Diet Keto Bantu Turunkan Berat Badan, tapi Studi Ungkap Risiko Tersembunyi
Ilustrasi diet. Studi terbaru menemukan diet keto memang menahan kenaikan berat badan, tetapi berpotensi menimbulkan masalah metabolik jika dijalani lama.(Freepik)
20:05
30 Januari 2026

Diet Keto Bantu Turunkan Berat Badan, tapi Studi Ungkap Risiko Tersembunyi

Diet keto dikenal luas sebagai pola makan yang efektif membantu menurunkan berat badan.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat tersebut bisa disertai risiko tersembunyi bagi kesehatan metabolik jika diet keto dijalani dalam jangka panjang.

Studi dari University of Utah Health yang diterbitkan di dalam jurnal Science Advances menemukan, meski berat badan lebih terkontrol, diet keto dapat memicu gangguan pada hati dan pengaturan gula darah.

Temuan ini memunculkan peringatan agar diet keto tidak dijalani tanpa pertimbangan matang.

Baca juga: Wanita ini Menyesal Jalani Diet Keto, kok Bisa?

Berat badan terkontrol, masalah metabolik muncul

Diet keto merupakan pola makan tinggi lemak dan sangat rendah karbohidrat yang membuat tubuh membakar lemak sebagai sumber energi utama.

Dalam studi jangka panjang ini, para peneliti mengamati tikus jantan dan betina yang menjalani diet keto selama lebih dari sembilan bulan.

Hasilnya, tikus yang menjalani diet keto mengalami kenaikan berat badan yang lebih rendah dibandingkan tikus dengan pola makan tinggi lemak ala Barat.

Namun, kontrol berat badan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Baca juga: Diet Keto Baik untuk Jantung, Benarkah?

Lemak menumpuk di hati

Ilustrasi organ hati. Studi terbaru menemukan diet keto memang menahan kenaikan berat badan, tetapi berpotensi menimbulkan masalah metabolik jika dijalani lama.Shutterstock/Shidlovski Ilustrasi organ hati. Studi terbaru menemukan diet keto memang menahan kenaikan berat badan, tetapi berpotensi menimbulkan masalah metabolik jika dijalani lama.

Asisten Profesor Nutrisi dan Fisiologi Integratif University of Utah Health, Amandine Chaix, PhD, menjelaskan bahwa asupan lemak dalam jumlah besar tetap harus diproses oleh tubuh.

“Jika asupan lemak sangat tinggi, lemak itu akan berakhir di darah dan hati,” ujar Chaix.

Penelitian menunjukkan bahwa tikus yang menjalani diet keto mengalami penumpukan lemak di hati atau fatty liver disease, kondisi yang sering dikaitkan dengan gangguan metabolik serius.

Dengan kata lain, diet keto tidak melindungi tubuh dari risiko penyakit hati berlemak meski berat badan tidak meningkat.

Baca juga: Diet Keto, Diet Terburuk di Tahun 2022, Mengapa?

Tikus jantan mengalami dampak lebih berat

Peneliti juga menemukan perbedaan dampak berdasarkan jenis kelamin. Tikus jantan mengalami kerusakan hati yang lebih parah disertai gangguan fungsi hati.

Sementara itu, tikus betina tidak menunjukkan penumpukan lemak hati yang signifikan.

Tim peneliti menyatakan masih diperlukan studi lanjutan untuk memahami mengapa respons tubuh berbeda antara jantan dan betina.

Baca juga: Diet Oatmeal Lebih Cepat Turunkan Kolesterol, Ini Hasil Penelitiannya

Masalah baru saat karbohidrat dikonsumsi lagi

Selain berdampak pada hati, diet keto juga memengaruhi kemampuan tubuh mengatur gula darah.

Pada awalnya, kadar gula darah dan insulin tikus memang menurun. Namun, masalah muncul saat karbohidrat kembali dikonsumsi.

“Ketika tikus diberi karbohidrat lagi, kadar gula darah mereka melonjak tinggi dan bertahan lama,” kata Chaix.

Kondisi ini terjadi karena sel pankreas tidak melepaskan insulin dalam jumlah yang cukup.

Efek diet keto bisa berbalik, tapi tetap perlu waspada

Peneliti menemukan bahwa gangguan pengaturan gula darah membaik setelah tikus dihentikan dari diet keto. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian dampak metabolik bersifat reversibel.

Meski demikian, pemimpin studi Molly Gallop, PhD, menegaskan bahwa hasil penelitian pada hewan tidak selalu sama pada manusia.

“Saya menyarankan siapa pun yang ingin menjalani diet keto untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan,” ujar Gallop.

Baca juga: Robert F. Kennedy Jr. Ikuti Diet Karnivora, Ini Dampaknya pada Kesehatan

Perlu pertimbangan sebelum menjalani diet keto

Diet keto awalnya dikembangkan sebagai terapi medis untuk epilepsi, bukan sebagai pola makan jangka panjang bagi masyarakat umum.

Popularitasnya dalam dunia diet membuat banyak orang fokus pada penurunan berat badan, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.

Temuan ini menunjukkan bahwa angka timbangan tidak selalu mencerminkan kesehatan metabolik secara menyeluruh.

Diet keto mungkin efektif dalam jangka pendek, tetapi perlu dijalani dengan hati-hati, terutama jika dilakukan dalam waktu lama.

Baca juga: Cara Sopir Truk Ini Berhasil Turun Berat Badan 34 Kg Tanpa Diet Ketat

Tag:  #diet #keto #bantu #turunkan #berat #badan #tapi #studi #ungkap #risiko #tersembunyi

KOMENTAR