Tanda Utama Orang Narsistik, Lebih Sensitif dari yang Dibayangkan
Ilustrasi Narsistik. 10 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang Narsis Tinggi Menurut Psikologi(canva.com)
16:05
23 Januari 2026

Tanda Utama Orang Narsistik, Lebih Sensitif dari yang Dibayangkan

- Narsisme kerap dipahami sebagai sikap penuh percaya diri, haus pujian, dan ingin selalu menjadi pusat perhatian. 

Namun, penelitian terbaru justru mengungkap sisi lain yang tak kalah penting, yaitu individu narsistik ternyata juga memiliki sensitivitas emosional yang sangat tinggi, terutama terhadap penolakan sosial.

Inilah yang menjadi tanda utama seseorang memiliki kecenderungan narsistik, sebagaimana diungkap dalam studi terbaru yang dimuat di Journal of Personality and Social Psychology.

Tanda utama seseorang narsistik

Terlalu sensitif terhadap penolakan sosial

Tanda paling kuat seseorang memiliki kecenderungan narsistik adalah sensitivitas berlebihan terhadap isyarat penolakan atau pengucilan sosial. 

Penelitian yang melibatkan berbagai survei dan eksperimen di Jerman, Inggris, Swiss, Selandia Baru, dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa individu narsistik justru lebih sering merasa dikucilkan dibandingkan orang lain.

“Orang dengan tingkat narsisme yang tinggi cenderung sangat peka dalam menangkap sinyal sosial, terutama yang berkaitan dengan status dan penerimaan,” tulis para peneliti dalam laporannya, dilansir Best Life, Jumat (23/1/2026).

Christiane Büttner, penulis utama studi tersebut, menjelaskan meski dikenal memiliki rasa percaya diri yang tinggi, individu narsistik ternyata selalu memantau lingkungannya dengan curiga.

“Temuan kami sangat mendukung bahwa individu narsistik melaporkan pengalaman pengucilan lebih sering, terutama mereka yang memiliki sisi antagonistik dan kompetitif yang kuat,” ungkapnya.

Mereka cepat menafsirkan sikap netral orang lain sebagai penolakan, sindiran, atau bentuk pengabaian. 

Inilah yang membuat mereka merasa sering disisihkan, bahkan dalam situasi yang sebenarnya biasa saja.

Kombinasi antara rasa superior dan rasa rentan

Narsisme bukan hanya soal keagungan diri atau perasaan lebih unggul dari orang lain. Penelitian ini menegaskan bahwa narsisme juga berkaitan erat dengan kerentanan emosional.

Menurut Psychiatry.org, gangguan kepribadian narsistik ditandai oleh pola perasaan superior, kebutuhan akan kekaguman, dan kurangnya empati. Tapi, di balik itu semua, tersimpan ketakutan besar akan penolakan.

“Meskipun narsisme berakar pada grandiositas, individu ini juga bisa mengalami sensitivitas emosional yang tinggi,” tulis para peneliti.

Seseorang bisa merasa dirinya luar biasa, tetapi di saat yang sama sangat mudah terluka secara emosional. 

Mereka dapat berganti antara perasaan hebat dan perasaan terancam dalam waktu singkat. Ketika tidak mendapat validasi sosial, rasa percaya diri yang tampak kuat bisa runtuh, berganti menjadi perasaan tersingkir atau tidak dihargai.

Mengedepankan mentalitas sebagai korban

Karena sering merasa dikucilkan, individu narsistik berisiko mengembangkan mentalitas korban. Mereka cenderung memaknai dinamika sosial sebagai bukti bahwa orang lain tidak menghargai keberadaan mereka.

Büttner menjelaskan, pengalaman dikucilkan ini bisa memicu rasa sakit sosial yang sangat dalam. Ketika hal itu berulang, mereka merasa dunia tidak adil terhadap mereka.

Masalahnya, respons emosional ini justru bisa memperkuat sifat narsistik itu sendiri.

“Alih-alih meredakan konflik, respons mereka justru bisa membuat mereka semakin narsistik,” kata Büttner.

Inilah yang menciptakan siklus berulang, seperti merasa dikucilkan, bersikap defensif atau agresif, lalu kembali dikucilkan oleh lingkungan. 

Siklus ini membuat relasi sosial dengan individu narsistik sering terasa melelahkan dan penuh ketegangan.

Risiko kesehatan mental yang mengintai

Penelitian ini juga menyoroti bahwa narsisme berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental lain. 

Büttner mengingatkan, narsisme tidak berdiri sendiri, melainkan sering beririsan dengan kecemasan, depresi, hingga kecenderungan menyakiti diri sendiri.

“Narsisme telah dikaitkan dengan kecemasan, depresi, dan bahkan perilaku melukai diri,” ujarnya.

Maka dari itu, pendekatan terhadap individu narsistik seharusnya tidak semata-mata bersifat menghakimi. 

Di tempat kerja, lingkungan sosial, maupun dalam terapi, dibutuhkan komunikasi yang terstruktur dan empatik agar dinamika ini tidak terus memperparah konflik.

“Menangani dinamika ini secara terarah, baik di lingkungan kerja, terapi, maupun hubungan sosial, dapat membantu mengurangi dampak negatif pengucilan, baik bagi individu narsistik maupun orang-orang di sekitarnya,” tambah Büttner

Penelitian ini memperluas pemahaman tentang narsisme. Seseorang narsistik bukan hanya haus pujian dan ingin terlihat unggul, tetapi juga sangat sensitif terhadap penolakan. 

Sensitivitas inilah yang menjadi tanda utama, sekaligus kunci untuk memahami mengapa hubungan dengan individu narsistik sering terasa rumit.

Alih-alih hanya melihat mereka sebagai pribadi yang egois, studi ini mengingatkan bahwa di balik sikap dominan tersebut, terdapat kerentanan emosional yang kuat dan kebutuhan besar akan rasa diterima.

 

Tag:  #tanda #utama #orang #narsistik #lebih #sensitif #dari #yang #dibayangkan

KOMENTAR