9 Hal yang Perlu Diperhatikan Ibu Hamil sejak Trimester Pertama
Ilustrasi ibu hamil.(Dok. PAFI)
18:20
24 Januari 2026

9 Hal yang Perlu Diperhatikan Ibu Hamil sejak Trimester Pertama

- Kehamilan merupakan proses panjang yang membutuhkan perhatian sejak awal hingga menjelang persalinan. 

Perubahan fisik, hormonal, hingga mental membuat ibu hamil perlu memahami apa saja yang harus dipersiapkan agar kehamilan berjalan sehat dan aman.

Dokter Spesialis Obgyn, dr. Gorga Udjung, Sp.OG., menekankan, perhatian terhadap nutrisi, gaya hidup, hingga pemeriksaan medis tidak hanya penting di akhir kehamilan, tetapi justru sejak trimester pertama.

“Dari awal, nutrisi yang baik itu penting, apalagi kehamilan ini 9 bulan, panjang. Jadi pasti kita perlu edukasi,” katanya dalam acara Newborn & Breastfeeding Class Blackmores Lacta Well, di Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).

9 hal yang perlu diperhatikan ibu hamil

1. Penuhi nutrisi penting sejak trimester pertama

Dr. Gorga menjelaskan bahwa pada trimester pertama, pemenuhan nutrisi tertentu perlu mendapat perhatian khusus karena berkaitan dengan fase awal pembentukan organ janin. Pada fase ini, kekurangan zat gizi bisa berdampak pada proses perkembangan awal bayi.

Salah satu nutrisi utama yang perlu dipastikan kecukupannya sejak awal kehamilan adalah asam folat, yang berperan penting dalam pembentukan sistem saraf janin. 

“Asam folat itu minimal kadarnya 400 mikro. Jadi sebenarnya dari makanan juga cukup. Tapi kadang-kadang kan ada yang nutrisinya kurang, makanya perlu kita konsumsi dari asam folat,” tutur dr. Gorga.

Selain asam folat, kalsium juga menjadi nutrisi penting selama kehamilan. Dr. Gorga menyarankan agar kebutuhan kalsium ibu hamil tercukupi sekitar 1.000 miligram per hari. 

Ia juga menyoroti vitamin D yang kerap kali luput diperhatikan oleh ibu hamil. Padahal, kekurangan vitamin D berdampak pada peningkatan risiko alergi terhadap bayi saat lahir.

2. Atur pola makan di trimester pertama 

Trimester pertama sering kali diwarnai keluhan mual dan muntah akibat perubahan hormon. Kondisi ini membuat ibu hamil sulit makan dalam porsi besar.

Oleh sebab itu, dr. Gorga menyarankan pola makan sedikit tetapi sering untuk membantu tubuh tetap mendapat asupan nutrisi.

Ia menjelaskan, perubahan hormon membuat pergerakan lambung melambat sehingga rasa mual lebih mudah muncul.

“Makan tetap harus, mungkin sedikit-sedikit, tapi sering. Itu penting untuk mengatasi mual muntahnya,” saran dr. Gorga.

3. Hindari makanan mentah, rokok, dan alkohol

Pada trimester pertama, pembentukan organ janin, seperti wajah, otak jantung, dan usus sedang terjadi. 

Maka dari itu, ibu hamil disarankan menghindari makanan mentah atau setengah matang, rokok, dan alkohol karena paparan zat berbahaya berisiko mengganggu proses tersebut.

“Kalau ada yang masuk yang kurang baik, itu bisa mengganggu pembentukan. Jadi enggak sempurna, ada cacat, itu kita hindari,” ucap dr. Gorga.

4. Istirahat cukup dan olahraga ringan 

Dokter Spesialis Obgyn, dr. Gorga Udjung, Sp.OG. saat ditemui setelah acara Newborn & Breastfeeding Class Blackmores Lacta Well, di Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).
KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Dokter Spesialis Obgyn, dr. Gorga Udjung, Sp.OG. saat ditemui setelah acara Newborn & Breastfeeding Class Blackmores Lacta Well, di Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).

Istirahat yang cukup menjadi faktor penting selama kehamilan. Dr. Gorga merekomendasikan ibu hamil tetap tidur 8-9 jam per hari dan boleh menambah tidur siang selama 30 menit bila diperlukan.

Selain itu, olahraga ringan juga dapat dilakukan apabila ibu memungkinkan. Hal ini berguna untuk menjaga sirkulasi darah dan menghindari obesitas.

Tidak hanya fisik, ibu hamil juga perlu menjaga kesehatan emosional agar mereka tidak stres selama masa kehamilan.

“Karena kadang-kadang kalau misalnya stres, dia bisa timbul kontraksi. Atau bayinya jadi kecil, itu juga bisa kalau stres berlebihan,” ungkap dr. Gorga.

5. Lakukan skrining kehamilan sesuai trimester

Skrining sejak trimester pertama penting untuk mendeteksi kelainan bawaan. Pemeriksaan seperti USG dan NIPT (Non-Invasive Prenatal Testing) bisa menjadi pilihan untuk mendeteksi down syndrome dan kelainan genetik lainnya.

Pada trimester kedua, skrining lanjutan juga diperlukan. Bedanya, skrining pada fase ini lebih berfokus pada pemeriksaan struktur dan organ janin yang sudah berkembang, seperti jantung, otak, tulang belakang, dan organ dalam lainnya. 

Pemeriksaan ini biasanya dilakukan melalui USG lanjutan atau skrining fetomaternal pada usia kehamilan sekitar 20-24 minggu, untuk mendeteksi kemungkinan kelainan organ yang tidak selalu terlihat pada trimester pertama.

6. Perhatikan kesehatan gigi di trimester kedua

Trimester kedua juga menjadi waktu yang tepat untuk memeriksa kesehatan gigi. Dr. Gorga menjelaskan bahwa infeksi gigi dapat memicu peradangan yang berdampak pada kehamilan.

“Kadang-kadang pasien saya yang datang tuh kontraksi, keram-keram, sering flek. Kita kasih antikontraksi kok masih juga. Rupanya inflamasi radangnya dari gigi,” jelas dr. Gorga.

Pemeriksaan gigi dilakukan pada trimester kedua karena biasanya pada trimester pertama ibu hamil masih fokus dengan adaptasi mual dan muntah, sementara pada fase ketiga, ibu mulai beralih ke persiapan melahirkan.

7. Waspadai tekanan darah dan risiko preeklamsia

Menurut dr. Gorga, risiko preeklamsia mulai muncul setelah usia kehamilan 20 minggu.

Oleh sebab itu, pemeriksaan tekanan darah perlu dipantau lebih ketat sejak memasuki trimester kedua.

Ia mengingatkan bahwa kenaikan tekanan darah tidak selalu terjadi perlahan, melainkan bisa muncul secara mendadak meski sebelumnya normal.

8. Perhatikan gerakan janin di trimester ketiga

Pada trimester ketiga, ibu hamil disarankan lebih peka terhadap gerakan janin karena hal tersebut mencerminkan kondisi bayi di dalam kandungan. 

Setiap bayi memiliki pola aktif yang berbeda, sehingga ibu perlu mengenali kebiasaan gerak janinnya.

“Gerakan janin yang baik itu 8–10 kali dalam 2 jam. Kalau misalnya kurang, cek aja ke dokter,” kata dr. Gorga.

9. Kenali tanda-tanda persalinan

Menjelang persalinan, ibu hamil perlu memahami perbedaan antara kontraksi palsu dan kontraksi persalinan, agar tidak terlambat mencari pertolongan medis. 

Dr. Gorga menjelaskan bahwa kontraksi palsu umumnya tidak teratur dan intensitasnya tidak semakin kuat. Berbeda dengan kondisi tersebut, kontraksi persalinan memiliki pola yang lebih jelas dan konsisten.

“Kontraksi palsu itu pendek-pendek dan hilang kalau dibawa istirahat. Kalau sudah cukup bulan, kontraksinya reguler dan makin kuat,” jelasnya.

Adapun dr. Gorga menyarankan ibu hamil segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kontraksi muncul secara teratur, terasa semakin nyeri, atau disertai tanda lain seperti keluarnya lendir bercampur darah.

Tag:  #yang #perlu #diperhatikan #hamil #sejak #trimester #pertama

KOMENTAR