Mengapa Kereta Api Tidak Menggunakan Sabuk Pengaman?
Sabuk pengaman menjadi perlengkapan keselamatan wajib di mobil dan pesawat. Namun, hal berbeda justru terlihat pada moda transportasi kereta api.
Hampir semua kereta penumpang di dunia tidak dilengkapi sabuk pengaman di kursinya. Padahal, kereta juga melaju dengan kecepatan tinggi, termasuk kereta cepat.
Lantas, mengapa kereta api tidak menggunakan sabuk pengaman seperti moda transportasi lain?
Mengutip Reader’s Digest, ahli keselamatan transportasi Thomas Barth sekaligus mantan investigator keselamatan di National Transportation Safety Board (NTSB) memaparkan alasan mengapa kereta kerap tidak dilengkapi sabuk pengaman.
Baca juga: Cara Daftar Mudik Gratis KAI 2026 via Access by KAI
Gaya Benturan Kereta Berbeda dengan Mobil
Salah satu alasan utama kereta tidak membutuhkan sabuk pengaman adalah tingkat kecelakaan yang relatif rendah. Kereta beroperasi di jalur khusus yang terkontrol, tidak bercampur dengan lalu lintas umum seperti mobil atau bus.
Dibandingkan kecelakaan lalu lintas jalan raya, insiden kereta api jauh lebih sedikit. Faktor jalur khusus, sistem persinyalan, serta pengoperasian oleh masinis profesional membuat risiko kecelakaan dinilai masih dalam batas aman tanpa perlu sabuk pengaman.
Dalam kecelakaan kendaraan, tingkat bahaya sangat ditentukan oleh seberapa cepat kendaraan berhenti. Mobil yang menabrak objek keras akan berhenti mendadak, sehingga menimbulkan gaya benturan besar pada tubuh penumpang.
Kereta memiliki karakteristik berbeda. Bobotnya sangat besar dan panjang rangkaiannya membuat kereta tidak berhenti secara tiba-tiba saat terjadi benturan dengan objek yang lebih ringan. Akibatnya, gaya benturan yang dirasakan penumpang umumnya lebih rendah dibandingkan kecelakaan mobil.
Kondisi ekstrem seperti tabrakan antarkereta atau anjlokan memang dapat menimbulkan benturan besar, tetapi kejadian ini tergolong sangat jarang.
Baca juga: Usai Protes Super Air Jet Delay 5 Jam, Penumpang Malah Ditinggal Terbang
Sabuk Pengaman Justru Bisa Berbahaya di Kereta?
Alih-alih menambahkan sabuk pengaman, sistem keselamatan kereta lebih difokuskan pada pencegahan kecelakaan sejak awal. Salah satunya melalui penerapan Positive Train Control (PTC), sistem otomatis yang membatasi pergerakan kereta untuk mencegah tabrakan akibat kesalahan manusia.
Selain itu, desain interior kereta juga diatur ketat agar meminimalkan risiko cedera, seperti jarak antar-kursi, posisi pegangan, hingga bentuk meja dan sandaran. Data keselamatan transportasi menunjukkan risiko perjalanan dengan kereta lebih rendah dibandingkan mobil, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
Selain itu, pemasangan sabuk pengaman di kereta tidak sesederhana di mobil. Kursi kereta saat ini tidak dirancang untuk menahan gaya benturan menggunakan sabuk pengaman. Jika dipaksakan, desain kursi harus diubah menjadi lebih kaku.
Baca juga: 5 Ide Liburan Imlek Anti Gabut di Jakarta, Lihat Barongsai dan Lampion
Kursi yang terlalu kaku justru berpotensi membahayakan penumpang lain yang tidak duduk atau tidak mengenakan sabuk pengaman, karena bisa terbentur keras saat terjadi insiden.
Selain itu, penggunaan sabuk pengaman dinilai tidak praktis untuk kereta dengan banyak pemberhentian. Proses pasang-lepas sabuk bisa memperlambat layanan dan menurunkan kenyamanan penumpang.
Pada beberapa jenis kereta, seperti KRL atau subway, penumpang sering kali berdiri karena keterbatasan tempat duduk. Jika sabuk pengaman diwajibkan, kapasitas angkut penumpang otomatis berkurang dan justru mengganggu fungsi utama transportasi massal.
Hingga kini, regulator transportasi menilai risiko perjalanan kereta masih dapat diterima tanpa sabuk pengaman. Desain interior, standar keselamatan, serta sistem pengendalian perjalanan dinilai cukup untuk menjaga keselamatan penumpang.
Meski tidak ada moda transportasi yang benar-benar bebas risiko, pendekatan keselamatan pada kereta api dirancang untuk mengurangi bahaya ke tingkat yang dianggap aman tanpa perlu sabuk pengaman.