Intermittent Fasting Bukan Solusi untuk Semua Orang, Ada Risiko Tersembunyi
Diet intermittent fasting atau diet puasa kerap dianggap sebagai cara mudah menurunkan berat badan dan memperbaiki kesehatan pencernaan tanpa harus mengubah jenis makanan. Metode ini hanya mengatur waktu makan, bukan menu yang dikonsumsi.
Namun, dokter bedah NHS dan edukator kesehatan, Dr Karan Rajan, menegaskan bahwa intermittent fasting bukan solusi kesehatan untuk semua orang.
Baca juga: Studi Ungkap Kenapa Intermittent Fasting Tak Selalu Menyehatkan
Janji manfaat yang tidak selalu sesuai kenyataan
Intermittent fasting sering dipromosikan sebagai cara “meretas” sistem tubuh agar lebih sehat. Banyak klaim menyebut metode ini bisa menurunkan berat badan, memperbaiki kesehatan usus, dan meningkatkan metabolisme.
Rajan mengatakan anggapan tersebut sering dibesar-besarkan.
“Memadatkan waktu makan bukanlah obat untuk semua masalah kesehatan,” ujar Rajan dalam podcast Well Enough, seperti dikutip dari The Independent.
Baca juga: Bukan Hanya Menurunkan Berat Badan, Intermittent Fasting Juga Pengaruhi Otak dan Usus
Cara kerja puasa yang lebih masuk akal
Ilustrasi diet intermittent fasting. Dokter bedah NHS mengingatkan bahwa diet intermittent fasting bisa berdampak negatif pada kondisi tubuh tertentu dan tidak selalu aman dilakukan.
Rajan menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya sudah melakukan puasa secara alami saat tidur malam.
Manfaat puasa bisa diperoleh dengan memperpanjang jarak antara makan malam dan sarapan. Contohnya, berhenti makan setelah pukul 19.00 lalu sarapan pukul 09.00 atau 10.00.
Pola ini sudah menciptakan puasa sekitar 14–15 jam tanpa harus melewatkan makan secara ekstrem.
Baca juga: 5 Kesalahan Saat Intermittent Fasting, Bikin Gagal Turun Berat Badan
Manfaat yang masih terbatas
Beberapa penelitian menunjukkan puasa bisa membantu meningkatkan bakteri baik di usus. Bakteri tersebut berperan menjaga lapisan usus dan membantu membersihkan sisa sel rusak.
Puasa juga bisa memudahkan seseorang mengatur asupan kalori karena jumlah waktu makan lebih sedikit.
“Membagi kalori ke dalam dua kali makan sering terasa lebih mudah dibanding tiga kali makan,” kata Rajan.
Baca juga: Diet Intermittent Fasting Ampuh Turunkan Berat Badan dan Gula Darah, Benarkah?
Kelompok yang perlu menghindari intermittent fasting
Rajan mengingatkan bahwa puasa berkala bisa berdampak negatif pada kelompok tertentu.
Ibu hamil, perempuan dengan menstruasi berat, anak-anak, lansia, serta orang yang mengonsumsi obat rutin perlu berhati-hati.
Puasa juga dinilai tidak cocok bagi penderita diabetes, gangguan hormon, gangguan metabolisme, atau masalah penyerapan nutrisi.
“Dalam kondisi tersebut, puasa justru bisa menjadi langkah yang keliru,” ujar Rajan.
Risiko kesehatan yang tidak banyak dibahas
Sebuah studi besar di Amerika Serikat dan China menemukan risiko serius dari puasa ekstrem. Orang yang hanya makan dalam waktu kurang dari delapan jam per hari memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung lebih tinggi.
Risiko ini lebih besar dibandingkan mereka yang makan dalam rentang waktu 12 hingga 14 jam.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa membatasi waktu makan terlalu ketat bisa berdampak buruk bagi kesehatan jantung.
Penelitian lain di India pada hewan percobaan menunjukkan intermittent fasting dapat memengaruhi hormon estrogen.
Perubahan hormon ini berpotensi berdampak pada fungsi reproduksi. Efek yang diamati meliputi gangguan siklus menstruasi, kesuburan, kehamilan, dan proses menyusui.
Rajan menilai hal ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi perempuan usia produktif.
Baca juga: Jadwal Diet Intermittent Fasting dan Manfatnya
Mitos detoks dan kesehatan usus
Intermittent fasting juga sering dikaitkan dengan klaim detoksifikasi. Rajan menegaskan bahwa detoks bukan terapi medis yang diakui.
Menurutnya, istilah detoks sering hanya menjadi cara pemasaran dari kebiasaan sederhana. Menghindari makan terus-menerus memberi waktu bagi sistem pencernaan membersihkan sisa makanan yang bisa menyebabkan kembung.
Rajan juga membahas klaim bahwa puasa bisa menyembuhkan leaky gut. Ia menegaskan bahwa leaky gut bukan diagnosis medis resmi.
Kondisi ini sering menjadi tanda dari masalah lain, seperti IBS atau penyakit radang usus. Gejalanya bisa berupa perut kembung, nyeri, diare, sembelit, hingga asam lambung.
Intermittent fasting bukan pola makan yang aman untuk semua orang. Setiap orang memiliki kondisi tubuh dan kebutuhan yang berbeda.
Pola makan sehat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dan tidak mengikuti tren semata.
Baca juga: 6 Diet Terpopuler Sepanjang 2024, Intermittent Fasting Masih Favorit
Tag: #intermittent #fasting #bukan #solusi #untuk #semua #orang #risiko #tersembunyi