Melihat Orangtua Bertengkar Sejak Kecil, Mengapa Anak Bisa Takut Menikah?
Tidak sedikit anak muda yang mengaku takut menikah, meski sebenarnya mereka ingin memiliki hubungan yang serius.
Salah satu faktor yang kerap menjadi akar ketakutan tersebut adalah pengalaman masa kecil, terutama ketika sering menyaksikan konflik atau pertengkaran orangtua di rumah.
Psikolog keluarga Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pengalaman di masa kecil memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang pernikahan.
“Pengalaman masa kecil besar pengaruhnya, karena di masa itulah awal pembentukan karakter, mindset, dan emosi seseorang. Bila sejak kecil sering menyaksikan konflik keluarga, maka program di bawah sadar bisa membentuk banyak ketakutan,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan rumah tangga yang tidak harmonis cenderung menyimpan memori emosional yang kuat.
Tanpa disadari, pengalaman tersebut membentuk persepsi bahwa pernikahan identik dengan pertengkaran, tekanan, atau ketidakbahagiaan.
Baca juga: Sudah 9 Tahun Pacaran, Valerie dan Ian Prioritaskan Finansial dan Mental Sebelum Menikah
Ilustrasi pasangan bertengkar.
Terbentuknya “program bawah sadar”
Menurut Sukmadiarti, apa yang dilihat dan dirasakan anak di rumah akan tersimpan sebagai referensi utama tentang relasi.
Ketika dewasa dan mulai memikirkan komitmen, memori itu bisa muncul kembali dalam bentuk kecemasan atau keraguan.
Akibatnya, sebagian orang merasa takut gagal, takut mengulang pola yang sama, atau bahkan takut kehilangan kebahagiaan setelah menikah.
Ketakutan ini sering kali tidak disadari sepenuhnya, tetapi memengaruhi keputusan dalam menjalin hubungan.
Namun, penting dipahami bahwa pengalaman masa lalu bukanlah vonis permanen terhadap masa depan.
Baca juga: Apakah Takut Menikah itu Wajar? Ini Penjelasan Psikolog
Berdamai dengan masa lalu
Untuk bisa lebih siap membangun komitmen jangka panjang, seseorang perlu berdamai dengan pengalaman hidupnya.
Sukmadiarti menekankan pentingnya menerima bahwa kondisi keluarga di masa kecil mungkin tidak ideal.
“Menerima bahwa itu pernah terjadi, memaafkan keterbatasan orangtua di masa itu, dan mengizinkan diri untuk pulih adalah langkah penting. Dari situ, seseorang bisa belajar dan berani mencoba membangun hubungan yang lebih harmonis ke depan,” jelasnya.
Proses ini memang tidak selalu mudah. Namun, kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menciptakan pola hubungan yang berbeda menjadi kunci utama.
Baca juga: Tantangan Generasi Sandwich Menabung untuk Menikah di Tengah Biaya Hidup Tinggi
Takut menikah, wajar atau tidak?
Rasa takut menikah sebenarnya wajar, terutama jika ada pengalaman emosional yang kuat di masa lalu.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika ketakutan tersebut terlalu berlebihan hingga membuat seseorang menutup diri sepenuhnya dari peluang menjalin hubungan yang sehat.
Jika rasa takut terus menghambat, konsultasi dengan psikolog atau konselor keluarga dapat membantu menggali akar masalah dan memulihkan “mental block” yang mungkin terbentuk sejak lama.
Baca juga: Ketakutan Menikah di Kalangan Anak Muda: Wajar atau Perlu Diwaspadai?
Membangun pandangan baru tentang pernikahan
Pada akhirnya, pernikahan bukan sekadar pengulangan dari apa yang pernah dilihat di masa kecil. Setiap individu memiliki kesempatan untuk belajar, beradaptasi, dan membangun relasi yang lebih sehat.
Dengan kesadaran diri, komunikasi terbuka, serta kemauan untuk terus belajar, ketakutan yang dulu terbentuk bisa perlahan berubah menjadi kesiapan.
Masa lalu mungkin membentuk cara pandang, tetapi bukan berarti menentukan sepenuhnya masa depan.
Tag: #melihat #orangtua #bertengkar #sejak #kecil #mengapa #anak #bisa #takut #menikah