Mengapa Korban Child Grooming Tidak Menyadari Dirinya Dimanipulasi?
Ilustrasi anak. Child grooming dapat muncul dalam berbagai bentuk manipulasi yang kerap tidak disadari, sehingga orangtua perlu memahami pola-pola yang sering terjadi.(Freepik)
22:10
20 Januari 2026

Mengapa Korban Child Grooming Tidak Menyadari Dirinya Dimanipulasi?

- Dalam banyak kasus child grooming, korban baru menyadari dirinya dimanipulasi setelah hubungan tersebut berakhir.

Selama hubungan berlangsung, tidak sedikit korban merasa, relasi yang dijalani terjadi secara alami, bahkan dianggap sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang.

Otak anak dan remaja belum matang

Kondisi ini sangat berkaitan dengan perkembangan psikologis anak dan remaja yang belum matang sepenuhnya. Pada usia tersebut, kemampuan mengambil keputusan, membaca risiko, serta menilai relasi masih dalam proses berkembang.

“Secara teori psikologis, otak manusia itu belum berkembang sempurna sampai umur 25 tahun,” ujar Psikolog klinis dan Co-Founder KALM, Karina Negara, dalam sesi live talkshow Edukasi Child Grooming dan Dukungan Mental, Senin (19/1/2026).

Kondisi tersebut membuat remaja belum memiliki kematangan yang cukup, dalam mengambil keputusan besar. Secara psikologis, manusia masih berada dalam fase perkembangan hingga usia dewasa muda. 

Dengan kata lain, kemampuan berpikir jangka panjang, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengenali relasi tidak sehat belum berjalan optimal.

Dalam kondisi ini, anak dan remaja cenderung mengambil keputusan berdasarkan emosi, rasa nyaman, dan kebutuhan akan penerimaan, bukan pada penilaian rasional yang utuh.

“Artinya kemampuan mengambil keputusan belum baik, belum bijaksana,” kata Karina.

Perbedaan usia memengaruhi posisi korban

Karina menilai, dalam relasi antara orang dewasa dan remaja, selalu ada ketimpangan kuasa. 

Perbedaan usia membawa perbedaan pengalaman, kematangan emosi, serta kemampuan membaca situasi. Dalam posisi ini, orang dewasa memiliki kendali yang jauh lebih besar dibanding korban.

Menurutnya, kondisi tersebut sering dimanfaatkan oleh pelaku. Akibatnya, korban tidak merasa sedang dikontrol, melainkan merasa sedang diajak, ditemani, atau dipahami.

“Yang lebih berkuasa di sini kan si dewasanya. Orang dewasa ini bisa ambil keuntungan karena anak remaja masih labil,” terang Karina.

Secara emosional, remaja dan anak masih berada dalam fase pencarian jati diri. Mereka cenderung membutuhkan pengakuan, validasi, dan rasa diterima.

Dalam kondisi tersebut, perhatian dari orang dewasa mudah diterjemahkan sebagai bentuk kepedulian.

“Remaja itu masih gampang dimanipulasi. Masih labil, masih galau,” ujar Karina.

Menurutnya, kebutuhan emosional inilah yang membuat korban lebih mudah mengikuti keinginan pelaku tanpa menyadari bahwa dirinya sedang dipengaruhi.

Tahap awal grooming seperti hubungan yang wajar

Salah satu alasan utama korban tidak sadar dirinya dimanipulasi adalah karena proses grooming tidak dilakukan dengan paksaan sejak awal.

Relasi dibangun secara perlahan, penuh perhatian, empati, dan kedekatan emosional. Dalam fase ini, korban justru merasa aman.

“Awalnya sering kali kelihatannya baik-baik saja. Justru baik-baiknya, manis-manisnya, love bombing-nya, itu bagian dari grooming,” ucap Karina.

Korban tidak melihat adanya ancaman, karena relasi terasa wajar dan menyenangkan pada awalnya. Hal itu membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya sudah dimanipulasi.

Karina menegaskan, anak atau remaja memang wajar apabila belum siap membuat keputusan besar dalam relasi.

Ia menilai bahwa kondisi inilah yang membuat korban lebih mengikuti alur hubungan tanpa menyadari konsekuensinya.

“Kemampuan mengambil keputusan belum baik. Secara wajar, anak atau remaja belum bisa mengambil keputusan besar dan keputusan penting dengan bijaksana,” ujarnya.

Tag:  #mengapa #korban #child #grooming #tidak #menyadari #dirinya #dimanipulasi

KOMENTAR