Mengapa Ada Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban? Ini Penjelasan Psikologisnya
Bukan cuma sensitif, kebiasaan merasa jadi korban bisa berakar dari pola psikologis tertentu. Ini penjelasan para psikolog.(dok. freepik)
17:05
28 Januari 2026

Mengapa Ada Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban? Ini Penjelasan Psikologisnya

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah bertemu seseorang yang kerap merasa disakiti, dikecewakan, atau diperlakukan tidak adil oleh orang-orang di sekitarnya.

Hampir setiap konflik atau perbedaan pendapat selalu merasa bahwa dirinya adalah korban.

Sekilas, sikap ini sering dianggap sebagai tanda seseorang terlalu sensitif atau mudah tersinggung.

Namun, dikuitp dari Psychology Today, psikiater Grant Hilary Brenner MD, DFAPA memandang fenomena ini dengan cara yang jauh lebih kompleks.

Rasa “selalu jadi korban” ternyata bisa berakar pada pola psikologis tertentu yang terbentuk dari pengalaman hidup, cara berpikir, hingga struktur kepribadian.

Mentalitas korban dalam psikologi

Dalam kajian psikologi, terdapat istilah tendency for interpersonal victimhood (TIV), yaitu kecenderungan seseorang untuk secara konsisten memandang dirinya sebagai korban dalam hubungan interpersonal.

Individu dengan kecenderungan ini bukan hanya merasa pernah disakiti, tetapi menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari identitas diri.

Artinya, perasaan menjadi korban tidak muncul sesekali, melainkan berulang dan menetap.

Situasi netral atau konflik kecil pun dapat dimaknai sebagai bentuk ketidakadilan terhadap dirinya.

Rasa selalu merasa bersalah bukam tanpa sebab

Psikolog menjelaskan bahwa mentalitas korban tidak muncul begitu saja.

Salah satu faktor yang kerap dikaitkan adalah pengalaman emosional di masa lalu, seperti pola pengasuhan yang penuh kritik, relasi yang tidak aman, atau pengalaman ditolak secara berulang.

Pengalaman-pengalaman ini dapat membentuk cara seseorang menafsirkan dunia: bahwa lingkungan cenderung mengancam dan orang lain mudah melukai dirinya.

Akibatnya, individu menjadi sangat waspada terhadap tanda-tanda penolakan, bahkan ketika belum tentu ada niat buruk dari pihak lain.

Baca juga: Sering Terpapar Berita Buruk Picu Kelelahan Mental, Ini Tips dari Psikolog

5 zodiak ini disebut makin tertutup seiring bertambah usia. Menyendiri jadi cara menjaga energi, tapi tetap penting menjaga koneksi bermakna.freepik 5 zodiak ini disebut makin tertutup seiring bertambah usia. Menyendiri jadi cara menjaga energi, tapi tetap penting menjaga koneksi bermakna.

Kaitannya dengan kepribadian narsistik

Penelitian psikologi modern juga menemukan hubungan antara mentalitas korban dan ciri kepribadian narsistik, khususnya narsisisme yang bersifat rentan (vulnerable narcissism).

Berbeda dengan gambaran narsisis yang percaya diri dan dominan, narsisisme rentan ditandai dengan rasa tidak aman, sensitivitas tinggi terhadap kritik, dan kebutuhan besar akan pengakuan.

Individu dengan ciri ini mudah merasa tidak dihargai dan cenderung memaknai peristiwa sosial sebagai bentuk ketidakadilan terhadap dirinya.

Dalam konteks ini, perasaan menjadi korban bukan sekadar keluhan, melainkan cara psikologis untuk melindungi harga diri.

Dengan menempatkan diri sebagai korban, individu dapat menghindari rasa bersalah dan mempertahankan citra diri sebagai pihak yang “benar”.

Empati yang selektif

Menariknya, mentalitas korban juga sering disertai dengan empati yang selektif.

Seseorang sangat peka terhadap penderitaannya sendiri, tetapi kesulitan melihat sudut pandang atau kesulitan orang lain.

Hal ini bukan berarti individu tersebut tidak memiliki empati sama sekali, melainkan fokus emosionalnya lebih terpusat pada pengalaman pribadi.

Akibatnya, konflik mudah berlarut-larut karena setiap pihak merasa tidak dipahami.

Mengapa sulit keluar dari pola ini?

Mentalitas korban dapat memberikan “keuntungan psikologis” jangka pendek, seperti simpati, dukungan, atau pembenaran sosial.

Namun, dalam jangka panjang, pola ini justru merugikan karena menghambat refleksi diri dan pertumbuhan emosional.

Seseorang yang terus merasa menjadi korban cenderung sulit melihat peran dirinya dalam suatu konflik.

Hubungan sosial pun menjadi rapuh karena dipenuhi kecurigaan, kekecewaan, dan rasa tidak aman.

Pentingnya membedakan perasaan dan fakta

Psikolog menekankan bahwa membahas mentalitas korban bukan berarti menyangkal adanya penderitaan nyata. Banyak orang memang benar-benar mengalami ketidakadilan, kekerasan, atau trauma.

Namun, penting untuk membedakan antara pengalaman traumatis yang valid dan pola psikologis yang membuat seseorang terus-menerus merasa teraniaya, bahkan dalam situasi yang relatif aman.

Kesadaran ini disebut menjadi langkah awal untuk keluar dari siklus emosi yang melelahkan.

Baca juga: 5 Tips Persiapan Kesehatan dan Mental Selama Bulan Puasa

Jalan menuju pemahaman diri

Mengenali pola merasa selalu menjadi korban dapat membuka ruang refleksi yang sehat.

Dengan bantuan profesional, individu dapat belajar mengelola sensitivitas emosional, memperluas perspektif, dan membangun hubungan yang lebih seimbang.

Pada akhirnya, memahami alasan psikologis di balik mentalitas korban bukan untuk memberi label, melainkan untuk membantu seseorang berdamai dengan dirinya sendiri dan membangun relasi yang lebih sehat dengan orang lain.

Tag:  #mengapa #orang #yang #selalu #merasa #jadi #korban #penjelasan #psikologisnya

KOMENTAR