Tubuh Gemuk Juga Berhak Olahraga Tanpa Ejekan, Kenali Gerakan Gendut Berlari
Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya. (Instagram @topiksudirman)
15:05
30 Januari 2026

Tubuh Gemuk Juga Berhak Olahraga Tanpa Ejekan, Kenali Gerakan Gendut Berlari

“Kalau melihat orang bertubuh gemuk mencoba berlari, jangan diejek,” pesan singkat berulang kali disampaikan Topik Sudirman (33), saat ditemui Kompas.com di Surakarta, Rabu (28/1/2026).

Baginya, keberanian untuk mulai bergerak saja sudah merupakan perjuangan besar bagi pemilik tubuh besar.

Pesan tersebut bukan sekadar imbauan. Ia lahir dari pengalaman pribadi Topik, musisi sekaligus kreator konten asal Solo, yang pernah merasakan langsung bagaimana niat berolahraga justru disambut cibiran.

Saat mulai berlari pada April 2025, berat badan Topik masih berada di angka 128 kilogram.

Ia mengunggah aktivitas larinya ke media sosial dengan niat mendokumentasikan proses memperbaiki kesehatan. Namun, yang datang justru komentar bernada merendahkan.

“Kok lari pace-nya besar banget? Itu jalan atau lari?” kenangnya, menirukan beberapa komentar yang ia terima.

Alih-alih berhenti, Topik memilih bertahan. Dari situlah ia menyadari bahwa ketakutan terbesar orang bertubuh gemuk untuk berolahraga bukan semata soal fisik, melainkan rasa takut dinilai dan dipermalukan di ruang publik.

Baca juga: Olahraga Tanpa Takut Dihakimi, Gendut Berlari Buka Ruang Aman bagi Obesitas

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
Instagram @gendutberlari Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Melawan stigma tubuh gemuk dan olahraga

Kesadaran tersebut mendorong Topik menginisiasi gerakan Gendut Berlari pada Agustus 2025 bersama sejumlah rekan.

Ia menegaskan, Gendut Berlari bukan komunitas eksklusif, melainkan gerakan terbuka yang bisa diikuti siapa pun.

“Ini bukan soal siapa paling cepat atau paling kuat. Ini soal berani bergerak,” ujar Topik.

Gendut Berlari hadir untuk melawan stigma lama bahwa olahraga, khususnya lari, hanya pantas dilakukan oleh mereka yang bertubuh ramping, atletis, dan serba siap.

Menurut Topik, narasi tersebut justru membuat banyak orang dengan obesitas enggan memulai, padahal olahraga adalah hak semua orang.

Baca juga: Berawal dari Hujatan, Topik Sudirman Inisiasi Movement Gendut Berlari

Ruang aman untuk bergerak

Dalam setiap kegiatan yang digelar, Gendut Berlari mengedepankan konsep ruang aman (safe space). Tidak ada target pace, tidak ada tekanan jarak, dan tidak ada kompetisi.

Kegiatan lari dan jalan santai yang digelar di Solo, Sragen, hingga Sukoharjo diikuti peserta dengan kemampuan beragam. Bahkan, tim sweeper disiapkan untuk mendampingi peserta di barisan paling belakang.

“Kalau hanya bisa jalan, ya jalan. Tidak ada yang ditinggalkan,” tegas Topik.

Pendekatan ini penting karena banyak orang dengan obesitas merasa minder, takut cedera, atau takut menjadi bahan tontonan saat berolahraga di ruang publik.

Melalui Gendut Berlari, mereka mendapatkan dukungan moral untuk bergerak sesuai kemampuan tubuhnya.

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
dok. Ida Setya/Kompas.com Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Edukasi olahraga yang realistis

Selain membangun gerakan, Topik juga aktif mengedukasi soal olahraga yang aman bagi tubuh besar. Ia menekankan pentingnya persiapan, mulai dari pemilihan sepatu dengan bantalan yang tepat, pengaturan napas, hingga kombinasi lari dan jalan untuk mengurangi risiko cedera.

Topik menolak pendekatan instan dan promosi produk pelangsing yang menjanjikan hasil cepat tanpa proses. Menurutnya, tubuh besar justru membutuhkan pendekatan yang lebih sabar dan terukur.

Kini, berat badan Topik telah turun menjadi 93 kilogram. Namun, ia menegaskan penurunan berat badan bukan tujuan utama gerakan ini.

Baca juga: Dari 128 Kg ke 93 Kg, Cerita Diet Topik Sudirman yang Berawal dari Ejekan

Gerakan yang terus bertumbuh

Di media sosial, akun Instagram @gendutberlari telah diikuti lebih dari 13 ribu orang. Kegiatan offline-nya pun kerap diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang usia dan profesi.

Tidak ada batasan berat badan, usia, atau target tertentu. Siapa pun yang ingin bergerak tanpa takut diejek dipersilakan ikut.

Bagi Topik, keberhasilan terbesar Gendut Berlari bukan soal angka di timbangan, melainkan ketika semakin banyak pemilik tubuh besar berani muncul dan bergerak.

“Kalau melihat orang gendut berlari, itu artinya dia sedang berjuang. Tolong jangan diejek,” tutup Topik.

Tag:  #tubuh #gemuk #juga #berhak #olahraga #tanpa #ejekan #kenali #gerakan #gendut #berlari

KOMENTAR