Pergerakan Harga Emas dan Perak Melambat, Tren Bullish Dinilai Belum Berakhir
Pergerakan harga emas dan perak mulai melambat setelah reli tajam pada akhir 2025 hingga Januari 2026. Tren jangka menengah dan panjang dinilai masih terjaga.
Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai perlambatan ini belum menandai akhir tren kenaikan.
“Secara umum belum banyak perubahan fundamental jangka menengah apalagi jangka panjang, emas dan perak masih bullish,” ujarnya kepada Kontan, Kamis 12 Februari 2026.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 15 Februari 2026 Pagi: Antam, UBS, Galeri24 Tidak Bergerak
Faktor Tekanan Jangka Pendek
Wahyu menyebut koreksi Februari dipicu data tenaga kerja Amerika Serikat Januari 2026 yang lebih kuat dari perkiraan. Kondisi ini kembali memunculkan narasi suku bunga tinggi lebih lama dari bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
Emas sebagai aset non yielding sensitif terhadap arah suku bunga. Ketika ekspektasi penurunan suku bunga tertunda, sebagian investor beralih ke instrumen berbunga.
Ilustrasi perak batangan. Harga perak kembali mengalami pergerakan ekstrem pada perdagangan Jumat (6/2/2026) waktu setempat, atau Sabtu (7/2/2026) pagi.
Faktor teknikal juga berperan. Setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high berulang kali, sejumlah indikator menunjukkan kondisi jenuh beli. Situasi ini memicu aksi ambil untung.
“Saya melihat ini lebih sebagai fase distribusi dan profit taking yang sehat,” jelasnya.
Baca juga: Demi War Emas Antam, Pengunjung Serbu Pameran Jewellery Fair di JCC Senayan
Katalis Fundamental Masih Kuat
Wahyu menilai sentimen dedolarisasi negara BRICS serta pembelian agresif bank sentral, terutama dari China dan Timur Tengah, masih menjadi penopang harga.
Untuk Februari hingga Maret 2026, ia memproyeksikan harga bergerak sideways atau konsolidasi. Emas diperkirakan berada di rentang 4.500 dollar Amerika Serikat hingga 5.800 dollar Amerika Serikat per ons troi. Dengan asumsi kurs Rp 16.830 per dollar Amerika Serikat, kisaran itu setara sekitar Rp 75,7 juta hingga Rp 97,6 juta per ons troi.
Perak diperkirakan stabil di kisaran 60 dollar Amerika Serikat hingga 125 dollar Amerika Serikat per ons troi, setara sekitar Rp 1,01 juta hingga Rp 2,10 juta per ons troi.
Memasuki kuartal II 2026, arah harga dinilai bergantung pada inflasi global dan perkembangan geopolitik. Jika inflasi bertahan tinggi atau konflik di Eropa Timur dan Timur Tengah meningkat, emas berpeluang menguji 6.000 dollar Amerika Serikat per ons troi atau sekitar Rp 100,9 juta.
Perak berpotensi menembus 130 dollar Amerika Serikat per ons troi atau sekitar Rp 2,19 juta.
Permintaan Industri Topang Perak
Wahyu menilai perak memiliki dukungan tambahan dari sisi industri. Permintaan panel surya dan kendaraan listrik diperkirakan memicu defisit pasokan selama enam tahun berturut turut hingga 2026.
“Ini membuat rebound potensi rebound perak bisa lebih tajam dari emas secara presentase,” imbuhnya.
Untuk periode April hingga Juni 2026, emas diproyeksikan bergerak di rentang 4.000 dollar Amerika Serikat hingga 6.000 dollar Amerika Serikat per ons troi atau sekitar Rp 67,3 juta hingga Rp 100,9 juta.
Perak diperkirakan berada di kisaran 50 dollar Amerika Serikat hingga 130 dollar Amerika Serikat per ons troi atau sekitar Rp 841.500 hingga Rp 2,19 juta.
Artikel ini sudah tayang di Kontan dengan judul Harga Emas dan Perak, Analis: Tren Bullish Jangka Menengah Masih Terjaga
Tag: #pergerakan #harga #emas #perak #melambat #tren #bullish #dinilai #belum #berakhir