Target Keuntungan Aset Danantara 7 Persen: Ambisi atau Ilusi?
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan sekitar 52 persen perusahaan BUMN tercatat merugi. Kondisi ini menunjukkan perlunya restrukturisasi mendalam agar aset negara dapat memberikan nilai tambah yang optimal. ()
08:48
15 Februari 2026

Target Keuntungan Aset Danantara 7 Persen: Ambisi atau Ilusi?

PRESIDEN Prabowo Subianto meminta Danantara Indonesia mampu mencetak Return on Asset (ROA) 7 persen (Kompas.com, 13/02/2026). CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan siap.

Sekilas, angka ini terdengar seperti istilah teknis yang hanya dipahami kalangan keuangan. Namun sebenarnya, ini soal sederhana: seberapa pintar negara mengelola asetnya agar menghasilkan keuntungan.

ROA itu ibarat hasil panen dari sawah yang kita miliki. Jika sawahnya luas, tetapi panennya sedikit, berarti pengelolaannya kurang optimal.

Begitu juga dengan aset negara. Jika aset triliunan rupiah hanya menghasilkan laba kecil, berarti ada yang perlu diperbaiki.

ROA 7 persen artinya: dari setiap Rp 100 aset yang dikelola, harus menghasilkan Rp 7 laba bersih. Pertanyaannya, realistiskah angka itu?

Di dunia bisnis, ROA 7 persen bukan angka kecil. Banyak perusahaan besar hanya berada di kisaran 2–5 persen.

Untuk lembaga yang mengelola aset negara dalam jumlah sangat besar, mencapai 7 persen berarti laba harus naik signifikan, atau aset harus dikelola jauh lebih efisien.

Baca juga: Salah Kaprah Kenaikan Pajak Kendaraan di Jawa Tengah

Masalahnya, aset negara tidak semuanya lincah seperti perusahaan swasta. Ada BUMN yang padat modal, margin tipis, bahkan ada yang masih merugi.

Ada pula proyek yang lebih banyak mengandung fungsi sosial ketimbang fungsi komersial. Semua itu membuat angka 7 persen menjadi target yang menantang. Namun, bukan berarti mustahil.

Di mana letak tantangannya?

Masalah utama pengelolaan aset negara selama ini bukan pada jumlahnya, tetapi pada produktivitasnya. Kita sering bangga memiliki aset besar—bandara, pelabuhan, lahan luas, tambang, perusahaan raksasa. Namun, pertanyaannya: seberapa maksimal aset itu bekerja?

Bayangkan gedung besar milik negara, tetapi sebagian lantainya kosong. Nilainya besar di atas kertas, tetapi tidak menghasilkan.

Atau perusahaan dengan aset triliunan, tetapi labanya tipis karena biaya operasional tinggi dan manajemen kurang efisien. Dalam kondisi seperti ini, ROA sulit naik.

ROA hanya bisa meningkat jika dua hal terjadi: laba bertambah atau aset dimanfaatkan lebih baik. Tanpa itu, target 7 persen hanya akan menjadi slogan.

Jalan menuju 7 persen

Jika target ini ingin benar-benar dicapai, ada beberapa langkah yang harus dilakukan secara serius.

Pertama, memilih investasi yang tepat. Modal negara harus masuk ke sektor yang benar-benar menghasilkan, bukan sekadar proyek prestise.

Penghiliran industri, energi transisi, dan sektor digital bisa menjadi pilihan karena memiliki potensi nilai tambah tinggi.

Kedua, memperbaiki efisiensi. Banyak BUMN sebenarnya punya peluang untung lebih besar jika biaya bisa ditekan dan manajemen lebih disiplin.

Mengurangi pemborosan, menata ulang utang mahal, serta memastikan proyek berjalan tepat waktu bisa langsung meningkatkan laba.

Ketiga, meninjau ulang aset yang kurang produktif. Tidak semua aset harus dipertahankan selamanya.

Baca juga: Menagih Transparansi di Balik Pasar Modal Indonesia

Jika ada yang terus merugi atau tidak berkembang, perlu keberanian untuk merestrukturisasi, menggandeng mitra, atau bahkan melepas sebagian kepemilikan. Keputusan seperti ini memang tidak populer, tetapi sering kali diperlukan.

Keempat, memperkuat tata kelola. Target 7 persen tidak akan tercapai jika pengelolaan masih setengah hati. Direksi dan komisaris harus benar-benar diukur dari kinerja, bukan sekadar posisi. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci.

Target ROA tidak berdiri sendiri. Kondisi ekonomi global dan domestik ikut menentukan. Jika ekonomi tumbuh baik, permintaan naik, harga komoditas stabil, dan biaya pinjaman terkendali, peluang mencapai 7 persen lebih besar.

Sebaliknya, jika ekonomi melambat atau harga komoditas jatuh, laba bisa tertekan.

Artinya, Danantara tidak bisa bekerja sendirian. Kebijakan fiskal, moneter, dan iklim investasi nasional harus selaras. Stabilitas ekonomi adalah fondasi dari profitabilitas.

Apakah ROA 7 persen ambisi atau ilusi? Jawabannya tergantung pada keseriusan transformasi. Jika hanya mengganti nama dan struktur tanpa perubahan mendasar, angka itu sulit dicapai. 

Namun, jika benar-benar ada reformasi—efisiensi, disiplin investasi, dan tata kelola profesional—target tersebut bisa menjadi titik balik pengelolaan aset negara.

Angka 7 persen pada akhirnya bukan sekadar rasio keuangan. Ia adalah cermin disiplin, efisiensi, dan keberanian mengambil keputusan sulit.

Baca juga: MBG, Guru Honorer, dan Ironi Kesejahteraan Pendidik

Ia adalah simbol. Simbol bahwa negara ingin mengelola kekayaannya secara produktif. Simbol bahwa aset publik harus memberi manfaat nyata bagi rakyat, bukan sekadar tercatat dalam laporan.

Masyarakat mungkin tidak terlalu peduli dengan istilah ROA. Namun, masyarakat peduli pada hasilnya: apakah keuntungan itu bisa memperkuat APBN, membiayai pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, serta menciptakan lapangan kerja. Di situlah makna sesungguhnya dari angka 7 persen.

Karena sebesar apa pun aset yang dimiliki, jika tidak dikelola dengan baik, ia hanya menjadi angka di laporan. 

Namun, jika dikelola dengan disiplin dan keberanian, ia bisa menjadi sumber kesejahteraan bersama. Jadi, ambisi atau ilusi? Waktu dan konsistensi kebijakan yang akan menjawabnya.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya sederhana: Apakah kita ingin memiliki aset besar yang tampak megah, atau aset yang benar-benar bekerja untuk rakyat?

Karena dalam ekonomi, yang menentukan bukan seberapa besar yang kita miliki—melainkan seberapa produktif kita mengelolanya.

Tag:  #target #keuntungan #aset #danantara #persen #ambisi #atau #ilusi

KOMENTAR