cinta yang sering abstrak dan absurd bagi orang dewasa.

Walaupun keaslian proses ilmiah di balik artikel tersebut masih bisa diperdebatkan, tetapi apa yang ditulis pada dasarnya tidak salah. Pengertian cinta yang tersirat di tulisan Lashkari, sejalan dengan bagaimana cinta di jelaskan di buku-buku Psikologi Sosial.

Manurut buku teks Psikologi Sosial klasik karangan David O. Sears, Jonathan L. Freeam, dan L Anne Peplau, cinta digambarkan sebagai tindakan sosial, yang berbentuk sikap, yang melibatkan keterikatan (attachment), kepedulian (caring), dan keintiman (intimacy).

Dengan bahasa lain, cinta adalah sikap yang ditujukan kepada pihak lain, untuk secara rela dan sadar melekatkan diri, peduli, dan menjalin keintiman dengan pihak tersebut.

Jawaban anak-anak tentang arti cinta, yang ditulis oleh Lashkari ternyata juga menyiratkan hal-hal itu; dan ini menegaskan bahwa anak-anak pun sudah dapat mengenali cinta.

Yang menarik dari bagaimana anak-anak mendefinisikan tentang cinta, bukan hanya karena jawaban mereka ternyata mengandung unsur yang sama dengan teori cinta dikajian psikologi sosial, tetapi juga karena banyak dari mereka menggunakan contoh nyata yang mereka temui di kehidupan keluarga untuk menjelaskan cinta.

Baca juga: Rp 10.000, Hak Anak, dan Runtuhnya Negara Kesejahteraan

Dari sini dapat ditangkap bahwa anak-anak belajar tentang cinta pertama-tama dari keluarga; dari relasi orang tua, relasi kakek - nenek, relasi dengan saudara, bahkan relasi dengan hewan peliharaan di rumah.

Sayangnya, banyak cerita kehidupan keluarga masa kini yang tidak dapat menjadi sumber belajar cinta yang baik bagi anak-anak.

Cerita- cerita tentang KDRT di dalam rumah tangga, perceraian, pertengkaran istri dan suami, konflik mertua dan menantu, perebutan hak asuh anak, orangtua yang terlalu sibuk, anak yang diabaikan, orangtua yang "memperkerjakan" anak, anak yang kesepian di dalam rumah, perselisihan dengan saudara, orangtua yang terlalu memanjakan atau malah terlalu keras dengan anak, atau anak yang selalu diberi uang sebagai ganti perhatian orangtua adalah beberapa contoh cerita buruk bagi pelajaran cinta dalam keluarga.

Sebagai tindakan sosial, anak akan belajar tentang cinta dan mempraktikkan cinta, berdasarkan dinamika cinta di dalam keluarganya.

Tulisan Lashkari menunjukkan bahwa anak bukan tidak memahami cinta, anak hanya tidak bisa menjelaskan cinta seperti yang orang dewasa cinta.

Sebagai sumber cinta, keluarga adalah pihak pertama dan paling bertanggung jawab atas permasalahan "cinta" anak-anak di kemudian hari.

Permasalahan pada anak terkait "cinta" di kemudian hari akan berimbas pada kasus kenakalan remaja, perilaku seks bebas oleh remaja, kriminalitas oleh anak seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, pencurian, perdagangan manusia, hingga kasus bunuh diri oleh anak.

Kasus-kasus tersebut jika dirunut akan berujung pada bagaimana cinta diejawantahkan dalam keluarga mereka, sejak saat mereka masih anak-anak.

Lalu, bagaimana supaya anak-anak dapat bercerita tentang cinta secara positif? Jawabannya adalah dengan keluarga yang mempraktikkan cinta, mulai dari hal-hal terkecil.

Guna melakukan itu semua, maka setiap anggota keluarga harus menyadari dan rela untuk saling peduli, mengikatkan diri satu sama lain, dan menjalin relasi yang intim (dekat) antaranggota keluarga.

Baca juga: MBG, Guru Honorer, dan Ironi Kesejahteraan Pendidik

Jika saat ini banyak orang dewasa bingung memaknai cinta, mungkin saja itu karena mereka tidak mendapatkan pelajaran cinta yang baik sejak dini di dalam keluarga.

Oleh karena itu, sebenarnya tidak tabu bercerita tentang cinta kepada anak; anak juga penting diajak bercerita tentang pengalaman cinta mereka.

Akhirnya pengalaman cinta anak tidak hanya terbentuk melalui rutinitas orangtua yang mengatakan "I love you" kepada anak, tetapi juga melalui tindakan-tindakan kepedulian yang nyata oleh dan untuk semua anggota keluarga.

Tag:  #ketika #anak #bercerita #tentang #cinta

KOMENTAR