Di Indonesia Economic Outlook 2026, Presiden Prabowo Janji Permudah Ekspor dan Regulasi untuk Tumbuhkan Ekonomi
Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).(DOK. Kemenko Perekonomian )
08:22
15 Februari 2026

Di Indonesia Economic Outlook 2026, Presiden Prabowo Janji Permudah Ekspor dan Regulasi untuk Tumbuhkan Ekonomi

- Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekspor dan menyederhanakan regulasi.

“Kita akan permudah ekspor, buka pelabuhan-pelabuhan dan lapangan-lapangan terbang untuk ekspor langsung. Kita akan permudah regulasi supaya menumbuhkan kegiatan ekonomi,” ujarnya, dilansir dari laman ekon.go.id, Sabtu (14/2/2026)

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Acara tersebut dihadiri para menteri dan pimpinan lembaga, duta besar negara sahabat di Jakarta, asosiasi usaha, lembaga riset, perbankan, sekuritas, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga pemeringkat, lembaga internasional, fund manager, ekonom, akademisi, serta media.

Forum itu menjadi wadah strategis untuk menjelaskan sekaligus menyelaraskan visi dan langkah bersama dalam mendorong perekonomian nasional.

Sejalan dengan arahan tersebut, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sesi laporan memaparkan bahwa salah satu pilar menuju target pertumbuhan ekonomi 8 persen dari sisi permintaan adalah peningkatan ekspor.

Sepanjang 2025, kata dia, ekspor komoditas nonmigas tercatat tumbuh 7,66 persen.

Baca juga: Neraca Perdagangan Surplus 67 Bulan, BI Soroti Kuatnya Ekspor Nonmigas

Dua komoditas utama andalan ekspor Indonesia juga menunjukkan kinerja positif pada 2025. Minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya (HS 15) tumbuh 27,94 persen dengan kontribusi 12,73 persen terhadap total ekspor.

Sementara itu, besi dan baja (HS 72) tumbuh 8,41 persen dengan kontribusi 10,37 persen dari total ekspor.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).DOK. Kemenko Perekonomian Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Secara sektoral, peningkatan nilai ekspor pada 2025 didorong sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,77 persen dan pertumbuhan mencapai 14,47 persen.

Dari sisi negara tujuan, dua mitra dagang utama Indonesia juga mencatat kenaikan signifikan.

Ekspor ke Tiongkok tumbuh 7,11 persen dengan kontribusi 24,02 persen terhadap total ekspor, sedangkan ekspor ke Amerika Serikat (AS) tumbuh 16,66 persen dengan kontribusi 11,47 persen.

“Ekspor kita, khususnya komoditas nonmigas, merupakan pilar penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan sepanjang 2025 mampu tumbuh kuat 7,66 persen. Bahkan, ekspor ke Amerika mampu tumbuh lebih dari 16 persen di tengah dinamika kebijakan tarif dari Presiden AS Donald Trump,” ujar Airlangga.

Apresiasi dari Apindo

Dari sisi pelaku usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah merilis berbagai paket kebijakan ekonomi di tengah tantangan ketidakpastian global, termasuk kebijakan tarif Presiden Trump, dinamika geopolitik, dan konflik di berbagai kawasan.

Baca juga: Kapal Perang AS Tabrakan dengan Kapal Logistik AL Saat Isi Ulang, 2 Luka-luka

Namun demikian, pelaku usaha mengingatkan bahwa biaya logistik nasional masih belum kompetitif.

“Ini adalah bagian dari yang disebut high cost economy,” ujar Shinta.

Ia mengungkapkan, dunia usaha siap bekerja sama dengan pemerintah dalam menghadapi tekanan global.

Akan tetapi, kata Shinta, kolaborasi tersebut memerlukan komitmen nyata terhadap penyederhanaan regulasi serta kepastian kebijakan.

Dalam pertemuan Apindo dengan Presiden Prabowo beberapa waktu lalu, lanjut Shinta, Presiden dinilai memahami berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha, termasuk persoalan birokrasi dan implementasi kebijakan di lapangan yang kerap tidak sejalan dengan semangat penyederhanaan aturan dan prosedur.

Untuk mendorong ekspor dan meningkatkan daya saing nasional, upaya tidak hanya bertumpu pada keberhasilan perjanjian perdagangan, tetapi juga pembenahan struktural di dalam negeri.

Debottlenecking, deregulasi, penyederhanaan prosedur dan perizinan, efisiensi logistik, serta penurunan biaya produksi menjadi kunci agar industri dan produk Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Baca juga: Kolaborasi HIPMI Syariah–Kemendag Buka Jalan Produk Halal ke Pasar Global

Kehadiran Presiden Prabowo yang menyampaikan sambutan utama dalam forum tersebut menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk menjaga optimisme ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

Momentum itu menjadi titik penting untuk terus memperkuat daya saing, mendorong ekspor, meningkatkan investasi, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat.

Tag:  #indonesia #economic #outlook #2026 #presiden #prabowo #janji #permudah #ekspor #regulasi #untuk #tumbuhkan #ekonomi

KOMENTAR