Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog
Ilustrasi pasangan. Riley dan Isaac mengubah gaya hidup mereka hingga tampil jauh berbeda di hari pernikahan.(Unsplash/photos_by_lanty)
17:10
12 Februari 2026

Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog

Bicara soal pernikahan, dalam praktiknya, perasaan cinta saja tidak cukup untuk menopang hubungan jangka panjang yang penuh dinamika.

Dibutuhkan kesiapan mental dan kematangan emosi agar pernikahan dapat berjalan sehat dan harmonis.

Psikolog keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa kesiapan menikah bukan berarti tidak lagi merasa ragu atau takut.

Justru, kesiapan ditandai dengan kemampuan menerima adanya keraguan, namun tetap terbuka untuk belajar dan bertumbuh bersama pasangan.

“Siap menikah bukan berarti tidak punya rasa takut. Siap berarti tetap mau mencoba, terbuka untuk belajar, dan beradaptasi satu sama lain,” ujarnya saat dihubingi Kompas.com, baru-baru ini.

Baca juga: Melihat Orangtua Bertengkar Sejak Kecil, Mengapa Anak Bisa Takut Menikah?

Kematangan emosi jadi kunci

Salah satu bekal mental terpenting sebelum menikah adalah kematangan emosi.

Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat dan konflik adalah hal yang wajar.

Tanpa kemampuan mengelola emosi, perbedaan kecil bisa berkembang menjadi pertengkaran besar.

Kematangan emosi terlihat dari kemampuan seseorang untuk:

  • Mengendalikan reaksi saat marah
  • Mau mendengarkan sudut pandang pasangan
  • Tidak selalu ingin menang sendiri

Menurut Sukmadiarti, pernikahan menyatukan dua individu dengan latar belakang berbeda.

Karena itu, kemampuan beradaptasi dan menerima perbedaan menjadi faktor penting dalam menjaga keharmonisan.

Baca juga: Menikah Bukan Soal Umur, Valerie dan Ian Ungkap Arti Kesiapan Setelah 9 Tahun Pacaran

Berdamai dengan masa lalu

Kesiapan mental juga berkaitan dengan sejauh mana seseorang telah berdamai dengan pengalaman masa lalunya.

Pengalaman menyaksikan konflik orangtua atau hubungan yang tidak sehat dapat membentuk ketakutan tersendiri terhadap pernikahan.

“Pengalaman masa kecil sangat memengaruhi pembentukan karakter dan mindset seseorang. Jika ada luka atau ketakutan yang belum selesai, penting untuk mengenalinya dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk pulih,” jelasnya.

Membawa luka yang belum sembuh ke dalam pernikahan berisiko memunculkan konflik baru.

Karena itu, refleksi diri dan, bila perlu, konsultasi dengan psikolog dapat membantu mengurai beban emosional yang terpendam.

Baca juga: Ketakutan Menikah di Kalangan Anak Muda: Wajar atau Perlu Diwaspadai?

IlustrasiFREEPIK Ilustrasi

Komunikasi dan keterbukaan

Selain emosi yang stabil, kesiapan mental juga mencakup kemampuan berkomunikasi secara terbuka.

Pasangan perlu mampu menyampaikan kebutuhan, harapan, maupun kekhawatiran tanpa rasa takut dihakimi.

Relasi yang sehat, menurut Sukmadiarti, adalah ketika masing-masing individu tetap bisa menjadi diri sendiri yang terbaik.

Pernikahan bukan tentang kehilangan identitas, melainkan tentang menyatukan dua pribadi yang saling melengkapi.

Baca juga: Cerita Christopher dan Kezia Pacaran 11 Tahun, Sadar Menikah Bukan Sekadar Ucap Janji

Siap belajar dan bertumbuh

Pada akhirnya, pernikahan adalah proses belajar seumur hidup. Tidak ada hubungan yang sepenuhnya bebas dari tantangan.

Kesiapan mental ditandai dengan kemauan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan tumbuh bersama pasangan.

Dengan kematangan emosi, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menghadapi ketakutan, pernikahan tidak lagi hanya berdiri di atas perasaan cinta semata.

Lebih dari itu, ia menjadi komitmen sadar untuk membangun kehidupan bersama secara dewasa dan penuh tanggung jawab.

Tag:  #cukup #modal #cinta #kesiapan #mental #sebelum #menikah #menurut #psikolog

KOMENTAR